Menguak Sosok Nyai Nur Khodijah
Sosok Nyai Nur Khodijah, seorang ulama perempuan yang memiliki peran sentral dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, selama ini relatif kurang terdokumentasi. Keterbatasan literatur, baik berupa buku, artikel, maupun jurnal, membuat ketokohan beliau lebih banyak dikenal di kalangan keluarga, santri, dan alumni Pesantren Denanyar, Jombang. Padahal, beliau adalah nenek dari salah satu presiden Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, serta istri dari ulama besar KH Bisri Syansuri.
Jejak Pencarian Data dan Dokumentasi
Upaya untuk mengungkap lebih dalam jejak Nyai Nur Khodijah mulai intensif dilakukan. Pada tahun 2019, seorang kandidat doktor sejarah dari Jerman, Tika Ramadhini, datang ke Jombang untuk mencari data tentang ulama perempuan Indonesia di Makkah abad ke-20, termasuk Nyai Nur Khodijah Denanyar dan Nyai Khoiriyah Hasyim Tebuireng. Meskipun tinggal sebulan, data yang ditemukan masih terbatas.
Titik terang muncul pada 24 Juni 2022, ketika Ustadz Mahfudz, guru Madrasah Aliyah Mamba’ul Ma’arif (MAMM), menginformasikan keberadaan dokumen, manuskrip, dan kitab-kitab Mbah Bisri Syansuri di Ndalem Kasepuhan. Penelusuran oleh Yusuf Suharto dan timnya berhasil menemukan arsip relevan yang kemudian disimpan sementara atas permintaan Ketua Majelis Pengasuh Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib.
Sebelumnya, pada 12 Mei 2022, Yusuf Suharto bersama Ainur Rofiq juga menemui Pak Choirul Fatihin di Perak Jombang, seorang narasumber yang bisa bercerita tentang Nyai Nur Khodijah. Choirul Fatihin, cicit Mbah Rantiman, dapat bercerita karena ibundanya, Hj. Mas’ah, adalah santri langsung Nyai Nur Khodijah.
Puncak upaya dokumentasi adalah Sarasehan “Bu Nyai Inspiratif” yang digelar pada Sabtu, 21 Januari 2023. Acara ini menjadi kali pertama keluarga Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang menyelenggarakan sarasehan khusus tentang Nyai Nur Khodijah (1897-1955). Para dzuriyah putri KH Bisri Syansuri-Nyai Nur Khodijah aktif menggali data dari Bu Nyai dan alumni sepuh. Hasil diskusi tim penulis sarasehan kemudian menjadi tulisan tiga belas halaman yang dibagikan kepada undangan.
Dalam sarasehan tersebut, Nyai Dr. Hj. Masriatin Aziz, Nyai Farida Shalahuddin Wahid, Nyai Halimah Ahmad, Nyai Lathifah Shohib, dan Nyai Muniroh Iskandar, dengan moderator Ketua Umum Fatayat, Margaret Aliyatul Maimunah, menyampaikan fragmen-fragmen kehidupan Nyai Nur Khodijah. Nyai Masriatin Aziz Bisri dan Nyai Lathifah Shohib Bisri menekankan pentingnya pembentukan tim penulis biografi. Alhamdulillah, Tim Pegiat Sejarah berhasil menerbitkan buku “Nyai Nur Khodijah Perintis Pesantren Putri Indonesia” pada November 2023, dengan cetakan kedua pada Juni 2024. Disertasi tentang beliau juga berhasil ditulis oleh Atik Masfiah pada 2024, memanfaatkan manuskrip dan hasil sarasehan.
Nasab, Kelahiran, dan Ketokohan Sang Perintis
Tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Nyai Nur Khodijah sempat menjadi misteri. Namun, pada awal Ramadhan 1444 Hijriah atau 24 Maret 2023, Yusuf Suharto menemukan dokumen ANRI dari “Pendaftaran Orang Indonesia yang Terkemuka yang Ada di Jawa” dalam buku “Biografi KH Bisri Syansuri” (2014). Dokumen tersebut mencantumkan bahwa Nyai Nur Khodijah lahir di dusun Tambakberas, desa Tambakrejo Jombang, pada 21 Ramadhan 1314 Hijriah, yang setara dengan Selasa, 23 Februari 1897 Masehi.
Nyai Nur Khodijah adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Kiai Hasbullah Said dan Nyai Lathifah. Ibunda beliau, Nyai Lathifah, berasal dari Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo, sementara Kiai Hasbullah Said adalah penerus Pesantren Tambakberas Jombang yang didirikan oleh Mbah Kiai Abdussalam (Mbah Sekhah). Setelah Kiai Said wafat, Kiai Hasbullah Said (lahir 1850) mengambil alih kepemimpinan, yang kemudian dilanjutkan oleh kakak sulung Nyai Nur Khodijah, KH Abdul Wahab Chasbullah (1887-1971), yang menggagas nama pesantren menjadi Bahrul Ulum.
