Perkembangan teknologi yang signifikan telah mengubah laju kehidupan masyarakat modern menjadi serba cepat. Tuntutan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi mengejar target pekerjaan kian intens, membuat roda kehidupan berputar lebih kencang dari sebelumnya. Dalam pusaran ini, tujuan utama kehidupan kerap kali tampak kabur, memicu kekhawatiran akan hilangnya arah sejati.
Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh M. Syarofuddin Firdaus, seorang kolomnis NU Online sekaligus Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat. Dalam khutbahnya, Firdaus mengingatkan umat untuk meningkatkan keberagamaan dan ketakwaan di tengah zaman yang cenderung materialistik dan instan, agar orientasi utama kehidupan terhadap akhirat tidak sirna.
Pusaran Waktu dan Kecanggihan Teknologi
Firdaus mengajak jamaah untuk merenungi perjalanan hidup. Waktu terasa berjalan begitu cepat; bangun pagi, beraktivitas, dan tiba-tiba sudah sore. Rutinitas ini berulang setiap hari, dari pekan ke pekan, bulan ke bulan, hingga berganti tahun. Kesan waktu yang berjalan lebih cepat ini bahkan dirasakan oleh masyarakat desa yang beraktivitas di sawah, kebun, atau toko.
“Entah karena sudah terlena dengan aktivitas yang dijalani sehingga tidak ada aktivitas lain selain menyelesaikan pekerjaan utamanya. Atau ada unsur keberkahan waktu yang mulai dicabut sehingga perputaran rotasi alam menjadi lebih cepat,” ujar Firdaus.
Kecanggihan teknologi turut mempercepat laju kehidupan. Berbagai gawai yang dulu tak terbayangkan kini hadir, sarana transportasi membuat jarak terasa dekat, dan pembangunan gedung pun tak lagi memerlukan waktu lama. Semua ini menuntut setiap sendi kehidupan dijalani dengan serba cepat, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu target ke target berikutnya, dan dari satu tempat ke tempat lain.
Bahaya Fokus Duniawi dan Ibadah Formalitas
Arus kehidupan yang memaksa gerak cepat ini sering kali membuat fokus hanya tertuju pada pencapaian duniawi. Pola pikir seolah dibentuk untuk memikirkan apa yang ada di hadapan: menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, bahkan melampauinya demi bonus dan penghargaan. Pola ini, jika dibiarkan, dapat menjebak seseorang dalam cara berpikir pragmatis dan materialistik.
“Akibat yang paling berbahaya adalah kita menjadi terlalu sibuk mengurus urusan dunia, sementara urusan akhirat justru terabaikan,” tegas Firdaus.
Bahkan, kewajiban agama seperti salat, puasa, zakat, dan sedekah bisa jadi masih ditunaikan, namun sering kali hanya sebatas formalitas atau untuk menggugurkan kewajiban. Ketika salat, misalnya, secara fisik gerakan dilakukan, tetapi pikiran justru dipenuhi urusan dunia, sehingga hati tidak hadir dan kekhusyukan menghilang.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya, "Wahai orang-orang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barang siapa melakukan demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi," (QS. al-Munafiqun: 9).
Syekh al-Maraghi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pesan agar seorang mukmin menjalani kehidupan secara seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Perhatian terhadap urusan dunia tidak boleh mendominasi dan mengalahkan kepedulian terhadap akhirat, terlebih karena kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat adalah kekal.
Dunia sebagai Tumpangan, Bukan Beban
Firdaus juga mengutip ayat lain yang mempertegas hakikat kehidupan dunia:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Artinya, “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling bermegah-megahan di antara kalian, serta berlomba-lomba dalam memperbanyak harta dan anak keturunan,” (QS. al-Hadid: 20).
Banyak orang bekerja keras menumpuk harta kekayaan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk anak cucu. Padahal, semua akan kembali kepada-Nya. Kehidupan sejati bagi seorang mukmin adalah kehidupan akhirat, sehingga arah dan orientasi hidup seharusnya tertuju pada akhirat, bukan semata-mata pada dunia.
Malik bin Dinar dalam Hilyah al-Awliya’, jilid 2 halaman 357, pernah berkata:
الدُّنْيَا مَطِيَّةٌ، إِنْ رَكِبْتَهَا حَمَلَتْكَ، وَإِنْ حَمَلْتَهَا قَتَلَتْكَ
Artinya, "Dunia itu seperti tunggangan. Jika kamu menungganginya (mengendalikannya), ia akan membawamu. Namun jika engkau memikulnya (dikuasai olehnya), ia akan membinasakanmu."
Oleh karena itu, umat Islam harus berupaya agar dunia tidak mengendalikan hidup, melainkan kitalah yang mengendalikannya. Dunia harus berada dalam genggaman dan dimanfaatkan secara bijak sesuai tuntunan agama.
Manfaatkan Lima Perkara Sebelum Datang Lima Perkara
Nabi Muhammad SAW juga pernah menasihati seseorang sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.”
Melalui nasihat ini, Rasulullah SAW mengingatkan umat agar tidak melupakan urusan akhirat dengan memperbanyak ibadah, baik yang bersifat personal maupun sosial. Dengan menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, tujuan utama hidup sebagai seorang mukmin akan tetap terarah, yaitu meraih kebahagiaan akhirat. Dunia dijadikan sebagai sarana dan ladang untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya demi kehidupan yang kekal kelak.

