KH. Bisri Mustofa (1915–1977) dikenal sebagai salah satu tokoh sentral Nahdlatul Ulama dan figur nasional pada abad ke-20. Namanya harum sebagai ulama aktivis yang gigih dalam pergerakan nasional, sekaligus cendekiawan yang produktif menelurkan karya-karya keilmuan.
Salah satu mahakarya monumentalnya adalah Tafsir Al-Ibriz, sebuah tafsir Al-Qur’an yang ditulis menggunakan bahasa Jawa Pegon. Melalui karya ini, Kiai Bisri diakui sebagai salah satu mufasir terkemuka dari kalangan Nahdlatul Ulama.
Perjalanan Awal dan Pendidikan Sang Ulama
Kiai Bisri Mustofa lahir pada tahun 1915 M di Kampung Sawahan Gang Palen, Rembang, Jawa Tengah. Beliau adalah putra dari pasangan H. Zainal Mustofa dan Chodijah, dengan nama kecil Mashadi. Mashadi merupakan anak pertama dari empat bersaudara, yaitu Mashadi, Salamah (Aminah), Misbach, dan Ma’shum. Setelah menunaikan ibadah haji, nama Mashadi kemudian diganti menjadi Bisri Mustofa.
Pada tahun 1923, H. Zainal mengajak Kiai Bisri kecil untuk menunaikan ibadah haji bersama rombongan keluarga. Namun, takdir berkata lain; setelah ibadah haji selesai, ayah Kiai Bisri wafat sebelum sempat kembali ke tanah air, sebagaimana dicatat Achmad Zainal Huda dalam Mutiara Pesantren: Perjalanan Khidmah KH. Bisri Mustofa (2011, hlm. 8–10).
Sekembalinya ke Rembang, Kiai Bisri sempat didaftarkan ke sekolah Belanda, HIS (Hollandsch-Inlandsch School), oleh kakak tirinya, H. Zuhdi. Namun, Kiai Cholil Kasingan segera meminta H. Zuhdi membatalkan pendaftaran tersebut. Kiai Cholil berpendapat bahwa “belajar di sekolah milik penjajah Belanda hukumnya haram.” Selain itu, beliau juga khawatir Bisri kecil akan memiliki watak seperti penjajah Belanda. Akhirnya, Bisri kecil bersekolah di Sekolah Ongko 2, sekolah rakyat bagi pribumi, dan menyelesaikan pendidikannya selama tiga tahun (Achmad Zainal Huda, hlm. 12).
Selain pendidikan formal, Kiai Bisri juga mendalami ilmu agama di Pesantren Kasingan, Rembang, di bawah bimbingan Kiai Cholil. Ia juga menimba ilmu dari Syekh Ma’shum Lasem, ulama besar di pesisir utara Jawa yang merupakan sahabat Kiai Hasyim Asy’ari dan turut mendirikan Nahdlatul Ulama. Kiai Bisri muda juga melakukan tabarrukan kepada Kiai Dimyati Tremas di Pacitan, sehingga sanad keilmuannya tersambung dengan jaringan ulama Nusantara (Moch Taufiq Ridho, KH Bisri Mustofa: Jejak Kebangsaan Kiai Pesisiran, 2025, hlm. 2).
Menikah dan Menuntut Ilmu di Tanah Suci
Pada tahun 1935, Kiai Bisri yang berusia 20 tahun dinikahkan oleh Kiai Cholil dengan putrinya, Ma’rufah. Dari pernikahan ini, Kiai Bisri dan Ma’rufah dikaruniai delapan orang anak: Cholil, Mustofa, Adieb, Faridah, Najichah, Labib, Nihayah, dan Atikah (Achmad Zainal Huda, hlm. 11–22).
Merasa ilmunya belum cukup, pada tahun 1936 Kiai Bisri kembali berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menimba ilmu kepada para ulama di sana. Dengan bekal seadanya, ia berangkat bersama dua rekannya, Suyuthi Cholil dan Zuhdi. Selama sekitar satu tahun di Mekah, Kiai Bisri belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya KH. Bakir, Syekh Umar Chamdan Al-Maghribi, Syekh Maliki, Sayyid Amin, Syekh Hasan Masysyath, Sayyid Alawi, dan Kiai Abdul Muhaimin.
Pada tahun 1937, setelah setahun menimba ilmu, Kiai Bisri diperintahkan oleh Kiai Cholil untuk segera pulang ke tanah air. Ia kemudian kembali ke Rembang dan membantu mertuanya mengasuh pesantren di Kasingan (Moch Taufiq Ridho, hlm. 3).
Kiai Penyair dan Politikus Ulung
Setelah wafatnya Kiai Cholil, Kiai Bisri menggantikan posisinya mengajar di Pondok Pesantren Kasingan. Namun, pesantren tersebut bubar pada masa pendudukan Jepang. Kiai Bisri kemudian melanjutkan perjuangan pendidikan pesantren dengan mendirikan Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin di Jalan Leteh, Rembang.