Kisah masyhur menyebutkan, ketika Nyai Lathifah Tawangsari hendak disunting Kiai Hasbullah Gedang Tambakberas, mahar yang diminta adalah mengkhatamkan Al-Qur’an di makam Wali Songo. Hal ini diceritakan oleh Khoirul Fatihin dalam wawancara pada 12 Mei 2022.
Ketokohan Nyai Nur Khodijah tak lepas dari riyadhah atau tirakat yang dilakukannya. Rais ‘Aam PBNU, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam ceramah Haul KH Bisri Syansuri dan Nyai Nur Khodijah, bahkan berpendapat bahwa jasa pendiri pesantren putri pertama di Indonesia ini setara dengan perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam membela perempuan. Senada dengan Gus Mus, Ketua Umum Fatayat, Margaret Aliyatul Maimunah, juga menyatakan bahwa jasa Nyai Nur Khodijah setara dengan RA Kartini dalam memperjuangkan pendidikan perempuan, khususnya di pesantren.
Secara nasab, Kiai Hasyim Asy’ari Tebuireng dan Nyai Nur Khodijah sama-sama cicit Kiai Sekhah, pendiri Pesantren Tambakberas pada 1825. Nasab keduanya bersambung hingga ke Sunan Ampel dan Syekh Ibrahim Samarkand.
Perjalanan Ilmu, Haji, dan Pernikahan
Tumbuh di lingkungan pesantren, Nyai Nur Khodijah menghabiskan masa kecilnya untuk mendalami agama dari orang tuanya. Pada tahun 1914, sebagai bagian dari keluarga kiai terpandang, beliau berkesempatan bermukim di Makkah untuk menimba ilmu dan beribadah haji, ditemani ibundanya. Di Makkah, atas inisiatif kakaknya, Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Nyai Nur Khodijah yang berusia sekitar tujuh belas tahun menikah dengan Kiai Bisri Syansuri, yang saat itu berusia sekitar 27 tahun dan telah menetap di Makkah sejak 1911 atau 1912. Pada tahun yang sama, pasangan muda ini kembali ke tanah air.
Selama dua atau tiga tahun, Kiai Bisri membantu pesantren mertuanya di Tambakberas, sebagai persiapan sebelum akhirnya pada tahun 1917, mereka mendirikan pesantren putra di desa Denanyar. Dari pernikahan ini, Nyai Hj. Nur Khodijah dikaruniai enam keturunan yang hidup hingga dewasa:
- Ahmad Athoillah (lahir 18 Juni 1916)
- Muasshomah (lahir 06 Juli 1921)
- Sholihah (lahir 19 Desember 1923)
- Musyarofah (lahir 31 Desember 1925)
- Muhammad Ali Ashab (Ali Abdul Aziz) (lahir 03 Agustus 1929)
- Muhammad Shohib (lahir 21 November 1932)
Pionir Pesantren Putri Pertama di Indonesia
Sebelum dirintis oleh Nyai Nur Khodijah dan Kiai Bisri, desa Denanyar dikenal sebagai daerah yang rawan keamanan, susila, dan minus kesejahteraan, bahkan terdapat pabrik minuman keras di sekitarnya. Pesantren Mambaul Ma’arif berdiri pada tahun 1917, saat Kiai Bisri berusia 30 tahun dan Nyai Nur Khodijah 20 tahun. Lokasinya strategis, sekitar dua kilometer dari barat kota Jombang, dengan pasar dan pabrik gula peninggalan Belanda di timur, serta hamparan sawah dan perkebunan di utara dan barat.
Pada awalnya, pesantren ditujukan untuk santri putra. Pendidikan keagamaan bagi putri umumnya dilakukan di rumah masing-masing atau dengan mendatangkan pengajar khusus, seperti cara belajar RA Kartini kepada Kiai Sholeh Darat. Namun, pada tahun 1919, Nyai Nur Khodijah dan Kiai Bisri Syansuri menggagas pendirian Pesantren Putri di Denanyar. Ini menjadi tanda kebangkitan masyarakat Muslim saat itu, dengan menerima santri putri untuk kali pertama di Indonesia, membimbing putri-putri tetangga di beranda belakang Ndalem Kasepuhan.
