Tafsir al-Maraghi dikenal luas sebagai salah satu kitab tafsir yang lahir di era modern. Karya monumental ini disusun dengan tujuan agar dapat dipahami oleh masyarakat umum, tidak hanya terbatas pada kalangan akademisi atau intelektual. Kehadirannya menjadi jawaban atas tingginya permintaan akan tafsir yang sederhana, jelas, dan mudah dijangkau oleh siapa pun yang ingin menyelami pesan-pesan Al-Qur’an.
Keunggulan utama tafsir ini terletak pada penyajiannya yang sistematis, runtut, dan penggunaan bahasa yang ringan. Penjelasan-penjelasannya dibuat ringkas namun tetap padat, memungkinkan pembaca menangkap makna ayat tanpa terbebani oleh istilah-istilah teknis yang rumit. Gaya penulisan yang komunikatif inilah yang menjadikan Tafsir al-Maraghi populer di berbagai kalangan.
Kitab ini merupakan buah karya ulama kontemporer sekaligus ahli sastra terkemuka, Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi. Beliau dikenal memiliki kemampuan bahasa dan wawasan yang luas, sehingga mampu menyusun tafsir yang mudah dicerna tanpa mengorbankan kedalaman makna. Artikel ini akan mengulas secara singkat biografi beliau sebagai pengarang Tafsir al-Maraghi.
Biografi Singkat Syekh Al-Maraghi
Syekh Al-Maraghi, dengan nama lengkap Syekh Ahmad bin Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Qadhi, lahir pada tahun 1883 M atau 1300 H. Beliau berasal dari desa Al-Marāghah, wilayah Girga, Mesir Hulu. Sebutan “Al-Maraghi” kemudian melekat sebagai nisbah yang merujuk pada daerah kelahirannya, sekaligus menjadi identitas khas yang dikenal luas di dunia keilmuan Islam.
Sejak kecil, Syekh Al-Maraghi tumbuh dalam lingkungan keluarga terhormat yang sangat menjunjung tinggi pendidikan, budaya membaca, dan nilai-nilai intelektual. Syekh Fadhil Hasan Abbas dalam karyanya At-Tafsir wal Mufassirun fil ‘Ashril Hadits, menulis bahwa keluarga Al-Maraghi dikenal sebagai “Keluarga Al-Qadhi”.
Sebutan tersebut menunjukkan reputasi kuat dalam bidang hukum Islam dan peradilan, di mana jabatan sebagai hakim (qadhi) telah diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga besar mereka. Lingkungan keluarga dengan tradisi keilmuan dan peradilan yang begitu kuat ini memberikan pengaruh besar pada pembentukan karakter dan perkembangan intelektual Syekh Al-Maraghi sejak usia dini.
Karier Akademik dan Pengajaran
Perjalanan pendidikan Syekh Al-Maraghi dimulai dari madrasah di desanya. Di sana, ia belajar membaca, memperbaiki bacaan, hingga menghafal Al-Qur’an. Sebelum berusia 13 tahun, beliau sudah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an, disertai pemahaman ilmu tajwid dan dasar-dasar ilmu agama.
Setelah lulus pendidikan dasar pada tahun 1314 H atau 1897 M, ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas al-Azhar di Kairo dan Universitas Darul ‘Ulum. Di Darul ‘Ulum, Syekh Al-Maraghi berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1909 M.
Selama menempuh pendidikan di al-Azhar dan Darul ‘Ulum, Syekh Al-Maraghi berguru kepada sejumlah tokoh besar. Di antaranya adalah Syekh Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Bukhait al-Muthi’, serta Ahmad Rifa’i al-Fayumi. Bimbingan para ulama terkemuka ini sangat membentuk pola pikir dan karakter intelektualnya, hingga ia dikenal sebagai cendekiawan yang menguasai hampir seluruh cabang ilmu agama.
Setelah menamatkan pendidikannya, Syekh Al-Maraghi mulai aktif sebagai pendidik. Ia mengajar di berbagai madrasah pemerintah dan kemudian dipercaya menjadi direktur Madrasah Mu’allimin di Fayum, sebuah prestasi luar biasa yang dicapai dalam waktu singkat.
