Syekh Muhammad At-Thahir bin Muhammmad bin Muhammad Tahir bin Muhammad bin Muhammad Syazili bin ‘Abdul Qadir bin Muhammad bin ‘Asyur, atau yang lebih dikenal sebagai Syekh Ibnu ‘Asyur, merupakan salah satu ulama besar yang pemikirannya sangat berpengaruh di dunia Islam kontemporer. Karyanya yang paling monumental, kitab tafsir At-Tahrir wat Tanwir, menjadi rujukan penting bagi para ulama dan ahli tafsir di berbagai belahan dunia.

Lahir di Tunisia pada 1296 H (1879 M), tepatnya di lingkungan Al-Marsa, pinggiran utara Tunisia, Jumadil Ula/September, Syekh Ibnu ‘Asyur berasal dari keluarga Al-‘Asyur, keturunan bangsawan Andalusia. Ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nuansa ilmiah, politik, dan reformasi, membentuk fondasi intelektualnya sejak dini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kelahiran dan Lingkungan Ilmiah

Syekh Ibnu ‘Asyur lahir dari keluarga terpandang dan kaya raya. Ayahnya, Syekh Muhammad bin ‘Asyur (1235 H/1815 M – 1284 H/1868 M), adalah seorang Qadhi (hakim) di Hadrah Tunis dan penulis berbagai karya berharga. Kakeknya dari pihak ibu, Syekh Muhammad Al-Aziz Bu’attur, juga seorang ulama dan menteri. Sementara itu, kakek dari pihak ayah menjabat sebagai kepala Qadhi tertinggi di Tunisia. (Fadhil Hasan Abbas, At-Tafsir wal Mufassirun fil ‘Ashril Hadits, jilid III, hlm 295).

Keluarga Ibnu ‘Asyur memiliki perpustakaan-perpustakaan ilmiah, seperti Perpustakaan Al-‘Asyuriyah, yang menyimpan manuskrip langka di bidang sastra, agama, dan hukum. Sejak usia muda, ia menghafal Al-Qur’an secara sempurna (mutqin) dan berbagai matan ilmiah, serta mempelajari bahasa Prancis seadanya. (‘Abir binti ‘Abdullah An-Na’im, Qawa’idut Tarjih Al-Muta’alliqah bin Nash ‘Inda Ibni ‘Asyur, hlm 29).

Jejak Pendidikan di Jami’ Az-Zaitunah

Sejak kelahirannya, Syekh Ibnu ‘Asyur diasuh oleh kakeknya dari pihak ibu, Syekh Al-Aziz Bu’attur. Ia mulai belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an pada usia enam tahun. Pada tahun 1310 H (1892 M), ia bergabung dengan Jami’ Az-Zaitunah (Universitas Zaitunah).

Tanda-tanda kecerdasannya semakin menonjol selama pendidikan di Universitas Zaitunah. Ia berhasil meraih Syahadah At-Tatwi’ (ijazah kelulusan) pada tahun 1317 H/1899 M, dan dianugerahi gelar ‘Adlan Mubraz (Notaris/Ahli Hukum Terkemuka). (Abbas, III/295).

Dari tahun 1900 M hingga 1932 M, Syekh Ibnu ‘Asyur mengabdikan diri sebagai dosen di Jami’ Az-Zaitunah dan Madrasah As-Sadiqi. Ia memulai sebagai dosen tingkat dua, kemudian diangkat menjadi dosen tingkat satu pada tahun 1905 M. Pada tahun 1910 M, ia menjadi anggota pendiri Komite Reformasi Pendidikan Jami’ Az-Zaitunah. (An-Na’im, 29-30).

Karier Yudikatif dan Fatwa

Syekh Ibnu ‘Asyur memasuki ranah peradilan pada tahun 1911 M, menjabat sebagai anggota di Pengadilan Properti (Al-Mahkamah Al-‘Aqariyah) dan sebagai Qadhi (hakim) Mazhab Maliki. Pada tahun 1923 M, ia diangkat menjadi Mufti Mazhab Maliki, lalu pada tahun 1924 M menjadi Mufti Besar (Kabirul Muftin).