Kiai Aziz Masyhuri dalam buku “Biografi KH Bisri Syansuri” menyatakan, “Perlu diingat, bahwa Pondok Putri Denanyar adalah merupakan satu-satunya pondok putri yang ada pada masa itu.”
Pesantren Putri Denanyar terkenal mendidik perempuan agar bermartabat, memahami wawasan keislaman dasar melalui pengajian kitab kuning, dan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Awalnya, sasaran dakwah terbatas pada kaum perempuan di sekitar pondok dan kerabat pesantren. Murid-murid awal Nyai Nur Khodijah termasuk keponakannya, Mu’tamaroh dan Mahfudhoh (putri KH Abdul Wahab Chasbullah), serta tetangga dekat seperti Asma’ dan santri dari daerah sekitar Jombang. Ibunda istri Gus Dur, Nyai Shinta Nuriyah, juga termasuk murid generasi awal Nyai Nur Khodijah.
Mulai tahun 1921, penerimaan santri putri lebih merata dari berbagai daerah, dan pada tahun 1930, Madrasah Diniyah Putri Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar resmi didirikan. Pesantren Mamba’ul Ma’arif menjadi pelopor pendidikan perempuan di pesantren yang berupaya menjangkau lebih banyak perempuan, tidak terbatas pada kelas elite. Keberadaan pesantren putri ini didasari oleh bakat mengajar Nyai Nur Khodijah dan keinginannya mendidik sesama kaum perempuan. Dengan dukungan moril dari sang suami, beliau diberi wewenang untuk mengelola dan memberikan pendidikan agama kepada para santri putri di beranda belakang rumah.
Langkah ini sempat dianggap aneh oleh sebagian ulama pesantren, termasuk oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan guru Kiai Bisri. Ketika Kiai Hasyim Asy’ari datang melihat proses belajar mengajar santri putri, beliau pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Menurut riwayat, Kiai Hasyim Asy’ari tidak melarang maupun membolehkan. Nyai Nur Khodijah dan Kiai Bisri memutuskan untuk melanjutkan terobosan ini karena tidak ada larangan eksplisit dari gurunya, dan mereka merasa pendirian pesantren putri sangat penting sebagai kebutuhan zaman dan hak pendidikan bagi kaum perempuan.
Tirakat dan Amalan Nyai Nur Khodijah
Di balik kesuksesan seorang suami, ada doa dan dorongan istri, demikian pula di balik kesuksesan istri, ada doa dan dukungan suami. Nyai Nur Khodijah senantiasa mendoakan, mendukung, dan bertirakat untuk suaminya, KH Bisri Syansuri, dan para santrinya. Salah satu dawuh beliau yang diingat keluarga besar pondok Denanyar dan santri adalah, “Tirakatmu menentukan masa depan suamimu.”
Nyai Muhassonah, salah seorang cucu Nyai Nur Khodijah, menceritakan bahwa neneknya memiliki perilaku keseharian yang sederhana dan penuh tirakat, seperti mengonsumsi makanan dalam porsi sedikit dan melaksanakan amalan keagamaan secara istiqamah. Hal ini berbuah keistimewaan, di mana banyak hajat atau keinginannya dikabulkan Allah. Kesaksian ini disampaikan dalam bedah buku “Biografi KH Bisri Syansuri” pada 2014 dan ditegaskan kembali oleh putri beliau, Bu Nyai Muniroh, dalam Sarasehan Bu Nyai Inspiratif pada 2023.
Hj. Asma’, santri Nyai Nur Khodijah, juga menceritakan beberapa amalan tirakat yang diketahuinya, antara lain Shalat Hajat, puasa Senin Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah), membaca surah al-Fatihah, surah al-Ikhlash, ayat Kursi, surah al-Baqarah ayat 284-286, shalat berjamaah, dan riyadhah. Nyai Hj. Mahfudhoh, keponakan sekaligus santri beliau, menyebutkan amalan Nyai Nur Khodijah: “Bahwa amalan Bek Aji itu shalawat Nariyah. Itu Bek Aji, wirid biasa. Bek Aji lebih menekankan pada Al-Qur’an, ya pokoknya membaca terus….” Sementara itu, Nyai Lathifah Shohib menyampaikan, “Salah satu yang diamalkan Mbah Nyai Nur Khodijah itu Burdah.”