Lebih jauh, catatan sejarah menyebutkan bahwa Syekh Musthafa al-Maraghi pernah menjadi dosen dan tinggal di Sudan. Pada tahun 1916, ia ditunjuk sebagai dosen tamu di salah satu fakultas filial yang berafiliasi dengan Universitas al-Azhar di Khartoum. Setahun kemudian, dari 1917 hingga 1921, ia juga mengajar di Gordon Memorial College sebagai Guru Besar Syariat Islam dan Bahasa Arab selama empat tahun. Lembaga ini kemudian berkembang menjadi University of Khartoum, universitas terbesar dan tertua di Sudan saat ini.
Pada tahun 1921, Syekh Musthafa Al-Maraghi kembali ke Mesir untuk mengajar. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa Arab dan Syariat Islam di Darul ‘Ulum, serta diberi amanah mengajar ilmu Balaghah (retorika) di Fakultas Bahasa Arab al-Azhar. Melalui tangan dinginnya, lahirlah banyak ulama dan cendekiawan yang kemudian menjadi kebanggaan berbagai lembaga keagamaan.
Pemikiran Syekh Al-Maraghi tentang Akal
Salah satu pemikiran Syekh Ahmad Al-Maraghi yang menarik adalah mengenai fungsi akal. Menurut Al-Maraghi, akal merupakan salah satu dari empat hidayah yang diberikan Allah kepada manusia. Sehubungan dengan fungsi akal itu, Al-Maraghi mengatakan:
“Secara naluriah, manusia memiliki keinginan untuk hidup bermasyarakat. Namun, ilham dan panca indra yang dimilikinya tidaklah cukup untuk menjalankan kehidupan sosial ini, sehingga akal sehat sangat dibutuhkan. Setiap manusia juga memiliki naluri (fitrah) yang mengakui adanya kekuasaan gaib yang mengatur alam semesta. Setiap kejadian yang tidak diketahui sebabnya selalu dikembalikan kepada kekuasaan gaib tersebut. Akal memang mampu menyimpulkan adanya kehidupan akhirat di balik dunia ini. Akan tetapi, akal memiliki keterbatasan: ia tidak bisa mengetahui apa saja kewajiban manusia terhadap penguasa alam (Allah), dan ia juga tidak mampu menemukan secara pasti apa yang akan membuatnya bahagia sejati dalam hidup. Oleh karena itu, manusia membutuhkan petunjuk agama (hidayah).” (Syekh Ahmad Al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Beirut Dar al-Fikr: 1974], jilid. 1, hlm. 135).
Berdasarkan penjelasan Al-Maraghi, akal manusia mampu menyimpulkan keberadaan Tuhan, atau yang ia sebut sebagai “kekuasaan gaib yang mengatur alam ini”. Akal juga sanggup mengetahui adanya alam akhirat di balik kehidupan dunia fana. Namun, akal memiliki batasnya: ia tidak dapat mengetahui secara pasti apa saja kewajiban manusia terhadap Tuhan, dan ia juga tidak bisa menentukan secara definitif apa sebenarnya yang menjadi sumber kebahagiaan sejati dalam hidup. Oleh karena itu, manusia membutuhkan petunjuk agama.
Sejalan dengan potensi akal yang mampu mengenal Tuhan, Al-Maraghi dalam bagian lain tafsirnya juga mengungkapkan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan fitrah atau naluri bawaan. Fitrah itu sendiri sudah terisi dengan nilai tauhid (keesaan Tuhan) sejak awal. Maka, akal sebagai anugerah Allah bagi manusia mampu mencerna dan meyakini keberadaan tauhid tersebut. Dengan kemampuan meyakini ini, akal secara otomatis juga dapat mengetahui siapa pengisi tauhid tersebut, yaitu Allah SWT.
Oleh karena itu, jika akal manusia mampu memproses dan meyakini konsep tauhid dengan baik, hal ini secara logis dan otomatis mengindikasikan bahwa akal juga mampu mengenal dan mengidentifikasi sumber dari tauhid tersebut, yaitu Allah SWT. Hubungan ini menegaskan bahwa pengenalan terhadap Tuhan adalah hal yang konsisten dan saling menguatkan, baik secara naluriah (fitrah) maupun secara rasional (akal).
