Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang ditetapkan Allah SWT bagi umat Islam. Untuk memperoleh pahala, ganjaran, dan segala kebaikan yang menyertainya, ibadah ini harus dikerjakan dengan ilmu. Jangan sampai usaha menahan lapar dan dahaga tidak membuahkan hasil apa pun.

Oleh karena itu, menyambut Ramadhan perlu diiringi dengan pemahaman fiqih puasa secara praktis. Pemahaman ini penting agar setiap muslim dapat menjaga keabsahan ibadahnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kewajiban Berpuasa dan Pentingnya Ilmu

Kewajiban berpuasa bagi umat Islam secara umum ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ustadz Muhaimin Yasin, alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat, menekankan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Terdapat syarat, rukun, dan ketentuan yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah dan diterima Allah SWT.

Setiap ibadah yang dikerjakan tanpa ilmu, termasuk puasa Ramadhan, berisiko ditolak. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ruslan dalam kitab Az-Zubad, halaman 4:

وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ # أَعْمَالُهُ مَرْدُودَةٌ لَا تُقْبَلُ

Artinya, “Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amal-amalannya tertolak dan tidak diterima.”

Syarat, Rukun, dan Pembatal Puasa

Agar ibadah puasa diterima, umat Islam perlu memahami syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkannya. Sirajuddin al-Balqini dalam kitab At-Tadrib fil Fiqhis Syafi’i, jilid I, halaman 338-339, menjelaskan lima syarat wajib puasa:

  • Baligh (dewasa)
  • Berakal sehat
  • Beragama Islam
  • Kuat secara fisik melaksanakan puasa
  • Suci dari haid (menstruasi) serta nifas bagi perempuan

Apabila seseorang tidak memenuhi seluruh syarat tersebut, ia tidak diwajibkan berpuasa.

Sementara itu, Abu Syuja’ dalam kitab At-Taqrib, halaman 19, menyebutkan empat rukun puasa yang harus dilaksanakan:

  1. Berniat puasa (dilakukan di malam hari)
  2. Menahan diri dari makan dan minum
  3. Menahan diri dari bersetubuh (dengan istri di siang hari)
  4. Menahan diri dari muntah dengan sengaja

Jika keempat rukun ini terpenuhi, puasa seseorang dapat dianggap sah. Hal-hal yang membatalkan puasa juga tidak jauh dari rukun-rukun tersebut. Abu Syuja’ dalam kitab dan halaman yang sama menjelaskan 10 hal yang membatalkan puasa:

  1. Masuknya sesuatu ke rongga tubuh (al-Jauf) dengan sengaja
  2. Masuknya sesuatu melalui kepala
  3. Masuknya sesuatu ke kemaluan atau dubur
  4. Muntah dengan sengaja
  5. Berhubungan badan dengan sengaja
  6. Keluar mani karena bercumbu
  7. Haid
  8. Nifas
  9. Gila dan pingsan sepanjang hari
  10. Murtad (keluar dari Islam)

Amalan Sunnah Pendukung Puasa

Selain memenuhi syarat dan rukun, mengerjakan amalan-amalan pendukung atau sunnah sangat dianjurkan saat berpuasa. Ibnu Naqib dalam kitab ‘Umdatus Salik wa ‘Uddatun Nasik, halaman 118, menyebutkan banyak sunnah puasa yang dapat dilakukan selama Ramadhan, khususnya di siang hari. Di antaranya:

  • Menyantap sahur di akhir waktu
  • Menyegerakan berbuka
  • Berbuka puasa menggunakan kurma dengan jumlah ganjil
  • Dermawan (banyak bersedekah)
  • Rutin bersilaturahmi
  • Membaca Al-Qur’an
  • I’tikaf di masjid
  • Menghindari ghibah
  • Menghindari kata-kata kotor
  • Menghindari berbohong atau menyebarkan hoaks

Ustadz Muhaimin Yasin menegaskan, pemahaman yang berkaitan dengan fiqih puasa ini penting untuk dimengerti agar ibadah yang dikerjakan mendapatkan ganjaran pahala sesuai dengan usaha. Ia juga menganjurkan umat Islam untuk terus memperdalam ilmu agama dengan mengaji kepada para ustadz dan kiai di sekitar.