Hujan, fenomena alam yang kerap kita saksikan, ternyata menyimpan hikmah mendalam dan menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT. Hal ini menjadi inti pembahasan dalam naskah khutbah Jumat yang diterbitkan oleh NU Online pada Kamis, 5 Februari 2026, dan disampaikan oleh Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Dalam khutbahnya, Faizin menekankan bahwa turunnya hujan bukan sekadar proses alamiah, melainkan manifestasi rahmat, wujud kasih sayang, serta tanda kebesaran Allah bagi seluruh makhluk di muka bumi. Melalui air hujan, bumi yang tandus dihidupkan kembali, berbagai jenis tanaman tumbuh subur, serta keberlangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya terjaga.
Meningkatkan Ketakwaan Melalui Refleksi Hujan
Faizin mengawali khutbahnya dengan mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan, menurutnya, adalah landasan utama yang melahirkan sikap taat, ikhlas, dan istiqamah dalam beribadah serta bermuamalah.
“Ketakwaan tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui ketaatan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Faizin. Ia menambahkan bahwa salah satu tanda orang yang bertakwa adalah kemampuannya mengambil pelajaran dari setiap ciptaan Allah, termasuk peristiwa turunnya hujan yang sering kali luput dari perenungan.
Menyikapi frekuensi hujan yang tinggi belakangan ini, Faizin mengajak jamaah untuk memahami dan merenungi fenomena alam tersebut sebagai tanda kekuasaan Allah. Dengan merenungi hujan, keimanan dapat bertambah dan kesadaran akan kuasa Allah di setiap kejadian di muka bumi akan semakin kuat.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 2:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya) kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal: 2).
Dalam ajaran Islam, hujan dimaknai sebagai rahmat yang Allah turunkan kepada seluruh makhluk di bumi. Air hujan adalah sumber kehidupan bagi manusia, hewan, dan tumbuhan. Tanpa hujan, bumi akan kering, tanaman tidak tumbuh, dan kehidupan akan kesulitan. Oleh karena itu, turunnya hujan merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri.
Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura ayat 28:
وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهٗۗ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ ٢٨
Artinya: “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan (Dia pula yang) menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS Asy-Syura: 28)
Waktu Mustajab untuk Berdoa Saat Hujan
Keberadaan hujan juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya. Dalam Islam, ketika hujan turun, umat muslim dianjurkan untuk berdoa karena waktu tersebut termasuk waktu yang mustajab untuk memohon kepada Allah.
Faizin mengutip riwayat dalam Shahih al-Bukhâri, di mana Nabi Muhammad SAW mengucapkan doa saat melihat hujan:
اللَّهُمَّ صَيِّباً نافِعاً
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan (lebat) yang bermanfaat.”
Selain itu, dalam kitab Al-Adzkâr, Rasulullah SAW bersabda:
اِطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ التِقَاءِ الْجُيُوشِ وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ وَنُزُولِ الْغَيْثِ
Artinya: “Burulah manjurnya doa ketika perang berkecamuk, iqamah shalat, dan turunnya hujan.”
Syaikh Zakariya al-Anshari dalam kitab Syarah Minhajut Thulab, menambahkan bahwa disunahkan bagi seorang muslim untuk membaca doa khusus ketika hujan turun, serta diperbolehkan memanjatkan doa apa pun yang diinginkan. Hal ini karena waktu tersebut termasuk salah satu dari empat keadaan di mana doa sangat diharapkan dikabulkan.
Keterangan ini selaras dengan firman Allah dalam QS. An-Naml ayat 60:
اَمَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ حَدَاۤىِٕقَ ذَاتَ بَهْجَةٍۚ مَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُنْۢبِتُوْا شَجَرَهَاۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِۗ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَّعْدِلُوْنَۗ ٦٠
Artinya: “Apakah Zat yang menciptakan langit dan bumi serta yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami menumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah (yang) kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).”
Kesempurnaan Pengaturan Alam oleh Allah
Dalam peristiwa turunnya hujan, kita dapat melihat kebesaran Allah yang mengatur alam dengan sangat sempurna. Allah menurunkan hujan dari tempat yang tinggi, yaitu dari langit, sehingga air dapat menyebar dan mengalir ke seluruh permukaan bumi. Dengan cara ini, air hujan mampu menjangkau berbagai wilayah, mulai dari pegunungan, perbukitan, hingga lembah dan dataran rendah yang sangat membutuhkan air.
“Coba kita bayangkan jika hujan justru diturunkan dari dataran rendah. Air tentu tidak akan bisa mencapai dataran tinggi atau pegunungan. Akibatnya, sebagian wilayah akan kekurangan air, sementara wilayah lain bisa mengalami kerusakan lingkungan,” jelas Faizin. Ia menegaskan bahwa setiap ketetapan Allah selalu memiliki tujuan dan hikmah bagi keseimbangan alam.
Mengakhiri khutbahnya, Faizin mengajak jamaah untuk senantiasa merenungi dan mengambil hikmah dari turunnya hujan. Ia berharap hujan yang turun akan senantiasa menjadi keberkahan dan melindungi umat dari berbagai mara bahaya.
Ia menutup dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Qaf ayat 9:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ ٩
Artinya: “Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.”

