Kebahagiaan hidup sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam menjaga hati, sikap, dan hubungan sosial dari berbagai hal negatif yang berpotensi melemahkan. Dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, melatih diri menjadi pribadi yang lebih kuat, disiplin, dan peduli, diharapkan setiap individu dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, penuh semangat, serta terhindar dari berbagai kesulitan yang memberatkan.
Panduan mengenai hal-hal yang perlu dijauhi untuk mencapai ketenangan hidup ini menjadi fokus utama dalam naskah khutbah Jumat berjudul “8 Hal yang Dijauhi Rasulullah, Mulai dari Cemas Hingga Dililit Utang”. Khutbah ini disusun oleh H. Muhammad Faizin, Ketua PCNU Pringsewu, Lampung, dan dipublikasikan oleh NU Online pada Kamis, 2 April 2026.
Mengenal Delapan Hal Negatif yang Dijauhi Rasulullah
Dalam kehidupan, setiap Muslim pasti akan menghadapi berbagai ujian dan masalah. Namun, sebagai umat yang beriman, Rasulullah SAW telah memberikan panduan dan ikhtiar melalui doa agar terhindar dari kondisi negatif yang dapat datang kapan saja.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits nomor 1555) mengisahkan momen ketika Rasulullah SAW memberikan ijazah doa kepada sahabatnya, Abu Umamah. Kala itu, Rasulullah masuk ke masjid dan melihat Abu Umamah duduk dalam keadaan bingung di luar waktu shalat. Rasulullah pun menyapanya:
“Hai Abu Umamah, ada apa aku melihatmu duduk di masjid di luar waktu shalat?”
Abu Umamah menjawab:
“Kebingungan dan utang-utangku yang membuatku (begini), ya Rasul.”
Mendengar hal tersebut, Rasulullah kembali bertanya:
“Maukah kamu jika aku ajarkan suatu bacaan yang jika kamu membacanya, Allah akan menghapuskan kebingunganmu dan memberi kemampuan melunasi utang?”
Abu Umamah dengan antusias menjawab:
“Tentu, ya Rasul.”
Kemudian, Rasulullah melanjutkan:
“Jika memasuki waktu pagi dan sore hari, maka bacalah: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ”
Doa tersebut memiliki arti:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan penindasan manusia.”
Rincian Delapan Sikap Negatif yang Perlu Dihindari
Dari doa yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut, terdapat delapan sikap negatif yang sebaiknya dihindari agar hidup tetap optimis dan bahagia. Berikut rinciannya:
- Kegelisahan (al-hamm): Penyakit hati yang sering muncul di era modern, menyebabkan kecemasan berlebihan terhadap masa depan atau hal-hal yang belum tentu terjadi, sehingga ketenangan hati hilang.
- Kesedihan yang berlarut-larut (al-huzn): Kesedihan mendalam akibat masa lalu yang membuat seseorang terpuruk dan sulit melangkah maju.
- Kelemahan (al-‘ajz): Bukan hanya kelemahan fisik, tetapi juga mental, yang membuat seseorang tidak berani menghadapi tantangan dan mudah menyerah sebelum berjuang.
- Kemalasan (al-kasal): Musuh besar kesuksesan, menyebabkan banyak orang gagal mencapai potensi maksimal karena enggan bergerak, berusaha, dan berubah.
- Pengecut (al-jubn): Sifat yang menimbulkan ketakutan untuk mengambil keputusan, mencoba hal baru, bahkan membela kebenaran.
- Kikir (al-bukhl): Tidak hanya terkait harta, tetapi juga enggan berbagi kebaikan, padahal memberi dapat melapangkan hidup.
- Lilitan utang (ghalabat ad-dayn): Utang yang menumpuk bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga beban mental berat yang dapat merusak kehormatan.
- Penindasan manusia (qahr ar-rijal): Tekanan, kezaliman, atau perlakuan tidak adil dari orang lain yang dapat membuat hidup terasa sempit dan penuh penderitaan.
Kunci Menghindari Kondisi Negatif: Doa dan Tawakal
Untuk benar-benar terhindar dari kondisi negatif ini, umat Muslim dianjurkan untuk terus berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengamalkan doa yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai wirid harian, terutama di pagi dan petang, merupakan salah satu ikhtiar penting.
Selain itu, penting untuk melatih diri agar senantiasa berpikir positif dan bertawakal. Kegelisahan tidak boleh dibiarkan menguasai diri, sebab setiap Muslim harus menyadari bahwa apa yang Allah takdirkan adalah yang terbaik. Hidup yang tenang bukan berarti tanpa masalah, melainkan memiliki hati yang kuat dalam menghadapinya. Kekuatan tersebut lahir dari kedekatan kepada Allah.
Yakinlah, Allah tidak akan memberikan beban melebihi kesanggupan hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah:
“Kami tidak membebani seorang pun, kecuali menurut kesanggupannya. Pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya dan mereka tidak dizalimi.” (QS Al-Mu’minun: 62)
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari kegelisahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kikir, lilitan utang, dan penindasan manusia. Semoga kita semua dijadikan pribadi yang kuat, sabar, dan penuh keberkahan dalam menjalani kehidupan.

