Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam diajak untuk mempererat tali silaturahim, memperkuat hubungan dengan sesama, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Ajakan ini menjadi inti dari khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ajie Najmuddin, kolomnis NU Online, pada Kamis, 5 Februari 2026.

Dalam khutbahnya, Ajie Najmuddin menekankan bahwa dengan menjaga silaturahim, umat akan meraih keberkahan di dunia dan pahala di akhirat. Hal ini diharapkan dapat menjadikan Ramadhan lebih bermakna, damai, dan penuh kebersamaan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bulan Sya’ban: Momen Istimewa untuk Memperkuat Ukhuwah

Bulan Sya’ban memiliki kedudukan istimewa karena terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dua bulan yang penuh keberkahan. Di Indonesia, umat Islam secara turun-temurun memanfaatkan bulan ini sebagai momen berkumpul, berbagi sedekah makanan, serta mendoakan orang tua atau leluhur yang telah meninggal dunia.

Tradisi seperti sadranan, ruwahan, atau sekadar berkunjung ke saudara, teman, guru, dan orang tua menjadi cara untuk merayakan bulan ini sekaligus memperkuat ukhuwah atau persaudaraan. Kegiatan mempererat tali silaturahim tersebut merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Keutamaan Silaturahim dalam Al-Qur’an dan Hadits

Menjaga hubungan persaudaraan bukan hanya membawa kebaikan di dunia, tetapi juga mendatangkan pahala dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 1:

فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْۖ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗٓ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Artinya, “Maka, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang mukmin.”

Selain itu, Nabi Muhammad SAW dalam beberapa hadits juga menyebutkan keutamaan silaturahim. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik RA:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزقِهِ ، وَيُنْسأَ لَهُ فِي أَثرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya, “Barangsiapa yang suka supaya diluaskan rezekinya dan diakhirkan ajalnya, maka hendaklah menyambung hubungan dengan kerabatnya (bersilaturahim),” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib bahkan menyebutkan setidaknya 10 keutamaan silaturahim. Keutamaan ini semakin bertambah jika dilakukan kepada guru atau orang tua. Salah satu manfaat penting dari silaturahim adalah mampu membahagiakan orang lain, sehingga kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga membawa kebaikan dan keberkahan bagi semua pihak.

“Telah tersebut dalam sebuah hadits, ‘Salah satu amal paling utama adalah idkhalus surur atau memasukkan kebahagiaan ke dalam hati orang yang beriman,’” demikian kutipan dari Syekh Sulaiman Al-Bujairimi.

Ketika seseorang berkunjung kepada guru atau orang tua, lumrahnya hal itu akan membuat hati mereka merasa bahagia. Kebahagiaan akan bertambah bila kunjungan tersebut disertai dengan buah tangan sebagai hadiah.

Silaturahim dengan Mereka yang Telah Wafat

Bagi mereka yang telah wafat, tali silaturahim tetap dapat disambung melalui doa yang dipanjatkan. Terlebih bila dapat berziarah ke makamnya dan kemudian memanjatkan doa untuk guru dan kedua orang tua. Ibarat kepada mereka yang masih hidup, akan bertambah kebahagiaan dengan dikunjungi anak cucunya, apalagi dengan membawa oleh-oleh berupa doa.

Doa yang dihanturkan kepada mereka yang sudah meninggal dunia, akan menjadi hadiah bagi mereka. Sebagaimana keterangan dari Syekh M Nawawi Banten:

هَدَايَا الْأَحْيَاءِ لِلْأَمْوَاتِ الدُّعَاءُ وَالْإِسْتِغْفَارُ

Artinya: Hadiah orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah meninggal dunia adalah doa dan permohonan ampunan kepada Allah (istighfar) untuk mereka.

Demikian penjelasan mengenai pentingnya bersilaturahim, terutama menjelang Ramadhan. Umat diimbau untuk memanfaatkan momentum penuh berkah pada bulan Sya’ban ini dengan memperbanyak silaturahim dan berbagai kebaikan lainnya, agar hati menjadi bersih dan mendapatkan keberkahan.