Bulan suci Ramadhan kembali menyapa umat Muslim, membawa serta kesempatan berharga untuk meningkatkan ibadah dan kebaikan. Ustadz Sunnatullah, seorang pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur, dalam khutbah Jumatnya yang disiarkan NU Online pada Kamis, 26 Februari 2026, mengingatkan bahwa momentum ini tidak selalu datang dua kali.

Menurut Ustadz Sunnatullah, Ramadhan tidak semestinya diperlakukan layaknya bulan-bulan biasa. Sebaliknya, ia harus dijadikan momentum istimewa untuk membersihkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal saleh. Hal ini sejalan dengan ajaran penting bahwa setiap kesempatan meningkatkan ibadah dengan nilai pahala yang berlipat ganda adalah anugerah yang patut disyukuri dan dimanfaatkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ramadhan, Poros Peningkatan Ketakwaan dan Amal Saleh

Ustadz Sunnatullah menekankan bahwa nikmat dipertemukan dengan bulan Ramadhan adalah anugerah agung yang tak ternilai. Di bulan ini, umat Muslim dididik untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menghidupkan malam dengan ibadah, serta memperbanyak sedekah guna menumbuhkan kepekaan sosial.

Semua rangkaian ibadah tersebut, menurutnya, berporos pada satu tujuan mulia, yaitu peningkatan ketakwaan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, [2]: 183).

Ketakwaan menjadi fondasi segala kebaikan dan kunci keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang bertakwa akan terdorong untuk senantiasa berbuat baik, mulai dari hal kecil hingga besar. “Dan takwa… karena sesungguhnya ia adalah fondasi dari segala kebaikan dan sebab kebahagiaan di dunia dan akhirat,” ujar Sayyid Murtadha az-Zabidi al-Husaini dalam kitab Ithafussadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya Ulumiddin, jilid VIII, halaman 27.

Ustadz Sunnatullah juga mengingatkan bahwa semua kebajikan yang dilakukan di bulan Ramadhan, baik yang bernilai kecil maupun besar, akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

Artinya, “Maka bertakwalah kalian semua pada bulan Ramadhan, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan dilipatgandakan di dalamnya, demikian pula keburukan-keburukan.” (HR. At-Thabrani).

Peringatan: Jangan Sia-siakan Kesempatan yang Tak Selalu Terulang

Mengingat keistimewaan Ramadhan, Ustadz Sunnatullah menyerukan agar umat Muslim memanfaatkan kesempatan ini dengan kesungguhan dan kesadaran penuh. Ia memperingatkan agar tidak tertipu oleh anggapan bahwa Ramadhan tahun depan pasti akan tiba.

“Tidak ada seorang pun yang mampu menjamin usianya akan sampai pada Ramadhan berikutnya,” tegasnya, seraya mengajak jamaah untuk mengambil pelajaran dari saudara, tetangga, dan banyak orang yang telah berencana memperbaiki diri di Ramadhan mendatang, namun ajal lebih dahulu menjemput.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, halaman 158, menggambarkan kefanaan hidup dalam syairnya:

كَمْ كُنْتَ تَعْرِفُ مِمَّنْ صَامَ فِي سَلَفٍ // مِنْ بَيْنِ أَهْلٍ وَجِيرَانٍ وَإِخْوَانِ // أَفْنَاهُمُ الْمَوْتُ وَاسْتَبْقَاكَ بَعْدَهُمْ // حَيًّا فَمَا أَقْرَبَ الْقَاصِي مِنَ الدَّانِي // وَمُعْجَبٍ بِثِيَابِ الْعِيدِ يَقْطَعُهَا // فَأَصْبَحَتْ فِي غَدٍ أَثْوَابَ أَكْفَانِ // حَتَّى يُعَمِّرَ الْإِنْسَانُ مَسْكَنَهُ // مَصِيرُ مَسْكَنِهِ قَبْرٌ لِإِنْسَانِ

Artinya, “Betapa banyak yang kau kenal di antara mereka yang berpuasa di masa lalu, // dari kalangan keluarga, tetangga, dan saudara // maut telah membinasakan mereka, dan meninggalkanmu hidup setelah mereka // maka betapa dekatnya yang jauh dengan yang dekat // dan betapa banyak orang yang bangga dengan pakaian hari raya, ia menjahitnya // namun keesokan harinya, pakaian itu menjadi kain kafan // hingga manusia memakmurkan tempat tinggalnya // namun tempat tinggal terakhirnya adalah kuburan bagi manusia.”

Oleh karena itu, sebelum ajal menjemput dan pintu tobat tertutup, Ustadz Sunnatullah mengajak untuk bergegas memperbaiki diri dengan meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal kebajikan. “Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih bermanfaat bagi sesama,” ajaknya.

Ia menutup khutbahnya dengan pertanyaan reflektif: “Siapa saja yang tidak meraih keuntungan pada bulan (Ramadhan) ini, maka pada kapan lagi ia akan meraih keuntungan? Siapa saja yang tidak mendekat kepada Tuhannya di dalamnya (Ramadhan), maka dalam keadaan jauhnya (selain Ramadhan) itu ia tidak akan memperoleh keuntungan,” mengutip Imam Ibnu Rajab dalam kitab yang sama.

Semoga khutbah ini memotivasi umat Muslim untuk memanfaatkan Ramadhan sebaik-baiknya, agar Allah SWT menerima semua amal ibadah dan menjadikan hamba-hamba-Nya yang muttaqin.