Karya-Karya Ilmiah Syekh Ahmad al-Maraghi
Syekh Ahmad al-Maraghi meninggalkan sejumlah buku dan risalah yang menjadi warisan keilmuan berharga. Bidang balaghah (retorika) dan beberapa ilmu bahasa lainnya mendapat perhatian besar dalam karya-karya beliau, di samping studi fikih dan tulisan-tulisan lainnya. Berikut adalah daftar karya beliau:
Buku-buku
- Tafsir al-Quran al-Karim, dikenal sebagai Tafsir al-Maraghi, merupakan karya beliau yang paling terkenal.
- Ulumul Balaghah (Ilmu Retorika), sebuah buku yang menggabungkan metode Abdul Qahir al-Jurjani dan metode as-Sakkaki.
- Hidayatuth Thalib (Petunjuk bagi Pelajar), terdiri dari dua jilid: satu membahas nahwu dan tashrif, jilid kedua membahas tiga ilmu balaghah. Buku ini disusun sesuai kurikulum sekolah menengah.
- Mursyiduth Thalib (Pembimbing Pelajar), dalam ilmu balaghah menggunakan metode induktif.
- Tahdzibut Tawdhih (Penyempurnaan Penjelasan), dua jilid, masing-masing di bidang nahwu dan tashrif. Karya ini digunakan sebagai materi ajar di Al-Azhar.
- Buhuts wa Ara fi Fununil Balaghah (Penelitian dan Pandangan dalam Seni Retorika).
- Tarikh Ulumil Balaghah wa Tarif bi Rijaliha (Sejarah Ilmu Retorika dan Pengenalan Tokoh-Tokohnya).
- Ad-Diyanah wal Akhlaq (Agama dan Akhlak).
- Al-Mujaz fil Adabil Arabi (Ringkasan Sastra Arab).
- Al-Mujaz fil Ushul (Ringkasan dalam Ushul Fikih).
- Al-Muthalaah al-Arabiyyah lil Madaris as-Sudaniyyah (Bacaan Bahasa Arab untuk Sekolah-Sekolah Sudan).
- Taliqat ala Asraril Balaghah li Abdul Qahir al-Jurjani (Komentar atas Asrar al-Balaghah).
- Taliqat ala Dalailil Ijaz li Abdul Qahir al-Jurjani (Komentar atas Dalail al-Ijaz).
Risalah-risalah
- Risalah fi Musthalahil Hadits (Risalah tentang Ilmu Musthalah al-Hadits).
- Risalah fi Syarhi Tsulatsina Haditsan Mukhtarah (Penjelasan Tiga Puluh Hadis Pilihan).
- Tafsir Juz Innamas Sabil (Tafsir juz yang dimulai dengan ayat “Innamas sabil…” QS. Asy-Syura: 42).
- Zawjatun Nabi (Istri-Istri Nabi).
- Al-Hisbah fil Islam (Pengawasan Moral dan Pasar dalam Islam).
- Ar-Rifq bil Hayawan fil Islam (Kasih Sayang terhadap Hewan dalam Islam).
- Ruyatul Hilal fi Ramadhan (Penentuan Hilal di Bulan Ramadan).
- Fil Khutab wal Khutaba fid Daulatain al-Umayyah wal Abbasiyyah (Khutbah dan Para Khatib pada Masa Umayyah dan Abbasiyah).
Wafatnya Syekh Ahmad al-Maraghi
Selama menjalankan tugasnya di Mesir, Syekh Al-Maraghi tinggal di Hilwan, sebuah kota kecil di selatan Kairo, hingga akhir hayatnya pada tahun 1371 H atau 1952 M. Beliau wafat pada usia 69 tahun, tepatnya pada hari kesembilan, bulan ketujuh, tahun 1952 M (9 Juli 1952), di Kairo, pada masa Kerajaan Mesir modern.
Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi meninggalkan warisan keilmuan yang sangat berharga, salah satunya adalah Tafsir Al-Maraghi, sebuah karya monumental yang hingga kini menjadi rujukan penting dalam studi tafsir. (Manhaj Tafsir Al-Maraghi Karya Syekh Ahmad Mustafa Al-Maraghi, hlm. 356).

