Di balik megahnya Pondok Pesantren Mambaus Sholihin di Gresik, terukir kisah perjuangan dan keteladanan seorang perempuan bernama Nyai Ainiyah Yusuf. Istri dari Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, KH Masbuhin Faqih, ini adalah sosok yang setia mendampingi suaminya sejak masa-masa awal merintis lembaga pendidikan agama tersebut.
Nyai Ainiyah Yusuf lahir pada 30 Oktober 1952 di Desa Suci, Gresik. Ia merupakan putri kedua dari empat bersaudara pasangan Kiai Yusuf Kardi dan Nyai Hj. Masfufah. Dari jalur ibunya, nasabnya dapat ditelusuri hingga Kiai Kholil, seorang kiai alim di Desa Suci yang kini namanya diabadikan sebagai nama salah satu gang di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Awal Perjalanan dan Pengabdian di Langitan
Pendidikan agama pertama Nyai Ainiyah diperoleh langsung dari kedua orang tuanya, sementara pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam Pongangan. Pada usia 16 tahun, tepatnya tahun 1968, ia menikah dengan Kiai Masbuhin Faqih atas perintah Kiai Abdul Hadi Zahid dari Pesantren Langitan, Tuban.
Setelah menikah, pasangan ini berkhidmah dan tinggal di Pondok Langitan. Dalam kondisi serba pas-pasan, Bu Nyai Ainiyah setia menemani sang suami yang saat itu mengemban amanah sebagai ketua pondok (rais aam), abdi ndalem, dan kepala madrasah. Selama di Langitan, keduanya dikaruniai lima orang anak.
Pada tahun 1976, Kiai Masbuhin diperintah gurunya untuk membangun pesantren sendiri. Namun, baru pada tahun 1980, Kiai Abdullah Faqih secara resmi memintanya untuk pulang dan mulai merintis pesantren. Meski demikian, Kiai Masbuhin tetap berkhidmah mengajar di Pesantren Langitan seminggu sekali.
Perjuangan Merintis Pesantren dan Ketelatenan Bu Nyai
Masa-masa perintisan pesantren penuh tantangan. Kiai Masbuhin sempat mencoba berbagai usaha, seperti berjualan minyak tanah, namun selalu gagal. Akhirnya, ia memutuskan untuk fokus mengajar para santri. Peran mencukupi kebutuhan keluarga kemudian diambil alih oleh Bu Nyai Ainiyah.
Agus Muqsith, menantu keempat Bu Nyai, menyaksikan sendiri ketelatenan mertuanya. “Setiap pukul 03.00 dini hari, bahkan terkadang juga pukul 02.00, Bu Nyai duduk di depan kulkas membungkusi es sendiri untuk dijual,” kenangnya. Jauh sebelum pulang ke Suci, Bu Nyai juga membantu suami dengan berjualan nasi bungkus.
Di tengah keterbatasan, Bu Nyai Ainiyah masih sempat menabung. Tabungan tersebut kemudian ia ubah dalam bentuk perhiasan. Perhiasan ini kelak diperuntukkan bagi kepentingan pondok saat dibutuhkan, seperti pembebasan lahan baru atau keperluan lainnya. “Masyhur riwayat di para santri bahwa Bu Nyai pernah memberikan satu kaleng Biskuit yang isinya penuh perhiasan untuk membantu pelunasan tanah demi pembangunan pesantren,” demikian cerita yang beredar di kalangan santri.
Dedikasi untuk Santri dan Keluarga
Selain membantu suami, Bu Nyai Ainiyah juga hadir di tengah-tengah santri dengan memberikan tarbiyah. Ia memperhatikan hal-hal kecil, mulai dari kebersihan, menu makan santri, menu jajanan di kantin pesantren, hingga menjadi imam salat maktubah di pondok putri.
Perhatian Bu Nyai pada hal-hal kecil juga diakui oleh adik iparnya, Nyai Farida. “Ibu Nyai adalah orang yang rajin, kreatif, bersih. Ia tidak pernah bisa melihat tempat kotor. Ada sampah sedikit saja, pasti langsung ia bersihkan,” jelasnya. Bu Nyai juga tidak segan membangunkan santri untuk salat Tahajud, terkadang berkeliling sambil membaca Burdah. Agus Muhammad menyebutkan, “Bu Nyai rutin membaca Burdah setiap pagi.” Bahkan, Ustadzah Zahratus Nasihah, salah satu khadimah ndalem, menambahkan, “Bu Nyai mendawamkan Burdah setiap pagi dan sore hari.”
