Peringatan Nuzulul Qur’an, yang menandai turunnya wahyu pertama Al-Qur’an, bukan sekadar momentum seremonial. Lebih dari itu, peristiwa agung ini mengajarkan bahwa kebangkitan manusia dan peradaban dimulai dari perintah Iqra’ atau membaca dan memahami. Spirit ini menjadi pedoman hidup untuk melahirkan masyarakat berilmu, berakhlak mulia, dan mampu mewujudkan peradaban yang unggul.
Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, dalam naskah Khutbah Jumatnya yang berjudul “Khutbah Jumat: Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban” pada Kamis, 5 Maret 2026, mengajak kaum muslimin untuk mendalami makna di balik turunnya Al-Qur’an untuk pertama kalinya.
Iqra’: Fondasi Ketakwaan dan Ilmu
Dalam khutbahnya, Faizin menekankan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, yang bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga ketaatan dalam menerima, memahami, dan mengamalkan wahyu Allah dalam Al-Qur’an. Ia menyoroti fakta bahwa wahyu pertama yang turun bukanlah perintah salat atau zakat, melainkan perintah untuk membaca atau Iqra’.
“Ini menunjukkan bahwa jalan menuju takwa dimulai dari membaca, memahami, dan merenungkan ayat-ayat Allah. Takwa tanpa ilmu akan rapuh. Ilmu tanpa membaca tidak akan tumbuh,” ujar Faizin.
Oleh karena itu, momentum Nuzulul Qur’an menjadi pengingat untuk membangun tradisi membaca, baik membaca Al-Qur’an, membaca tanda-tanda kebesaran Allah (ayat-ayat kauniyah), maupun membaca realitas kehidupan.
Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama
Nuzulul Qur’an adalah peristiwa turunnya wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Kejadian ini berlangsung saat beliau sedang menyendiri di Gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan. Malaikat Jibril datang menyampaikan lima ayat pertama dari Surat Al-‘Alaq:
- اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
- خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ
- اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ
- الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ
- عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (2) Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, (4) yang mengajar (manusia) dengan pena. (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Dua Fase Penurunan Al-Qur’an dan Keunggulannya
Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Kitab At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam dua fase. Fase pertama adalah dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia (Baitul Izzah) sekaligus pada malam Lailatul Qadar. Fase kedua, dari langit dunia ke bumi secara bertahap selama 23 tahun.
Syekh ‘Abdul Qadir Jilani dalam kitab al-Ghunyah li Thâlibi Tharâqil Haqq berpendapat bahwa penurunan Al-Qur’an secara bertahap ini menjadikannya kitab terbaik dibandingkan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan secara langsung. Ia mengutip:
أَنَّ اللهَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ جُمْلَةً وَاحِدَةً وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ مُتَفَرِّقًا. فَقِيْلَ أَيُّهُمَا أَحْسَنُ نُزُوْلًا؟ اَلْقُرْأَنُ أَحْسَنُ
Artinya: “Sungguh, Allah menurunkan Kitab (sebelum Al-Qur’an) satu kali secara keseluruhan, dan menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) secara terpisah. Maka, jika ditanyakan: di mana yang lebih baik turunnya? (Maka jawabannya) Al-Qur’an lebih baik.”
Kelebihan penurunan bertahap ini adalah untuk menghindari tantangan emosional yang berat bagi umat terdahulu yang menerima wahyu secara langsung, yang bahkan membuat mereka berkata: “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.”
Membaca Ayat Qauliyah dan Kauniyah
Sebagai umat yang menerima karunia Kitab Suci terbaik ini, Faizin menegaskan keharusan untuk membaca, memahami, dan mengamalkan perintah Allah dalam Al-Qur’an secara maksimal. Perintah Iqra’ dalam Al-Qur’an bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca situasi dan keadaan dalam kehidupan.
“Perintah ini membawa kita pada dimensi untuk membaca ayat-ayat qauliyah, yakni firman Allah yang tertulis dalam mushaf, dan juga membaca ayat-ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta,” jelas Faizin.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ
Artinya: “Siapa saja yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya ia akan diberi pemahaman dalam agama dan diilhami petunjuk-Nya,” (HR At-Thabarani dan Abu Nu’aim).
Membangun Peradaban dengan Pemikiran dan Pencerahan
Momentum Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi refleksi bagi umat Islam. Faizin mengajak untuk bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah kita membaca Al-Qur’an setiap hari? Sudahkah kita memahami maknanya? Sudahkah kita mengamalkannya dalam kehidupan nyata?” Ia mengingatkan agar Al-Qur’an tidak hanya menjadi hiasan di lemari, tetapi menjadi pedoman hidup.
Perintah Iqra’ adalah pesan abadi, seruan kepada seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Kebangkitan bukan hanya soal jumlah, tetapi kualitas ilmu dan kesadaran dalam menjalani kehidupan.
“Peradaban besar tidak dibangun dengan kebisingan, tetapi dengan pemikiran. Tidak dibangun dengan kemarahan, tetapi dengan pencerahan. Maka marilah kita kembali kepada iqra, membaca, memahami, mengamalkan, dan membangun peradaban. Karena dari satu kata itulah lahir optimisme dalam melanjutkan peradaban mulia,” tutup Faizin.

