Dunia intelektual dan kebudayaan Indonesia kehilangan salah satu pilar utamanya ketika Kiai Haji Agus Sunyoto berpulang pada Selasa pagi, 27 April 2021, di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr. Ramelan, Surabaya. Namun, warisan buah pikirannya, sebuah pembangunan sejarah yang berpihak pada martabat lokal, justru terasa semakin membumi di tengah metode penulisan sejarah modern.
Lahir di Surabaya pada 21 Agustus 1959, Agus Sunyoto bukanlah tipikal akademisi modern. Ketajaman instingnya mulai terasah jauh sebelumnya, yakni pada periode 1984 hingga 1989, saat ia aktif sebagai wartawan di Jawa Pos. Fase hidup ini membentuk cara pandangnya dalam memandang fakta sejarah sebagai narasi yang harus dibuktikan secara empiris.
Mendekonstruksi Sejarah Versi Kolonial
Sumbangan terbesar K.H. Agus Sunyoto bagi bangsa ini adalah keberaniannya dalam melakukan analisis kritis terhadap mitos yang sengaja diciptakan oleh sejarawan seperti Snouck Hurgronje hingga para pengikutnya. Ia secara tegas mengalihkan peranan Islam dalam membentuk identitas Nusantara yang selama ini terpinggirkan. Langkahnya merupakan dekonstruksi besar-besaran terhadap hegemoni sejarah versi kolonial, menelaah secara jeli narasi yang cenderung memutus mata rantai peradaban Islam dengan masa sebelumnya.
Puncak dari kerja kerasnya terjadi pada tahun 2012, ketika K.H. Agus Sunyoto secara resmi menerbitkan magnum opusnya, Atlas Wali Songo. Buku ini tidak hanya memaparkan bukti-bukti empirik Wali Songo, tetapi juga menjadi jawaban telak atas keraguan para sejarawan orientalis selama puluhan tahun yang memposisikan Wali Songo sebagai tokoh fiktif.
Melalui kerja raksasa yang menggabungkan pendekatan arkeologi, sosiologi, hingga data toponimi yang presisi, Agus Sunyoto membuktikan bahwa penyebaran Islam di Jawa dilakukan oleh arsitek-arsitek sosial yang sangat jenius. Salah satu temuan besarnya adalah kepercayaan-kepercayaan sekitar Nusantara seperti Kapitayan tidak dihapus oleh Wali Songo, melainkan dipribumisasi dengan tetap menekankan asas-asas syariat Islam.
Pendekatan Multidisipliner dalam Penulisan Sejarah
Pendekatan K.H. Agus Sunyoto dalam menuliskan sejarah Wali Songo terbilang multidisipliner. Selain berdasarkan manuskrip kuno, ia juga melakukan verifikasi lapangan melalui data toponimi, yakni studi tentang asal-usul nama tempat. Studi ini dilakukan dengan meneliti hubungan antara nama desa, struktur bangunan makam, hingga sisa-sisa reruntuhan permukiman untuk membuktikan eksistensi fisik para tokoh tersebut. Hal ini secara efektif meruntuhkan argumen para orientalis yang menganggap Wali Songo hanyalah personifikasi dari kekuatan mistis tanpa bukti historis yang konkret.
Atas dedikasinya ini, pada Agustus 2014, Atlas Wali Songo dinobatkan sebagai buku terbaik oleh Perpustakaan Nasional. Pengakuan formal ini menegaskan bahwa sejarah Islam Nusantara memiliki rujukan primer yang otoritatif.
Dalam bunga rampai memoar K.NG.H. Agus Sunyoto yang bertajuk Eksemplar Moral dan Intelektual, Gus Ulil Abshar menyebutkan bahwa “Agus Sunyoto adalah seorang sejarawan dengan metode penulisan sejarah alternatif.” Model penulisan ini jauh dari bias modern yang membatasi narasi sejarah pada geografi dan tokoh perkotaan, sehingga peradaban dunia yang ada di pedesaan tidak tersentuh. Selain itu, Agus Sunyoto sangat berlaku adil dalam menarasikan masyarakat Islam tradisional, berbeda dengan sejarawan modern yang menceritakan bahwa penyebaran Islam dimulai dari proses perdagangan.
Peran di Lesbumi PBNU dan Jejak Sastra
Sosok K.H. Agus Sunyoto memang multidimensi. Ketertarikannya pada dunia spiritual dan budaya membawanya terpilih menjadi Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU selama dua periode, yakni pada Muktamar Jombang Agustus 2015 dan berlanjut hingga akhir hayatnya. Di bawah kepemimpinannya, ia merumuskan Sapta Wikrama (Tujuh Strategi Kebudayaan), sebuah turunan yang mengajak kalangan seniman-seniman NU untuk tidak rendah diri di hadapan budaya global.
Tak hanya di jalur organisasi, ia juga menuliskan gagasan sufistiknya melalui jalur sastra, seperti serial novel Suluk Abdul Jalil yang meledak di pasaran sekitar tahun 2003-2005. Karya ini membawa perdebatan Siti Jenar ke ranah publik dengan perspektif yang lebih mendalam.
Jejak langkahnya juga tercatat kuat di Malang. Pada tahun 1994, Kyai Haji Agus Sunyoto mendirikan pesantren dengan nama Tarbiyatul Arifin. Pesantren asuhan Kyai Agus ini mengajarkan para santri untuk mengaji kitab kuning sebagaimana pesantren pada umumnya. Akan tetapi, yang menjadikan pesantrennya istimewa adalah para santri digembleng untuk memahami sejarah Nusantara secara mendalam, dengan harapan menumbuhkan kecintaan yang kuat terhadap tanah air.
Kepergian K.H. Agus Sunyoto di usia 61 tahun meninggalkan ruang kosong yang besar di panggung sejarah Indonesia. Barangkali, Indonesia membutuhkan Agus Sunyoto berikutnya yang memiliki kehendak kuat untuk meyakinkan dunia bahwa Indonesia memiliki sejarah lokal yang nyata. Kini, meskipun sang pendekar sejarah itu telah beristirahat panjang, spirit K.H. Agus Sunyoto tetap hidup dalam setiap lembar naskah dan setiap situs yang ia selamatkan dari kelalaian ingatan bangsa.

