Bulan suci Ramadhan baru saja meninggalkan umat Islam, membawa serta rahmat dan ampunan yang melimpah. Bulan ini menjadi sarana penting untuk menggembleng setiap Muslim agar menjadi hamba Allah yang bertakwa. Meskipun tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bahwa ibadah puasa seseorang diterima oleh Allah SWT, para ulama telah menjelaskan beberapa tanda yang dapat menjadi indikator diterimanya amal ibadah tersebut.

Tujuan Puasa dan Indikator Ketakwaan

Salah satu tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai ketakwaan. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183:

Scroll Untuk Lanjut Membaca

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hei jalma-jalma anu ariman, diwajibkeun ka maraneh puasa sakumaha diwajibkeun ka umat samemeh maraneh supaya maraneh jadi jalma anu takwa.

Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, juz 3, halaman 126, menjelaskan bahwa puasa dapat meningkatkan ketakwaan. Menurutnya, ketika seseorang mengosongkan perutnya dengan berpuasa, syahwatnya akan berkurang. Dengan berkurangnya syahwat, seseorang akan lebih mampu menahan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.

Pandangan ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ – مَرَّتَيْنِ

Artinya: “Puasa teh perisai (anu ngajaga), margi kitu ulah nyarios kotor sareng ulah lampah bohong. Upami aya jalma anu ngajak pasea atanapi ngahina, kedah nyarios: ‘Abdi nuju puasa’ – dua kali.” (HR. Bukhari).

Menjaga Anggota Badan dari Dosa

Ketakwaan menjadi tujuan utama bagi orang-orang beriman dalam menjalankan ibadah puasa. Jika seseorang mampu menjaga puasanya, tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga seluruh anggota badan, lisan, dan hati dari segala hal yang dilarang Allah SWT, maka itu dapat menjadi ciri bahwa puasanya diterima dan sesuai dengan tujuan diwajibkannya puasa.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, juz I, halaman 296, menjelaskan bahwa puasa sejati bukanlah sekadar mengosongkan perut dari makanan, karena itu hanyalah puasa tingkat dasar. Menurutnya, puasa yang lebih sempurna adalah menahan seluruh anggota badan dari dosa. Lisan dijaga dari perkataan buruk, mata dijaga dari melihat hal yang dilarang, dan seluruh perbuatan dijaga dari maksiat. Lebih dari itu, hati juga harus dijaga dari sifat iri, dengki, aniaya, dan lain sebagainya.

Konsistensi Ibadah Pasca-Ramadhan

Ciri diterimanya puasa oleh Allah juga dapat dilihat dari kondisi ibadah seseorang setelah Ramadhan. Jika setelah menjalankan puasa di bulan Ramadhan ibadah tetap stabil, bahkan meningkat, maka itu bisa menjadi tanda bahwa puasa telah diterima oleh Allah.

Imam Ibnu Rojab Al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif menjelaskan:

ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، فَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِحَسَنَةٍ بَعْدَهَا كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى قَبُولِ الْحَسَنَةِ الْأُولَى، كَمَا أَنَّ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِسَيِّئَةٍ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةَ رَدِّ الْحَسَنَةِ وَعَدَمِ قَبُولِهَا

Artinya: “Pahala amal hade teh nyaeta amal hade sabada eta. Sing saha anu ngalakukeun hiji amal hade, tuluy dipirig ku amal hade deui sabada eta, eta teh jadi tanda yen amal hade nu kahiji ditarima (ku Alloh). Sakumaha oge jalma anu ngalakukeun amal hade, tuluy dilakonan ku amal goreng sabada eta, eta teh jadi tanda yen amal hadena ditolak tur henteu ditarima.” (Ibnu Rojab Al-Hanbali, Latha’iful Maa’rif [Beirut, Maktabatul Islami: 2007], h. 388).

Keterangan dari Imam Ibnu Rojab ini sangat jelas untuk mengukur apakah puasa kita diterima atau tidak. Oleh karena itu, jika saat ini dan ke depannya kita masih rajin melaksanakan ibadah yang biasa dilakukan di bulan puasa, seperti shalat Tahajud, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan sebagainya, maka menurut keterangan Imam Ibnu Rojab, itu adalah ciri bahwa puasa kita diterima oleh Allah.

Begitu pula sebaliknya, jika sebelum puasa kita sering marah, berakhlak buruk, dan sebagainya, maka setelah menjalankan ibadah puasa seharusnya ada perubahan dalam diri kita. Perilaku-perilaku buruk tersebut harus bisa dihilangkan, atau setidaknya berkurang. Semoga setelah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan, kita semua dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa. Amiin ya robbal alamin.

Artikel ini disarikan dari khutbah Idul Fitri berjudul “Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah” yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Aiz Luthfi, seorang pengajar di Pesantren Al-Mukhtariyyah Al-Karimiyah, Subang, Jawa Barat, dan disunting oleh Amien Nurhakim.