Sosok Dr. H. Fahmi Dja’far Saifuddin mungkin tidak asing bagi kalangan Nahdlatul Ulama (NU), terutama mereka yang akrab dengan anekdot mendiang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur pernah memiliki klasifikasi unik tentang tingkat kecintaan seseorang terhadap NU, yang puncaknya ia sebut sebagai “orang NU gila”.

Dalam esai berjudul Fahmi D. Saifuddin dan Keterikatannya pada NU, Gus Dur menulis, “Kalau memikirkan NU sebelum jam 12 malam, itu tandanya orang gila organisasi. Tapi kalau memikirkan NU lewat jam 12 malam, itu tandanya orang NU gila.” Sosok “orang NU gila” yang dimaksud Gus Dur tak lain adalah H. Fahmi Dja’far Saifuddin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Alasan di balik julukan tersebut cukup menggambarkan dedikasi Fahmi. Suatu hari, ia pernah mengajak Gus Dur menghadiri sebuah acara NU di Tanjung Priok pada pukul 01.00 dini hari. Momen ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti “kegilaannya” dalam berkhidmah untuk organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.

Jejak Keluarga dan Masa Sulit

Keterikatan Fahmi yang begitu besar pada NU, menurut Gus Dur, kemungkinan besar dipengaruhi oleh latar belakang keluarga dan pendidikannya di pesantren. Ia adalah putra pertama dari sepuluh bersaudara pasangan KH Saifuddin Zuhri dan Nyai Hj Siti Solichah. Ayahnya merupakan tokoh NU yang pernah menjabat sebagai menteri agama, dan hampir seluruh hidupnya didarmabaktikan untuk NU, senantiasa menganggap kepentingan negara sebagai kepentingan NU, dan begitu sebaliknya.

Lahir di Baledono, Krajan, Purworejo pada 18 Oktober 1942, Fahmi kecil turut merasakan pahitnya masa pendudukan Jepang hingga kedatangan kembali tentara Belanda pasca-kemerdekaan. Bahkan, dalam peristiwa Agresi Militer II pada Desember 1948, saat keluarga Kiai Saifuddin Zuhri mengungsi dari Desa Baledono menuju Karangjati, Fahmi sempat dikabarkan terlepas dari rombongan.

KH Saifuddin Zuhri mengenang momen tersebut dalam bukunya Berangkat dari Pesantren: “Tiba-tiba datanglah seorang Hizbullah bernama Amir dari Desa Ngemplak dengan menuntun Fahmi, anakku yang ketriwal hampir hilang itu. Ia diketemukan Amir di tengah arus para pengungsi yang hendak menuju Yogya.”

Perjalanan Pendidikan dan Aktivisme

Pada tahun 1951, keluarga Kiai Saifuddin pindah ke Semarang. Fahmi, yang saat itu berusia hampir sembilan tahun, menempuh pendidikan di Pesantren Kaliwungu Kendal dan MI Nahdlatul Ulama Pengukuran Semarang. Ia kemudian melanjutkan ke SMP Institut Indonesia di Semarang dan SMP Perguruan Taman Siswa Gading Yogyakarta, sembari nyantri di Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Tahun 1959, ia hijrah ke Jakarta dan menyelesaikan pendidikan di SMA Sumbangsih Setiabudi Jakarta Pusat. Pada 1962, Fahmi diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Selama kuliah, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan menjadi Ketua PC DKI Jakarta yang pertama. Ia juga mendampingi Zamroni sebagai Sekretaris Umum PP PMII periode 1967-1970 dan terlibat dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

Arsitek Transformasi Kultural NU

Sebagai salah satu tokoh di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Fahmi memiliki kapasitas sebagai penghubung antara generasi tua dan muda. Ia menjabat Ketua PBNU selama tiga periode (1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999) di bawah kepemimpinan Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU.

Periode ini menjadi krusial karena menandai transformasi kultural NU, dari sebelumnya partai politik kembali ke Khittah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan. Fahmi, bersama Gus Dur dan tokoh muda NU lainnya, terlibat dalam Majelis 24 dan Tim Tujuh yang merumuskan gagasan “Pemulihan Khittah”. Gagasan ini diterima luas dan disahkan dalam Muktamar ke-27 NU di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo, pada 8-12 Desember 1984.

Pada tahun 1986, sebagai Ketua PBNU Bidang Pengembangan SDM, Fahmi bersama Abdullah Syarwani, Said Budairy, dan Tosari Widjaja merintis berdirinya Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) NU. Sekjen PBNU 1989-1994, H M Ichwan Sam, menuturkan bahwa tugas utama Lakpesdam kala itu adalah penelitian, pelatihan pengurus, dan perintisan perpustakaan NU.

