Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada tahun 2026, umat Muslim dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Salah satu persiapan spiritual yang ditekankan adalah saling memaafkan, sebuah tindakan yang disebut sebagai pilihan terbaik demi kebaikan diri sendiri.

Memaafkan, meski seringkali mudah diucapkan, dalam praktiknya tidak selalu mudah dilakukan. Namun, dengan saling memaafkan, seseorang dapat melepaskan beban emosi negatif dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih dan tenang. Hal ini menjadi inti dari khutbah Jumat yang disampaikan oleh Abdul Karim Malik, seorang kolomnis NU Online.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tingkatkan Takwa dan Manfaatkan Waktu Luang

Dalam khutbahnya, Abdul Karim Malik mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. “Pada kesempatan yang baik dan dalam keadaan sehat ini, mari kita manfaatkan waktu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan istiqamah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, agar kita tidak termasuk orang-orang yang lalai terhadap nikmat kesempatan dan kesehatan,” ujarnya.

Ia mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ، اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) darinya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

Takwa, menurutnya, adalah bekal terbaik bagi seorang hamba dalam menghadap Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artinya: “Berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.”

Memaafkan: Perintah Ilahi dan Sunnah Nabi

Dalam kehidupan, setiap individu pasti pernah berbuat salah atau mengalami perlakuan tidak adil. Namun, pilihan untuk menyikapi hal tersebut selalu ada. “Salah satu cara terbaik untuk membersihkan hati dan jiwa adalah dengan saling memaafkan,” jelas Malik. Ia menegaskan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan, melainkan melepaskan beban emosi negatif.

Momen menjelang Ramadhan menjadi sangat relevan untuk membersihkan hati dari emosi negatif yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Sikap saling memaafkan ini merupakan perintah Allah Ta’ala, sebagaimana termaktub dalam surat Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Artinya, Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf (hal yang baik), dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid mengutip sahabat Ikrimah yang menceritakan dialog Nabi Muhammad SAW dengan Jibril terkait ayat tersebut. Nabi bertanya, “Wahai Jibril, apa maksud ayat ini?” Jibril menjawab:

«يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟». قَالَ: «يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَقُولُ هُوَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ»

Artinya: “Wahai Muhammad, Tuhanmu berfirman, yaitu hendaklah engkau menyambung (hubungan) dengan orang yang memutuskan (hubungan denganmu), engkau memberi orang yang tidak memberi (kepadamu), dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu.”

Penjelasan Jibril ini, menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, selaras dengan makna ayat tersebut. Menyambung hubungan adalah wujud pemaaf, memberi kepada yang tidak memberi adalah perbuatan baik, dan memaafkan orang yang menzalimi berarti berpaling dari perilaku orang bodoh.

Memaafkan: Tanda Kekuatan Jiwa

Menjadi pribadi yang pemaaf adalah bagian dari upaya mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah selalu memberikan teladan dalam memaafkan, bahkan ketika beliau sendiri menjadi korban. “Baginda tidak pernah menyimpan dendam atau kebencian, melainkan selalu memilih jalan memaafkan,” kata Malik.

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan lahir dari jiwa yang besar dan hati yang kuat. Orang yang pemaaf, lanjutnya, tidak hanya menang atas orang lain, tetapi juga berhasil mengalahkan hawa nafsunya sendiri yang mendorong untuk marah, membalas dendam, atau merendahkan orang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Artinya, Dan tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. (HR Muslim)

Dengan demikian, memaafkan adalah pilihan terbaik demi kebaikan diri sendiri. Ini adalah langkah penting untuk melepaskan beban emosi negatif dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih dan tulus, khususnya dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan.