Nama Oman Fathurahman kini menempati posisi penting dalam dunia filologi dan studi manuskrip Nusantara. Sebagai guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, ia dikenal luas atas penelitiannya yang berhasil membuka kembali suara teks-teks klasik. Kontribusi ilmiahnya yang luas dan berpengaruh telah membentuk arah baru kajian manuskrip di Indonesia.
Jejak Santri dan Tantangan Ekonomi
Jauh sebelum dikenal sebagai akademisi filologi terkemuka, sekitar 39 tahun lalu, Oman Fathurahman adalah seorang santri. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Cipasung, lalu melanjutkan di Pesantren Haurkuning Salopa, dan Pesantren Miftahul Huda di Tasikmalaya, Jawa Barat. Lingkungan pesantren ini membentuk disiplin belajar, ketahanan hidup, serta fondasi keilmuan keislaman yang kelak memengaruhi arah studinya.
Pada tahun 1987, ia mencoba melangkah ke pendidikan tinggi dengan mendaftar ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (sekarang UIN Sunan Gunung Djati Bandung) melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Namun, realitas ekonomi keluarga menjadi penghalang. Orang tuanya menilai biaya kuliah lanjutan tidak akan sanggup ditanggung.
Ia mengenang ucapan ayahnya yang sangat membekas dalam pidato pengukuhan guru besar pada 2 Maret 2014 di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. “Masuknya memang gratis,” ujar Bapak saat itu. “Tapi dari mana nanti Bapak membayar uang SPP-nya? Pokoknya Bapak hanya akan bekerja keras untuk menyekolahkan kesembilan anak sampai tingkat SMA, setelah itu terserah masing-masing,” begitu kata Bapak setengah bersumpah, kenang Oman.
Kehidupan pesantren yang ia jalani juga jauh dari kenyamanan. Fasilitas terbatas membuat para santri terbiasa mandiri. Oman termasuk yang merasakan langsung ritme hidup sederhana itu, termasuk harus mencari kayu bakar setiap pekan untuk kebutuhan dapur selama seminggu. Rutinitas ini melatih ketekunan yang menempa daya tahan dan fokus jangka panjangnya.
Merintis Karier dari Jalanan Jakarta
Perjalanan akademik Oman tidak dimulai dari kampus, melainkan dari keberanian merantau. Pada tahun 1988, ia berangkat ke Jakarta dengan modal tekad. Cita-cita kuliah belum langsung tercapai. Realitas menempatkannya sebagai pedagang asongan rokok yang berjalan kaki di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Selama masa awal itu, ia menumpang tinggal di rumah kerabat dan menata langkah hidup secara bertahap dan disiplin. Hingga akhirnya hasil penjualan rokoknya terkumpul sebesar 1.500 (seribu lima ratus) rupiah. Uang tersebut ditambah dari hasil menitipkan permen di warung-warung, serta bekerja sebagai buruh pabrik dan percetakan. Uang senilai itu menjadi pintu masuk ke pendidikan tinggi.
Ia mendaftar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN) dan diterima di Fakultas Adab dan Humaniora. Selama kuliah, kebutuhan hidup tetap ditopang oleh kerja sampingan sebagai penjual kacamata di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Konsistensi dalam Studi Filologi
Selepas sarjana, jalur akademiknya mulai ditopang oleh lembaga riset. Ia meraih beasiswa dari Yayasan Naskah Nusantara dan École française d’Extrême-Orient untuk studi magister filologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada tahun 1998. Kesempatan berikutnya datang melalui beasiswa Indonesian International Education Foundation yang membawanya ke jenjang doktoral pada tahun 2003, tetap dalam bidang filologi yang sama dan konsisten.
Fokus keilmuannya mengerucut pada filologi dan studi naskah Islam Nusantara. Ia menaruh perhatian pada manuskrip berbahasa Arab, Melayu, Sunda, dan Jawa. Pendekatannya tidak hanya deskriptif, tetapi juga kontekstual dengan menghubungkan teks, jaringan ulama, serta transmisi intelektual. Bidang ini kemudian menjadi ciri utama kontribusi akademiknya dan membentuk reputasinya di lingkungan kajian pernaskahan dan sejarah intelektual Islam kawasan.
Kontribusi Kelembagaan dan Jaringan Global
Peran kelembagaan juga menonjol dalam kariernya. Pada periode 2008–2016, ia menjabat Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), memperkuat kolaborasi peneliti manuskrip. Ia turut menjadi penyunting jurnal internasional Studia Islamika terbitan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta.
Selain itu, ia pernah dipercaya sebagai Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada periode 2014–2015 dengan mandat penguatan akademik. Ia juga pernah menjadi Staf Ahli Menteri Agama Republik Indonesia Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi (2017-2021) di Kementerian Agama. Pada Desember 2019 hingga Oktober 2021, ia diangkat sebagai Juru Bicara Kementerian Agama dan sempat menjabat sebagai Pelaksana Tugas Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama (Oktober 2020-Maret 2021). Saat ini, ia juga diamanahi sebagai pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok yang didirikan oleh K.H. Achmad Sjaichu.
Jejaring internasionalnya dibangun lewat sejumlah fellowship dan posisi tamu. Ia menjadi peneliti tamu Alexander von Humboldt Stiftung di Cologne University (2006–2008), penerima Chevening Fellowship di Oxford (2010), serta visiting professor di TUFS Tokyo, Kyoto University, dan Osaka University dalam beberapa periode. Rangkaian pengalaman ini memperluas jangkauan risetnya sekaligus menempatkannya dalam percakapan global studi manuskrip.
Bersama timnya, ia juga berkontribusi dalam pelestarian manuskrip melalui program Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA). DREAMSEA merupakan program pelestarian manuskrip Asia Tenggara melalui repositori digital untuk naskah yang terancam atau terdampak kerusakan. Program ini dijalankan oleh PPIM UIN Jakarta bersama CSMC Universitas Hamburg, dengan dukungan filantropi Arcadia, London. Fokusnya mendigitalisasi manuskrip berbagai aksara dan bidang ilmu dari seluruh Asia Tenggara agar isi dan keragaman pengetahuan tetap terjaga serta dapat diakses oleh peneliti.

