Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri, seorang ulama besar Nahdlatul Ulama (NU), dikenal luas bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai seorang antropolog. Julukan ini tidak berlebihan, mengingat dedikasinya dalam mengamati keragaman manusia serta menuangkannya dalam berbagai karya tulis.

Karya-karya Saifuddin Zuhri, baik dalam bentuk buku maupun artikel, menjadi bukti keseriusannya dalam mendokumentasikan kehidupan, adat istiadat, dan kepercayaan masyarakat, khususnya dalam konteks dunia pesantren.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Jejak Pemikiran Sang Penulis Prolifik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), antropologi didefinisikan sebagai ilmu tentang manusia, mencakup asal-usul, aneka ragam bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya di masa lampau. Definisi ini sangat relevan dengan kiprah Kiai Saifuddin.

Beberapa bukunya seperti Berangkat dari Pesantren, Guruku Orang-orang dari Pesantren, Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalis Pendiri NU, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, serta Palestina dari Zaman ke Zaman, menunjukkan kedalaman pengamatannya terhadap berbagai aspek kehidupan manusia.

Kiai Saifuddin memiliki ingatan yang kuat dan kebiasaan rajin mencatat setiap pengalaman, baik dari masa kecil hingga usia senja. Menulis seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya, bahkan saat kondisi fisik tidak lagi prima.

Setahun sebelum wafatnya pada 1986, ia berhasil merampungkan Berangkat dari Pesantren. Dalam pengantar buku tersebut, ia menuliskan tantangan yang dihadapinya:

“Tentu saja, aku harus senantiasa menyadari bahwa kemampuanku menulis tidak lagi sekuat dulu, sebelum aku sakit. Selama ini, setiap kali menulis karangan, baik artikel surat kabar, majalah maupun yang bersifat makalah, aku menempuh sistem yang dalam dunia jurnalistik disebut persklaar yaitu sistem sekali jadi, meletakkan kertas folio 2 atau 3 lembar bersama karbon pada mesin tulis, lalu diketik seketika itu menjadi karangan yang siap jadi. Kini cara tersebut belum mungkin aku lakukan kembali… Tetapi kini karena kondisi kesehatanku, menulis rancangan dengan tangan itu terpaksa aku tempuh,” (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, [Yogyakarta, LKiS: 2013], hal. xi)

Riwayat Singkat dan Perjalanan Intelektual

Prof. KH Saifuddin Zuhri lahir di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1919. Ia merupakan putra dari H. Muhammad Zuhri dan Saiti Saudatun, cucu dari Kiai Asroruddin, seorang ulama berpengaruh di masanya.

Masa kecilnya dihabiskan di kampung yang kental dengan ajaran Islam, di mana pendidikan agama seperti mengaji diselenggarakan di masjid dan langgar. Ia juga menempuh pendidikan formal di MI Manbaul Ulum.

Keinginan kuatnya untuk belajar agama membawanya ke Madrasah Al-Huda NU saat kelas tiga SD. Di sana, ia terinspirasi oleh Ustadz Mursyid dan guru-guru lainnya.

Setelah lulus dari Madrasah Al-Huda NU, pada usia 18 tahun, Saifuddin merantau ke Surakarta. Ia melanjutkan studi di Madrasah Mambaul Ulum dan Madrasah Tsanawiyah Al-Islam Surakarta, serta mengaji kepada ulama seperti KH Imam Ghozali dan KH Masyhud Keprabon.

Rasa ingin tahu yang besar mendorongnya untuk mengikuti berbagai kursus, termasuk jurnalis dan verkooper. Baginya, seorang pendakwah harus memahami kondisi masyarakat, jiwa, organisasi, pendekatan, dan sopan santun untuk menyajikan Islam secara efektif.

Pengalaman ini, ditambah dengan kehadirannya di berbagai acara tokoh pergerakan, mematangkan mental dan kemampuannya.

