Bulan Ramadhan selalu tiba dengan membawa keberkahan dan keutamaan yang melimpah. Umat Islam di seluruh dunia berlomba-lomba memanfaatkan setiap detiknya, terutama malam-malamnya, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah.
Kolumnis Alwi Jamalulel Ubab dalam khutbah Jumatnya pada 27 Februari 2026, menguraikan empat cara utama yang dapat dilakukan umat Muslim untuk menghidupkan malam Ramadhan. Ini menjadi panduan penting bagi mereka yang ingin meraih ampunan dan pahala berlipat ganda di bulan suci ini.
Keutamaan Menghidupkan Malam Ramadhan
Ramadhan adalah bulan di mana umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh sebagai bagian dari ketakwaan kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلٰى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Qs. Al-Baqarah: 183)
Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menegaskan keutamaan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Menceritakan kepadaku Ismail, berkata menceritakan kepadaku Malik dari Ibnu Shihab, dari Humaid bin Abdirrahman dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beribadah di bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari).
Hadits ini menjelaskan bahwa orang-orang yang memurnikan diri beribadah kepada Allah di bulan Ramadhan dengan niat tulus dan mengharapkan pahala dari-Nya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.
Mengomentari hadits tersebut, Imam Al-Qasthalani dalam kitab Irsyadus Sari juz I, halaman 178, menjelaskan:
(مَنْ قَامَ) بِالطَّاعَةِ صَلَاةِ التَّرَاوِيْحِ أَوْ غَيْرِهَا مِنَ الطَّاعَاتِ فِيْ لَيَالِي (رَمَضَانَ) حَالَ كَوْنِ قِيَامِهِ (إِيْمَانًا) أَيْ مُؤمِنًا بِاللهِ مُصَدِّقًا بِهِ (وَ) حَالَ كَوْنِهِ (اِحْتِسَابًا) أَيْ مُحْتَسِبًا وَالْمَعْنَى مُصَدِّقًا وَمُرِيْدًا بِهِ وَجْهَ اللهِ تَعَالَى بِخُلُوْصِ نِيَّتِهِ (غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) مِنَ الصَّغَائِرِ، وَفِيْ فَضْلِ اللهِ وَسَعَةِ كَرَمِهِ مَا يُؤْذَنُ بِغُفْرَانِ الْكَبَائِرِ أَيْضًا وَهُوَ ظَاهِرُ السِّيَاقِ
Artinya: “Barangsiapa menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan melaksanakan ketaatan sepertihalnya shalat tarawih atau ketaatan lainnya. Di mana ia melaksanakan dalam keadaan beriman kepada Allah dan serta membenarkan dengan kemurnian niat dalam dirinya maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni. Dalam hal ini yang dimaksud ialah dosa-dosa kecil, namun dengan anugerah dan keluasan rahmat-Nya bisa juga mencakup dosa-dosa besar, dan itu dapat dilihat dari dzahir lafadz (hadits)-nya”.
Berikut adalah empat cara yang dapat dilakukan untuk menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah:
1. Melaksanakan Salat Tarawih dan Salat Malam Lainnya
Cara pertama adalah dengan melakukan salat Isya berjamaah, disambung dengan salat tarawih dan witir, serta salat malam lainnya. Semua ini harus dilakukan dengan niat ikhlas dan mengharapkan ridha dari Allah SWT. Seperti yang dijelaskan pada syarah hadits di atas, salah satu makna menghidupkan malam Ramadhan ialah dengan melaksanakan salat tarawih.
Syekh Taqiyuddin al-Hishni dalam kitab Kifayah al-Akhyar halaman 89 menjelaskan bahwa salat tarawih hukumnya adalah sunnah muakkadah, yakni sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada malam-malam bulan Ramadhan.
2. Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an di malam bulan Ramadhan juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Dalam sebuah hadits, dijelaskan bahwa pada bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW akan menjadi orang yang lebih dermawan dan setiap hari bertemu Jibril untuk membaca Al-Qur’an.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
Artinya: “Dari Ibnu Abbas ra, berkata: “Rasulullah saw merupakan orang yang paling dermawan dan ia sangat dermawan saat bertemu malaikat Jibril. Jibril menemuinya setiap malam pada bulan Ramadhan dan membaca Al-Qur’an dengan Nabi Muhammad saw. Sungguh Rasulullah saw ketika bertemu Jibril sangat dermawan dengan kebaikan dibandingkan angin yang berhembus”. (HR. Bukhari).
3. Beri’tikaf di Masjid
I’tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, adalah amalan yang rutin dilakukan Rasulullah SAW. Ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Dari Abdullah bin Umar ra berkata: “Rasulullah saw rutin melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir dari Ramadhan”. (HR. Bukhari).
I’tikaf memberikan kesempatan untuk fokus beribadah, bermuhasabah, dan mendekatkan diri secara intensif kepada Allah SWT di lingkungan masjid.
4. Bekerja dengan Niat Ibadah
Kegiatan berikutnya yang dapat dilakukan untuk mengisi ibadah di malam Ramadhan ialah bekerja dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Bagi pekerja yang beraktivitas di malam hari di bulan Ramadhan, pekerjaannya bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT sebagai bagian dari wujud syukur.
Bersyukur kepada Allah dengan memanfaatkan segala potensi untuk melakukan kebaikan dan niat beribadah kepada-Nya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya: “Sebaik-baik dinar (uang atau harta) yang dinafkahkan seseorang, ialah yang dinafkahkan untuk keluarganya, untuk ternak yang depeliharanya, untuk kepentingan membela agama Allah, dan nafkah untuk para sahabatnya yang berperang di jalan Allah,” (HR. Imam Muslim)
Demikian beberapa cara menghidupkan malam hari di bulan Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Semoga dengan melakukannya, umat Muslim dapat termasuk orang-orang yang beruntung mendapatkan keutamaan Ramadhan, termasuk malam Lailatul Qadar.

