Bulan suci Ramadhan tidak hanya menjadi ajang bagi umat Islam untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum krusial untuk meningkatkan amal saleh serta memperbaiki diri dalam menjaga dan merawat lingkungan sekitar. Pesan ini menjadi inti dari Khutbah Jumat yang disampaikan oleh kolomnis NU Online, Alwi Jamalulel Ubab, pada Kamis, 19 Februari 2026.
Ramadhan: Momentum Ibadah dan Perbaikan Diri
Dalam khutbahnya, Alwi Jamalulel Ubab mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan puasa selama sebulan penuh sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Lebih dari sekadar menahan diri dari makan dan minum, bulan ini melatih umat untuk mengatur ritme kehidupan sesuai ajaran Islam.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah: 183).
Ajaran Islam tentang Pelestarian Lingkungan
Islam, sebagai agama yang komprehensif, memiliki aturan yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk bagaimana umatnya menjaga dan merawat lingkungan. Banyak anjuran dalam Islam yang mendorong usaha pelestarian alam.
Salah satu ajaran Rasulullah SAW dalam merawat lingkungan adalah dengan menanam pohon. Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ
Artinya, “Dari Jabir berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon kecuali sesuatu yang dimakan dari pohon tersebut bernilai sedekah. Apa saja yang dicuri darinya bernilai sedekah. Yang dimakan hewan buas darinya bernilai sedekah, juga apa yang dimakan burung dari pohon itu bernilai sedekah. Tidak ada seorang pun yang menguranginya kecuali bernilai sedekah’,” (HR. Muslim).
Larangan Merusak Lingkungan dalam Al-Qur’an
Di sisi lain, Islam juga dengan tegas melarang perbuatan merusak lingkungan, baik lingkungan alam maupun manusia itu sendiri. Larangan ini mencakup segala aspek kehidupan.
Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan,” (QS Al-A’raf: 56).
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, juz 7, halaman 226, menjelaskan bahwa makna ayat tersebut mencakup larangan berbuat kerusakan baik sedikit maupun besar. “Allah melarang berbuat kerusakan baik sedikit maupun banyak terhadap sesuatu yang baik. Perintah ini bersifat umum,” jelasnya.
Adh-Dhahak menambahkan, “maknanya ialah jangan mengotori sumber mata air, dan jangan pula memotong pohon yang sedang berbuah sebab akan menimbulkan kerusakan.”
Kesimpulan dan Ajakan Praktis
Menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian integral dari perintah agama. Dengan melestarikan lingkungan, umat Islam turut menjaga badan, harta, agama, keturunan, serta akal agar dapat menjalankan ibadah kepada Allah dengan maksimal. Kesimpulan khutbah ini menegaskan bahwa merawat lingkungan sama dengan menjaga keamanan dan kenyamanan dalam beribadah.
Umat diajak untuk memulai menjaga lingkungan dari diri sendiri dan orang di sekitar, bahkan dengan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Momentum Ramadhan ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi umat Islam untuk bersama-sama menjaga dan merawat lingkungan sekitar dengan niat menjalankan perintah agama, demi ibadah yang lebih maksimal kepada Allah SWT.