Puncak karier yudikatifnya adalah pengangkatan sebagai Syaikhul Islam untuk Mazhab Maliki pada tahun 1932 M. Ia menjalankan semua tugas ini dengan keahlian, ketelitian ilmiah yang langka, integritas, dan pandangan yang baik, menjadikannya otoritas dan rujukan dalam setiap keputusannya. (An-Na’im, 30).

Kepemimpinan di Universitas Zaitunah

Syekh Ibnu ‘Asyur diangkat sebagai Syekh (Rektor) Jami’ Az-Zaitunah dan cabang-cabangnya untuk pertama kalinya pada September 1932 M. Namun, ia mengundurkan diri pada September 1933 M akibat gejolak dan intrik, salah satunya tuduhan tidak benar terkait isu fatwa naturalisasi (pemberian kewarganegaraan).

Ia kembali diangkat menjadi Syekh Jami’ Az-Zaitunah pada tahun 1945 M. Pada tahun 1956 M, ia diangkat menjadi Syekh Agung (Dekan) Fakultas Syariah dan Ushuluddin Az-Zaitunah hingga tahun 1960 M. (An-Na’im, 30).

Kontribusi Intelektual dan Keanggotaan Ilmiah

Syekh Ibnu ‘Asyur dikenal sangat produktif dalam penulisan, penelitian, dan penyusunan karya ilmiah. Ia turut serta mendirikan majalah As-Sa’adah al-‘Uzhma bersama sahabatnya, Syekh Muhammad Al-Khidr Husain, pada tahun 1952 M, yang merupakan majalah Tunisia pertama.

Banyak risalahnya dipublikasikan di Majalah Az-Zaitunah dan berbagai majalah Timur Tengah seperti Huda al-Islam, Al-Manar, Al-Hidayah al-Islamiyyah, Nur al-Islam, dan Majalah Akademi Bahasa Arab di Kairo. Ia juga berkontribusi dalam Mausu’ah Al-Fiqhiyah (Ensiklopedia Fikih) yang diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf Kuwait.

Selain itu, ia melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan Eropa, serta berpartisipasi dalam berbagai pertemuan Islam. Ia menjadi Anggota Koresponden Akademi Bahasa Arab di Kairo pada tahun 1956 M dan Akademi Ilmiah Arab di Damaskus pada tahun 1955 M. (An-Na’im, 31).

Guru-guru yang Membentuk Pemikiran

Syekh Ibnu ‘Asyur memiliki banyak guru yang membentuk keilmuannya melalui pengembaraan ilmu yang panjang. Beberapa guru utama beliau antara lain:

  • Mustafa Ridhwan As-Susi (wafat 1322 H)
  • Ahmad Jamaluddin Al-Faqih (wafat setelah 1323 H)
  • Al-Wazir Muhammad Bu’attur (wafat 1325 H)
  • Umar bin Ahmad bin Ali bin Hasan (dikenal sebagai Ibnus Syaikh, wafat 1329 H)
  • Syekh Muhammad bin Utsman An-Najjar (Abu Abdillah, wafat 1331 H)
  • Shalih bin Muhammad As-Syarif Al-Jazairi (wafat 1338 H)
  • Salim bin Umar Bu Hajib Al-Bambali (wafat 1342 H)
  • Muhammad An-Nakhli Al-Qairawani (wafat 1342 H)
  • Ibrahim bin Ahmad bin Sulaiman Al-Marghani (wafat 1349 H)
  • Muhammad bin Yusuf (wafat 1358 H)

(An-Na’im, 32-34).