Menurut Kiai Sahal Mahfudh, “Kiai Bisri Mustofa merupakan sosok yang luar biasa pada zamannya. Bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena daya tarik, daya simpatik, dan daya pikatnya yang memukau siapa saja yang berhadapan dengan beliau.”
Selain itu, Kiai Bisri juga dikenal sebagai penyair yang mahir menggubah syair dari bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa, sehingga mudah dipahami masyarakat. Di antara syair gubahannya adalah Ngudi Susilo dan Tombo Ati (Moch. Taufiq Ridho, hlm. 5).
Sebagai seorang kiai pengasuh pesantren, Kiai Bisri juga menorehkan jejak sebagai politikus yang disegani. Sebelum Nahdlatul Ulama keluar dari Masyumi, beliau merupakan aktivis Masyumi yang gigih berjuang. Setelah NU menyatakan diri keluar dari Masyumi, Kiai Bisri pun meninggalkan partai tersebut dan melanjutkan perjuangannya di tubuh Nahdlatul Ulama.
Pada Pemilu 1955, Kiai Bisri terpilih menjadi anggota Konstituante sebagai wakil dari Partai Nahdlatul Ulama. Setelah Dekrit Presiden tahun 1959 membubarkan Dewan Konstituante dan membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), beliau ditunjuk menjadi anggota MPRS dari kalangan ulama.
Konsisten dengan perjuangannya, pada tahun 1971 Kiai Bisri kembali terpilih menjadi anggota MPR dari daerah Jawa Tengah. Ketika pemerintah Orde Baru menerapkan kebijakan fusi partai politik, Nahdlatul Ulama bergabung ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sejak saat itu, Kiai Bisri juga bergabung dan melanjutkan perjuangannya di PPP.
Pada tahun 1977, Kiai Bisri menjadi salah satu calon legislatif PPP dari Jawa Tengah. Namun, kurang dari satu minggu menjelang berakhirnya masa kampanye, tepatnya pada hari Rabu, 17 Februari 1977, Kiai Bisri Mustofa dipanggil oleh Allah SWT (Ahmad Zainul Huda, hlm. 87).
Tafsir Al-Ibriz: Manifestasi Pemikiran Sang Mufasir
Kiai Bisri merupakan ulama yang sangat produktif dalam berkarya. KH. Cholil Bisri menjelaskan bahwa “jumlah seluruh karya Kiai Bisri Musthofa kurang lebih mencapai 176 buah.” Karya-karyanya ditulis dalam berbagai bahasa, termasuk Jawa dengan huruf Arab Pegon, Indonesia dengan huruf Arab Pegon, Indonesia dengan huruf Latin, serta beberapa karya dalam bahasa Arab.
Salah satu karya monumental beliau adalah Tafsir Al-Ibriz. Tafsir ini ditulis menggunakan bahasa Jawa Pegon dan menjadi manifestasi pemikiran Kiai Bisri dalam menjelaskan Al-Qur’an kepada masyarakat.
Misnawati dalam jurnalnya menjelaskan bahwa Tafsir Al-Ibriz memiliki karakteristik unik. Keunikan tersebut terlihat dari metode penerjemahannya yang menggunakan dua langkah:
- Pertama, Kiai Bisri memberikan makna gandul dengan menerjemahkan setiap kosakata berdasarkan aspek nahwu, sharaf, dan lughawi, sementara ayat Al-Qur’an ditulis di bagian tengah. Keunikan lainnya terlihat dari penggunaan istilah khas pesantren seperti utawi, kelawan, iki, iku, ing ndalem, dan sebagainya.
- Kedua, Kiai Bisri menafsirkan sekaligus menerjemahkan ayat Al-Qur’an secara menyeluruh dengan menggunakan bahasa Jawa yang ditempatkan di bagian samping lembaran kitab.
Tafsir Al-Ibriz memiliki corak kebahasaan dan sosial kemasyarakatan. Penjelasannya disampaikan dengan cara yang memudahkan pembaca memahami isi tafsir, dengan bahasa yang lugas dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Selain itu, tafsir ini juga memadukan dimensi fiqih dan tasawuf dalam penjelasannya (Misnawati, Pemikiran KH. Bisri Musthofa dan Tradisi Kultural Jawa dalam Tafsir Al-Ibriz, 2023).
Sebagai penutup, Kiai Bisri Mustofa adalah teladan yang patut dicontoh generasi masa kini, baik dalam produktivitas maupun kebermanfaatannya bagi masyarakat. Beliau tidak hanya dikenal sebagai politikus yang berjuang untuk Nahdlatul Ulama, tetapi juga sebagai ulama yang sangat produktif dalam menghasilkan karya-karya keilmuan.

