Perayaan Idul Fitri menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk merefleksikan kembali tujuan utama ibadah puasa Ramadhan, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. Ketakwaan, sebagai puncak pencapaian spiritual, dapat ditumbuhkan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan mengingat kebaikan-kebaikan yang telah Allah SWT berikan kepada hamba-Nya.

Dalam khutbah Idul Fitri 1447 H berbahasa Jawa yang berjudul “Prakawis-prakawis kang Saget Nuwuhake Raos Takwa” (Hal-hal yang Dapat Menumbuhkan Rasa Takwa), Ustadz Ajie Najmuddin, Wakil Ketua PC GP Ansor Boyolali, menguraikan sejumlah poin penting untuk mencapai derajat ketakwaan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tujuan Puasa dan Makna Ketakwaan

Ibadah puasa di bulan Ramadhan memiliki tujuan yang jelas, yakni membentuk insan yang bertakwa. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artosipun: “Héi éling-éling wong-wong kang padha iman, den fardhuaké ingatasé sira kabeh apa pasa. Kaya olehé difardhuaké pasa mau ingatasé umat-umat sakdurungé (umat Nabi Muhammad Saw.) Supaya (wong-wong mukmin) padha takwa marang Allah ta’ala.”

Puasa secara intrinsik selaras dengan tujuan ketakwaan. Melalui ibadah ini, seseorang dapat mengendalikan syahwat yang kerap menjadi sumber maksiat. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum, jalur masuk setan ke dalam diri manusia dapat dipersempit.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوع

Artosipun: “Saktemené setan iku mlebu/mili saking dalan aliran getihé anak Adam, kamangka gawé sempit dalan mlebuné (setan) mau, kelawan rasa luwé (pasa).” (HR Al-Bukhari).

Mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya bahkan dapat mencapai derajat yang melampaui malaikat, sebab manusia diciptakan dengan akal dan hawa nafsu, berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu.

Tanda-tanda Orang Bertakwa dalam Al-Qur’an

Selain melalui puasa, tanda-tanda orang yang bertakwa (muttaqin) juga dijelaskan dalam awal Surat Al-Baqarah ayat 3-4:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ

Artosipun: “(Utawi wong-wong kang padha takwa) yaiku kang padha percaya kang ghaib utawa ora katon mata (kaya Swarga, neraka, lan liya-liyané), ngelakoni shalat, lan nyokongaké sebagian saking bandane, lan iya wong kang padha percaya marang kebenarané kitab Al-Qur’an lan kitab-kitab kang diturunaké sakdurungé Al-Qur’an lan percaya marang akhirat.”

Ayat selanjutnya menegaskan bahwa mereka yang memiliki tanda-tanda tersebut adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah dan termasuk golongan yang beruntung.

Tiga Kunci Menumbuhkan Ketakwaan

Syekh Hasan Mas’udi dalam kitab Taisirul Khalaq fi ‘Ilmil Akhlak (halaman 3-4) menguraikan tiga hal yang dapat menumbuhkan rasa takwa:

  1. Mengagungkan Allah dan Merendahkan Diri. Mengakui keagungan Allah yang Maha Kuat dan Mulia, serta menyadari kelemahan dan kerendahan diri manusia. Momen Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk mengakui kelemahan diri, memohon rahmat dan ampunan dari Allah, serta saling memaafkan sesama.
  2. Mengingat Kebaikan dan Anugerah Allah. Senantiasa mengingat Dzat Allah yang Maha Baik serta segala karunia dan anugerah-Nya. Hal ini akan menambah rasa syukur dan ketakwaan kepada-Nya.
  3. Mengingat Kematian dan Kehidupan Akhirat. Menyadari bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan mati, dan setelah itu akan ada alam barzah, alam akhirat, serta berbagai peristiwa yang seharusnya menjadi pengingat saat menjalani kehidupan di dunia.

Allah SWT berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Artosipun: “Sejatine ketungkul kelawan dunya iku namung dolanan lan lelahanan (sebab énaké namung sedhéla banget). Lan sayektine desa akhirat iku luwih bagus tumerap wong-wong kang padha takwa. Apa sira ora padha bisa mikir?” (QS Al-An’am ayat 32).

Meraih Ridha Allah Melalui Amal Saleh

KH Bisri Musthofa dalam Tafsir Al-Ibriz (juz VI halaman 288) menjelaskan bahwa ridha Allah dapat diperoleh dengan melakukan ketaatan dan amal saleh. Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana seruan dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 35:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artosipun: “Héi wong-wong kang padha iman, sira kabeh padha takwa marang Allah. Lan padha nuprih lantaran tumuju marang ridhané, lan padha jihad ing dalem dalan ngagungake agamané Allah, supaya sira kabeh dadi wong kang begja.”

Selain itu, Allah SWT juga menyeru hamba-Nya untuk bersegera menuju ampunan dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disediakan bagi orang-orang bertakwa. Ciri-ciri mereka dijelaskan dalam QS Ali Imran ayat 133-134:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan senantiasa memaafkan sesama manusia. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Pada akhirnya, khutbah ini mengajak seluruh umat Muslim untuk senantiasa memohon agar dijadikan golongan orang-orang yang bertakwa, beruntung di dunia dan akhirat, diampuni segala dosa, diterima amal ibadahnya, serta dikumpulkan bersama keluarga, guru, dan Nabi Muhammad SAW di surga Allah SWT. Amin.