Sabtu, 28 Maret 2026, umat Islam telah memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan. Waktu yang terasa begitu cepat berlalu ini menjadi momen krusial untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri, sebagaimana disoroti dalam sebuah khutbah Jumat yang ditulis oleh Muhammad Zainul Mujahid.

Khutbah berjudul “Refleksi Pertengahan Bulan Ramadhan, Sudahkah Kita Memaksimalkannya?” tersebut mengajak jamaah untuk merenungkan sejauh mana ibadah dan amal kebaikan telah dimaksimalkan selama separuh Ramadhan yang telah dilewati.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Memaksimalkan Ramadhan: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Dalam khutbahnya, Muhammad Zainul Mujahid mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah waktu penuh keutamaan, di mana setiap detik seharusnya diisi dengan ketaatan kepada Allah SWT. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:

﴿وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

Serta sabda Rasulullah SAW:

“مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”

Ia juga mengutip ayat lain yang menjadi dasar kewajiban puasa:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Pertanyaan-pertanyaan reflektif diajukan kepada jamaah, seperti “Apakah puasa yang kita jalani sudah benar-benar kita maksimalkan, atau jangan-jangan kita hanya sekadar menahan lapar dan haus saja?” dan “Apakah sudah ada peningkatan, baik dari segi kualitas maupun jumlahnya?”

Sermon tersebut juga menyoroti potensi kelalaian, di mana hari-hari Ramadhan justru masih banyak dihabiskan untuk urusan dunia. “Kita lebih sering menatap layar HP daripada membuka Al-Qur’an, lebih mudah membicarakan keburukan orang lain daripada memperbanyak zikir,” demikian bunyi salah satu bagian khutbah, yang juga menyinggung semangat berburu takjil yang kadang mengalahkan munajat kepada Allah.

Peringatan Keras dari Hadits Nabi

Sebagai motivasi untuk terus mencari keberkahan, khutbah tersebut merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. Hadits ini mengisahkan sahabat Jabir bin Abdillah RA yang menyaksikan Rasulullah SAW mengucapkan “Amin” pada setiap anak tangga mimbar.

Setelah khutbah selesai, Nabi Muhammad SAW menjelaskan:

لَمَّا رَقِيتُ الدَّرَجَةَ الْأُولَى جَاءَنِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ

Artinya: “Ketika aku naik tangga pertama, Malaikat Jibril as. datang kepadaku kemudian berkata, “Celakalah seorang hamba yang menjumpai bulan Ramadhan, namun ketika Ramadhan telah berlalu dia tidak mendapatkan ampunan”. Kemudian aku berkata, “Amin”. Kemudian Jibril as. berkata, “Celakalah seorang hamba yang masih mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya namun hal tersebut tidak dapat memasukkannya ke dalam surga”. Kemudian aku menjawab, “Amin”. Kemudian Jibril as. berkata, “Celakalah seorang hamba yang apabila namamu disebutkan di sisinya tetapi ia tidak bershalawat kepadamu”. Kemudian aku menjawab, “Aamiin”.”

Hadits ini menjadi peringatan keras bagi mereka yang menyia-nyiakan Ramadhan, bulan di mana pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, dan ampunan Allah SWT terbuka luas.

Fase Ampunan di Pertengahan Ramadhan

Khutbah tersebut juga menekankan bahwa umat kini telah memasuki fase kedua bulan Ramadhan, yaitu sepuluh hari kedua yang dikenal sebagai waktu penuh ampunan. Kesempatan untuk memohon ampun kepada Allah SWT sangat terbuka lebar pada masa ini.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (HR al-Khuzaimah dan al-Baihaqi).

Oleh karena itu, khutbah ini menyerukan evaluasi diri. Jika telah maksimal, jamaah didorong untuk istiqamah dan lebih giat beramal. Namun, jika mendapati diri lalai, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri agar tidak kehilangan ampunan dan fadilah Ramadhan.

Muhammad Zainul Mujahid, alumnus Ma’had Aly Situbondo dan pengabdi di Ponpes Manhalul Ma’arif Lombok Tengah, berharap umat diberi kekuatan untuk memaksimalkan keberkahan bulan suci ini.