Dari Aktivis hingga Menteri Agama

Sekembalinya ke Banyumas, Saifuddin Zuhri aktif di Gerakan Pemuda (GP) Ansor, kemudian bergabung dengan Nahdlatul Ulama (NU). Kariernya di NU menanjak dari tingkat bawah hingga menjadi Sekretaris Umum dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kecakapannya juga membawanya mengemban posisi penting di masa perjuangan kemerdekaan, termasuk sebagai Komandan Pasukan Barisan Hizbullah di Jawa Tengah.

Pada Pemilu 1955, KH Saifuddin Zuhri terpilih sebagai anggota Konstituante RI dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Puncaknya, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Agama RI pada periode 1962-1967. Ketika NU berfusi ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ia menjadi Ketua DPP PPP.

Pengakuan atas kemampuannya juga datang dari Presiden Sukarno saat pengangkatannya sebagai Menteri Agama:

“Saudara adalah bukan saja tokoh dalam masyarakat agama Islam.. Saudara adalah pula tokoh bangsa Indonesia seluruhnya yang memang sejak saudara muda sampai sekarang berjasa dalam segala perjuangan daripada bangsa Indonesia itu,” (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, [Yogyakarta, LKiS: 2013], hal. 633)

Mewariskan Kebaikan dan Keteladanan

KH Saifuddin Zuhri beruntung menyaksikan berbagai peristiwa besar, dari masa kolonial Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga aktor penting dalam sejarah bangsa.

Hidupnya diisi dengan kebermanfaatan, selaras dengan ajaran agama, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an:

“Sungguh rahmat Allah dekat dengan orang orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al A’raf : 56)

Serta sabda Nabi Muhammad saw.:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” (HR Ahmad).

Ia tidak hanya berbuat kebaikan, tetapi juga mewariskannya melalui catatan-catatan pengalamannya bertemu tokoh-tokoh besar, terutama para ulama. Catatan ini menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Misalnya, saat ia menggambarkan sosok Hadratussyekh KH Hasyim Asyari:

“Selama Hadratussyekh bercakap dengan putranya, aku amat terpesona akan profil ulama besar ini. Usianya ketika itu (tahun 1940), mendekati 70 tahun.. Bicaranya amat jelas sejelas sasarannya. Sikapnya ramah tamah, air mukanya jernih dan selalu menyenangkan hati para tamunya. Tak jarang Hadratussyekh melayani sendiri para tamunya dengan membawa makanan dan minuman yang dihidangkan, meski ada khadam (pelayan) khusus yang melayani sang tamu. Sikapnya terhadap sesama ulama pun sangat hormat, sekalipun kepada yang lebih muda. Tidak jarang, kepada ulama yang sebaya usianya, apalagi kepada yag lebih tua, ia menganggapnya sebagai guru,” (KH Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, [Yogyakarta, LKiS: 2013], hal. 202)

Ia juga menuliskan karakter sejuk KH A. Wahab Hasbullah yang tetap tenang menghadapi kritik dan ejekan:

“Kami, para pengikut serta pendukungnya, kadang-kadang juga kemropok (panas).. Tapi Kiai Wahab tenang saja, sedikit pun tidak terpengaruh. Jiwanya sangat besar.. Waktu ditanya: Apakah Kiai Wahab tidak marah?” Jawabnya: “Tidak! Ada orang yang jauh lebih mulia dan utama dari saya, dicaci maki bahkan dikatakan gila, tetapi tidak marah, bahkan mendoakan baik. Orang itu adalah Rasulullah saw. Apalah saya, toh orang yang membenci saya belum menuduh saya gila!” (KH Saifuddin Zuhri, Mbah Wahab Hasbullah Kiai Nasionalis Pendiri NU [Yogyakarta, Pustaka Pesantren: 2010], hal. 143)

Prof. KH Saifuddin Zuhri wafat pada 25 Februari 1986 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Namanya kini diabadikan menjadi nama Universitas Islam Negeri (UIN) di Purwokerto, Jawa Tengah. Semoga keteladanannya terus menginspirasi.