Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu, Lampung, Muhammad Faizin, menyerukan umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan bulan suci Ramadhan. Ia menegaskan bahwa Ramadhan adalah karunia terbesar dari Allah SWT yang harus dimaksimalkan sebagai momentum perbaikan diri dan peningkatan ketakwaan.

Ramadhan: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga

Dalam khutbah Jumat yang disampaikannya, Muhammad Faizin menekankan bahwa ibadah puasa di bulan Ramadhan memiliki tujuan utama membentuk karakter dan ketakwaan. “Menyia-nyiakan Ramadhan akan menghilangkan peluang meraih ampunan Allah,” ujarnya. Oleh karena itu, ia mengajak umat untuk mengisi bulan ini dengan ibadah dan amal kebaikan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Keberhasilan Ramadhan, menurut Faizin, akan terlihat dari perubahan diri menjadi pribadi yang lebih taat dan lebih baik. Ia mengingatkan agar umat menghindari puasa yang hanya sebatas menahan lapar dan dahaga tanpa memperbaiki kualitas iman, akhlak, dan amal ibadah.

“Bisa bertemu kembali dengan Ramadhan kali ini merupakan karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita. Mari, kita maksimalkan nikmat ini dan jangan sampai kita termasuk orang yang menyia-nyiakan Ramadhan,” ajaknya.

Keistimewaan dan Peluang Besar di Bulan Suci

Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa karena Allah melipatgandakan pahala setiap amal kebaikan. Ini menjadikannya momentum tahunan yang sangat berharga untuk membersihkan dosa dan meningkatkan ketakwaan. Faizin mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu,” (HR Muslim).

Ia menjelaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sarana pendidikan ruhani untuk membentuk jiwa yang lebih dekat kepada Allah dengan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. “Jika Ramadhan dilewati tanpa adanya perubahan diri, maka kita telah kehilangan peluang besar yang mungkin tidak akan kita temui kembali,” tegasnya.

Puasa Ramadhan, pada hakikatnya, adalah latihan pengendalian diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin. Ibadah ini mengajarkan kesabaran, kejujuran, keikhlasan, serta kemampuan menahan hawa nafsu. Faizin juga mengutip Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin:

“Puasa itu menahan diri dan meninggalkan (larangan puasa). Puasa pada hakikatnya sebuah rahasia. Tidak ada amal yang tampak padanya. Kalau semua ibadah disaksikan dan dilihat oleh makhluk, ibadah puasa hanya dilihat oleh Allah SWT. Puasa adalah amal batin, murni kesabaran.”

Hindari Kelalaian dan Raih Pintu Ar-Rayyan

Faizin mengingatkan akan bahaya kelalaian dalam mengisi Ramadhan. Banyak umat yang mengetahui keutamaan bulan ini, namun tidak mempersiapkan diri untuk memanfaatkannya secara maksimal. “Penting bagi kita untuk senantiasa memanfaatkan waktu Ramadhan dengan kegiatan yang bernilai ibadah dan menghindari aktivitas yang sia-sia,” pesannya.

Untuk memastikan Ramadhan tidak berlalu sia-sia, umat perlu mempersiapkan diri dengan kesungguhan niat dan kesadaran akan nilai berharganya kesempatan ini. Menetapkan target ibadah, menjaga keistiqamahan amal, serta menjaga hati dan perilaku menjadi ikhtiar penting agar Ramadhan benar-benar membawa perubahan.

Dengan tidak menyia-nyiakan Ramadhan, umat dijanjikan akan meraih pintu khusus bernama Ar-Rayyan di surga, yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang mana orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut pada hari kiamat kelak, dan tidak ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu ketika dikatakan kepada mereka: ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun segera menghadap. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka semua telah masuk, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorang pun yang masuk melewati pintu tersebut,” (HR Al-Bukhari).

Ramadhan: Titik Awal Perubahan dan Berlomba dalam Kebaikan

Muhammad Faizin menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum perubahan diri yang diberikan Allah setiap tahun. Ia mengajak umat untuk menjadikan bulan suci ini sebagai titik awal menjadi pribadi yang lebih taat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama manusia. “Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan Ramadhan,” ajaknya, mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 148:

“Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Ia berharap, Allah senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya agar umat dapat memaksimalkan Ramadhan dan menjadi golongan orang-orang yang bertakwa.