Lakpesdam merancang tiga program dasar:

  • mengembangkan kualitas organisasi,
  • mengembangkan keterlibatan NU dalam program pembangunan nasional,
  • meningkatkan kemandirian sosial-ekonomi masyarakat.

Fahmi menjabarkan bahwa melalui program-program ini, NU dapat menggulirkan berbagai agenda turunan, baik kajian maupun pelatihan keterampilan.

Dokter Berjiwa Sosial dan Akademisi Berprestasi

Dalam kapasitasnya sebagai seorang dokter, Fahmi juga memanfaatkannya untuk membantu perjuangan generasi muda NU. Selama beberapa tahun, saat membuka praktik di Jalan Pramuka Jakarta, ia kerap didatangi anak-anak PMII. Jika pasiennya adalah anggota PMII, Fahmi tidak mau dibayar. Bahkan, seperti diceritakan Ketua PP IPNU 1963-1970, H Asnawi Latief, Fahmi terkadang menyumbang mereka untuk membeli obat, uang jalan, atau bantuan kegiatan PMII.

Fahmi meraih gelar Master of Public Health dari The Johns Hopkins University Amerika Serikat, serta pernah kuliah singkat di University of Michigan dan University of Texas. Ia juga terpilih sebagai President The Asia Pacific Academic Consortium for Public Health. Dedikasinya di dunia akademik terbukti dengan terpilihnya sebagai Dosen Teladan Tingkat Universitas Indonesia (UI) dan Tingkat Nasional tahun 1982. Ia ikut merintis Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI dan menjabat Dekan FKM UI selama tiga periode.

Di ranah birokrasi, Fahmi pernah mengemban amanah sebagai Asisten Menko Kesra bidang Kesehatan, Agama, Kependudukan, KB, dan Lingkungan Hidup atas permintaan Menko Kesra saat itu, Soepardjo Roestam, kepada Presiden Soeharto. Selain itu, ia juga ditunjuk sebagai anggota Dewan Riset Nasional (DRN) dan Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional (BPKN).

Warisan Intelektual dan Penghargaan Anumerta

Selain kiprahnya yang luas, Fahmi juga dikenal sebagai seorang dokumenter NU, mewarisi bakat ayahnya. Jika sang ayah mendokumentasikan NU dalam tulisan, Fahmi merekamnya dalam banyak kaset pita, mengkliping, memfoto, dan membuat notulen berbagai kegiatan NU. Semua dokumen tersebut disimpan rapi.

KH Cholil Bisri, ayah dari Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, menyebut dokumentasi milik Fahmi ini ibarat harta karun. “Gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi NU (dan bangsa ini), barangkali telah terekam dengan rapi di kaset-kasetnya yang tentu tak terbilang banyaknya. Saya punya keyakinan, penerusnya nanti akan berminat mentranskripnya, lalu menjabarkan dalam konsep-konsep konkret yang dapat dilaksanakan. NU ke depan sangat menghajatkan apa yang telah dikumpukannya dengan tekun dan ikhlas itu,” ujarnya.

Fahmi juga dikenang karena kemampuannya membuat bagan untuk memudahkan perumusan masalah, yang oleh teman-temannya disebut “bulkonah” (bulatan, kotak, dan tanda panah).

Banyak yang bertanya mengapa Fahmi, dengan kapasitas akademisnya yang memadai, belum menyandang gelar profesor. Rupanya, kendala fisik dan kesehatan menjadi faktor besar. Pada Januari 2002, ia mendapat surat dari Dekan FKUI yang menyatakan akan dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh FKM. Namun, sebelum penganugerahan itu terlaksana, H. Fahmi Dja’far Saifuddin wafat pada Ahad, 3 Maret 2002, dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Rais Aam PBNU 1991-1992 KH Ali Yafie mengungkapkan rasa kehilangannya: “Saya benar-benar mengharapkan bahwa sosok Pak Fahmi, yang sejak dalam usia mudanya telah berperan maksimal untuk suatu tugas dan pengabdian di organisasi dengan penuh tanggung jawab serta keteguhannya dalam memegang prinsip, sebisa mungkin dapat menjadi percontohan bagi generasi muda, terutama di lingkungan NU… Dalam hal ini, saya sungguh merasa kehilangan atas kepergian beliau sebagai sahabat yang juga dapat menjadi teladan dalam banyak sisi kehidupan.”