Perhatian Bu Nyai tidak hanya untuk santri, tetapi juga untuk keluarga besarnya. “Bu Nyai itu hafal hal-hal disukai oleh para putra-putrinya, termasuk menantunya,” cerita Agus Muqsith. Ia mengenang momen indah tentang buah jeruk, buah favoritnya. Setiap ada berkat dari tetangga, Bu Nyai pasti menyisihkan jeruk untuknya. “Jeruknya sisihkan. Jangan dimakan! Jeruk itu buah kesukaan Muqsith. Biar (nanti) kasihkan,” kenang Agus Muqsith mengutip dawuh Bu Nyai.
Bu Nyai juga memberikan perhatian proporsional kepada putra-putrinya. Kepada putrinya yang kesembilan, Neng Hj. Khodijah, ia selalu mengingatkan untuk tidak berlama-lama di Suci saat berkunjung, menyuruhnya segera pulang ke Lamongan karena ada tanggung jawab suami dan anak yang wajib didahulukan. Hal serupa berlaku untuk Neng Hj. Azizah, putri keempatnya yang tinggal di Desa Suci. Lebih dari itu, Bu Nyai akan menanyakan apakah sang suami (Agus Muqsith) sudah makan atau belum, dan jika tidak ada makanan, Bu Nyai akan membawakan makanan untuk dibawa pulang. “Betapa Bu Nyai memperhatikan hal-hal kecil, yang itu didasari (ukuran) syariat! Ia tidak mau mengorbankan hal lain yang lebih utama,” ujar Agus Muqsith.
Bu Nyai Ainiyah juga mengajarkan putra-putrinya untuk selalu menyambung silaturahmi dengan sanak famili, bahkan yang jauh sekalipun. Ia dikaruniai 12 putra-putri, yaitu:
- Agus H. Ahmad Fakhrul Anam
- Agus H. Mohammad Zainul Huda
- Agus. H. Muhamad Ma’ruf
- Neng Hj. Azizah
- Agus H. Ahmad Suhaimi
- Agus H. Mohammad Majduddin
- Neng Hj. Musyafa’ah
- Agus H. Muhammad Anas
- Neng Hj. Khodijah
- Agus Mohammad Qomarul Anam (alm.)
- Agus H. Zakiyul Fuad
- Agus H. ‘Ainun Na’im
Kedermawanan dan Akhir Perjalanan
Di kalangan masyarakat Desa Suci, Bu Nyai Ainiyah dikenal sebagai sosok yang dermawan. Ustadz Arwani, salah satu khadimnya, menuturkan, “Setiap bawaan atau buah tangan yang diberikan kepada Bu Nyai, akan dibalas lebih.” Seorang santri putri senior juga menceritakan bahwa suatu ketika ada tamu yang ingin membayar utang saudaranya yang baru meninggal, namun Bu Nyai menolak. “Sudah tidak usah (dibayar utangnya), saya (sudah) ikhlas. Tak doakan (saudaramu) husnul khatimah,” dawuhnya.
Setiap Ramadan, Bu Nyai bersama para khadimah ndalem selalu sibuk membuat makanan ringan, kue, dan jajanan desa. Khusus pada Rabu Wekasan, lontong bumbu ladan disiapkan untuk dibagikan kepada sanak famili.
Pada 23 Ramadan 1430 H atau 13 September 2009 M, Bu Nyai jatuh sakit stroke. Meski dalam kondisi sakit, ia tetap istiqamah membaca Burdah dan berusaha hadir di tengah-tengah santri saat jamaah salat, meski harus menggunakan kursi roda.
Setelah berjuang menghadapi sakit selama lebih dari tiga tahun dan beberapa kali keluar-masuk rumah sakit, Bu Nyai Ainiyah ingin berkumpul dengan keluarga. Pada 14 Januari 2013, ia menjalani rawat inap di RS Petrokimia Gresik. Namun, kondisinya tidak menunjukkan perkembangan, hingga pada 17 Januari ia dipindahkan ke ruang ICU. Sesuai permintaannya untuk pulang, takdir Allah SWT tiba.
Kecintaan kuat Bu Nyai Ainiyah pada Nabi Muhammad SAW mengantarkannya ke haribaan Allah SWT di bulan kelahiran Nabi, Rabiulawal. Tepat tiga hari setelahnya, pada malam 20 Januari 2013 M atau 8 Rabiulawal 1434 H, ia dipanggil pulang. Kepergiannya meninggalkan 11 putra-putri saleh-salehah yang kini menjadi teladan bagi umat dan santri. Momen kepergiannya yang indah bertepatan dengan momentum haul KH Abdul Hamid Pasuruan, salah satu masyayikh dari tiga jangkar Mambaus Sholihin.