Murid-murid Penerus Estafet Ilmu

Syekh Ibnu ‘Asyur telah meluluskan sekelompok ulama besar dan tokoh reformis. Murid-murid beliau yang paling menonjol, diurutkan berdasarkan tahun wafat, meliputi:

  • Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Al-Mustafa bin Makki bin Badis (wafat 1359 H)
  • Muhammad As-Shadiq bin Muhammad As-Syaththi (wafat 1364 H)
  • Zainal ‘Abidin bin Husain (wafat 1377 H)
  • Muhammad bin Khalifah bin Hasan bin Al-Hajj Al-Madani (wafat 1378 H)
  • Abu al-Hasan bin Sya’ban (wafat 1383 H)
  • Muhammad Al-Fadhil (putra Ibnu Asyur, wafat 1390 H)
  • Muhammad al-Basyir bin asy-Syaikh Ahmad bin asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad An-Nifar (wafat 1394 H)
  • Ali bin Mahmud bin Muhammad Al-Khujah (wafat 1402 H)

(An-Na’im, 35-37).

Karya-karya Monumental Syekh Ibnu ‘Asyur

Syekh Ibnu ‘Asyur dikenal sebagai ulama yang sangat produktif, menghasilkan berbagai karya dalam disiplin ilmu. Beberapa karya penting beliau antara lain:

  • Ushūlul Insyā’ wal Khithābah (Dasar-Dasar Komposisi dan Retorika), diterbitkan tahun 1928 M.
  • A Laisash Shubhu bi Qarīb (Bukankah Subuh Sudah Dekat?), diterbitkan tahun 1967 M.
  • Tafsr At-Tahrīr wat Tanwīr, karya terbesar dan paling terkenal beliau, dianggap sebagai ensiklopedia besar dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Diterbitkan tahun 1984 M.
  • Hāsyiyah ‘alat Tanqīh lil Qarāfī (Catatan Kaki atas Kitab At-Tanqih karya Al-Qarafī dalam Ushul Fiqih), diterbitkan tahun 1341 H.
  • Syarh wat Ta’liq ‘ala Qasidatil A’shal Akbar fi Madhil Muhallaq (Penjelasan dan Komentar atas Qasidah Al-A’sha al-Akbar dalam Memuji Al-Muhallaq), diterbitkan tahun 1929 M.
  • Qishshatul Mawlidin Nabawi As-Syarīf (Kisah Maulid Nabi yang Mulia), diterbitkan tahun 1972 M.
  • Kasyful Mughaththa minal Ma’ānī wa Alfāzhil Wāqi’ah fi al-Muwaththa’ (Mengungkap Makna dan Lafazh yang Tersembunyi dalam Kitab Al-Muwatta’), diterbitkan di Tunis.
  • Maqāshidusy Syarī’ah Al-Islāmiyyah (Tujuan-Tujuan Utama Syariat Islam), pertama kali terbit tahun 1946 M.
  • Mūjazul Balāghah (Ringkasan Retorika/Balaghah), diterbitkan tahun 1932 M.
  • An-Nazhar al-Fasīh ‘inda Madhā’iqil Anzhār fīlJāmi’ ash-Shahīh (Pandangan yang Luas di Tengah Kesulitan Pemahaman dalam Al-Jāmi’ ash-Shahīh), diterbitkan tahun 1979 M.
  • Ushūlun Nizhām al-Ijtimā’ī fīl Islām (Dasar-Dasar Sistem Sosial dalam Islam), pertama kali terbit tahun 1985 M.
  • Al-Waqf wa Atsaruhu fīl Islām (Wakaf dan Dampaknya dalam Islam), pertama kali dimuat di majalah Al-Hidāyah Al-Islāmiyyah.

(Abbas, III/303-307).

Akhir Hayat Sang Ulama

Syekh Muhammad at-Tahir bin ‘Asyur wafat pada usia sembilan puluh empat tahun di lingkungan Al-Marsa, dekat ibu kota Tunis, pada hari Ahad, 13 Rajab 1393 H, yang bertepatan dengan 12 Agustus 1973 M. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al-Zallaj di kota Tunis. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi dunia ilmiah, kehilangan salah satu tokoh intelektual paling terkemuka pada abad keempat belas Hijriah. (An-Na’im, 39).