Nyai Mu’tamaroh menceritakan bahwa Nyai Nur Khodijah adalah sosok yang fokus pada pendidikan pesantren putri dan jarang keluar, kecuali untuk kebutuhan mendesak. Kisah lain tentang tirakat yang membawa keberhasilan adalah tercapainya hajat menjodohkan putrinya dengan Gus Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari. Nyai Nur Khodijah memiliki impian berbesan dengan KH Hasyim Asy’ari. Kiai Bisri kemudian mengajak istrinya untuk bersama-sama melakukan riyadloh agar doa dan impian terkabul, demi mendapatkan keturunan yang saleh dan bernasab dengan ulama besar. Pasangan ini senantiasa berprasangka baik kepada Allah. Tirakat Nyai Nur Khodijah demi mewujudkan mimpi memiliki dzurriyyatan toyyibah, antara lain dengan memperbanyak zikir, berdoa, dan shalawat sebagai wirid andalan. Terbukti, Allah mengabulkan hajatnya, dan salah satu putri Nyai Nur Khodijah, Nyai Sholihah, menikah dengan KH Wahid Hasyim.
Ibu Nyai Muhassonah menyampaikan salah satu ijazah (amalan) yang diterima langsung dari neneknya (Nyai Nur Khodijah): “ijazahe iku Sholat Hajat petang roka’at. Dua kali salam. Roka’at pertama, Surah Ikhlash ping sepuluh, Roka’at kedua, Surah Ikhlash ping rongpuluh. Terus salam. Terus ngadek maneh. Roka’at ketiga, mari Fatihah, Surah Ikhlash ping telungpuluh, Roka’at keempat, Surah Ikhlash ping petangpuluh. Dadi kan jangkep peng satus. Roka’at pertama sepuluh, roka’at kedua rongpuluh, lak telungpuluh. Terus salam. Roka’at ketiga, telung puluh, suwidak. Roka’at keempat, petangpuluh. Dadi satus genep. Lak iso yo mben bengi solat bengi insya Allah hajate cepet dikabulne dening Allah. Usholli sunnatal hajati rok’ataini mustaqbilal qiblati ada’an lillaahi ta’aalaa. Iku seng tak lakoni sampek saiki.”
Klarifikasi Tanggal Kewafatan
Sebelumnya, informasi mengenai tanggal kewafatan Nyai Nur Khodijah masih simpang siur di masyarakat, dengan perkiraan antara tahun 1949, 1952, 1953, 1958, bahkan ada yang menyamakannya dengan tahun wafat Kiai Bisri Syansuri pada 1980. KH Aziz Masyhuri dalam bukunya “Al-Maghfurlah KH M. Bishri Syansuri” hanya menyebutkan tahun 1955 tanpa detail tanggal dan bulan.
Alhamdulillah, pada 24 Juni 2022, tanggal, bulan, dan tahun persis kewafatan Nyai Nur Khodijah akhirnya ditemukan dari buku “Risalah Akhir Tahun” yang diterbitkan stensilan oleh Bagian Penerbitan Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Buku “Risalah Akhir Sanah Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif” menyebutkan secara jelas bahwa Nyai Nur Khodijah wafat pada 22 Ramadhan 1374 Hijriah. Jika dikonversikan ke tahun masehi, beliau wafat pada Ahad, 15 Mei 1955, dalam usia 58 tahun. Beliau mendampingi Kiai Bisri Syansuri dalam kepengasuhan Pesantren Denanyar selama sekitar 38 tahun, sementara Kiai Bisri Syansuri wafat pada 10 Jumadil Akhir 1440 Hijriah atau Jumat, 25 April 1980, dalam usia 93 tahun.
Selain data tertulis, terdapat versi tutur lisan di kalangan dzuriyah Pondok Denanyar yang menyebutkan bahwa Nyai Nur Khodijah wafat pada 24 Ramadhan sore, saat sedang menyiapkan buka puasa. Versi ini dikuatkan oleh M. Faishol, yang memperoleh informasi dari ibunya, santri Nyai Nur Khodijah, bahwa “Ini berdasar kesaksian ibu saya, bahwa saat Mbah Nyai Nur Khodijah wafat, kakak sulung saya belum lahir (bernama Jamilah yang lahir pada Desember 1955). Meninggalnya Mbah Nyai Nur Khodijah itu pada ‘menjelang’ malam 25 Ramadhan, sore hari setelah Asar, saat sedang menyiapkan untuk berbuka puasa. Ini komparasi saling melengkapi antara kesaksian ibu saya, dan data tertulis tahun Masehi 1955.”
Tradisi memperingati Haul Bu Nyai Nur Khodijah yang sebelumnya dilaksanakan tiap malam 25 Ramadhan di ndalem Asrama Sunan Ampel, kini mulai tahun 2026 ini akan dilaksanakan di Ndalem Kasepuhan dengan hitungan Haul ke-74 versi tahun Hijriah. (Yusuf Suharto, Pegiat Sejarah; Mudir Ma’had Aly Mamba’ul Ma’arif)

