Idul Fitri, yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Lebih dari itu, hari raya ini membawa makna mendalam tentang “kembali ke fitrah” yang perlu direfleksikan secara utuh oleh umat Islam.

Kolomnis Alwi Jamalulel Ubab dalam khutbah Idul Fitri berjudul “Refleksi Makna Kembali Ke Fitrah secara Utuh” menjelaskan bahwa Idul Fitri terdiri dari dua lafal: ‘Id yang berarti kembali, dan fithri atau fithrah yang memiliki tiga makna fundamental.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tiga Makna Fitrah dalam Idul Fitri

1. Kembali Suci dari Dosa

Makna pertama dari fithri adalah suci. Dengan demikian, Idul Fitri dapat diartikan sebagai momen bagi seseorang untuk kembali suci dari dosa-dosa. Kesucian ini, menurut Alwi, diperoleh melalui pemanfaatan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Sebuah hadits riwayat Ibnu Majah menegaskan hal ini. “Abu Salamah bin Abdurrahman berkata: iya, ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Saw menyebutkan bulan Ramadhan, Nabi bersabda: bulan di mana Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya, menyunnahkan ibadah di malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan mengisi malam harinya dengan ibadah dalam keadaan beriman dan mencari keridhaan, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari di mana ibunya melahirkannya,” demikian bunyi hadits tersebut.

Hadits ini mengingatkan umat Islam bahwa mereka yang mengisi Ramadhan dengan ibadah yang didasari keimanan dan harapan ridha Allah akan meraih kesucian dosa, layaknya bayi yang baru lahir.

2. Kembali pada Agama yang Benar

Makna kedua dari fithri adalah kembali pada agama yang benar. Penjelasan ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 30:

“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Ayat ini secara jelas menerangkan bahwa fitrah manusia adalah beragama Islam, agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Kembali pada Asal Kejadian

Makna ketiga, menurut Prof. Quraish Shihab, adalah fitri yang bermakna asal kejadian. Idul Fitri menjadi momentum untuk merefleksikan diri bahwa asal mula penciptaan manusia adalah dari tanah. Pemahaman ini seharusnya menumbuhkan sikap rendah hati dan menjauhkan kesombongan dalam kehidupan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.”

Dari ketiga makna tersebut, Alwi Jamalulel Ubab menyimpulkan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan biasa. Di dalamnya terkandung pesan penting bagi umat Islam untuk senantiasa memperbaiki kualitas hidup sesuai dengan tuntunan agama.