Bulan suci Ramadhan telah berlalu, meninggalkan kenangan ibadah yang begitu indah. Namun, pertanyaan krusial muncul: apakah amal ibadah yang telah kita lakukan selama Ramadhan telah diterima oleh Allah SWT? Menurut Ustadz H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung, tanda diterimanya amal justru terletak pada kemampuan seseorang untuk istiqamah atau konsisten dalam kebaikan setelah Ramadhan.
Ustadz Faizin menjelaskan bahwa Ramadhan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan sebuah titik awal untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas kebaikan. “Meskipun sedikit, amal yang dilakukan secara konsisten itulah yang paling bernilai di sisi Allah,” ujarnya dalam khutbah Jumat yang disampaikan pada Kamis, 19 Maret 2026.
Istiqamah: Tanda Diterimanya Amal
Para ulama memberikan isyarat jelas mengenai diterimanya amal ibadah, yakni saat seseorang mampu mempertahankan kebaikan setelah Ramadhan. Jika semangat ibadah tetap terjaga, hal itu menjadi indikasi positif bahwa Ramadhan telah memberikan pengaruh mendalam dalam kehidupan.
Syekh Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Lathatiful Ma’arif menjelaskan:
مَنْ عَمِلَ طَاعَةً مِنَ الطَّاعَاتِ وَفَرِغَ مِنْهَا فَعَلَامَةُ قَبُوْلِهَا أَنْ يَصِلَهَا بِطَاعَةٍ أُخْرَى
Artinya: “Siapa yang melakukan suatu amal ibadah dan telah rampung melaksanakannya, maka tanda diterima amal tersebut adalah diiringi dengan amal ibadah yang lain.”
Sebaliknya, jika amal ibadah tidak diterima, maka ia akan diikuti dengan kemaksiatan. Ibnu Rajab al-Hambali melanjutkan:
وَعَلَامَةُ رَدِّهَا أَنْ يَعْقِبَ تِلْكَ الطَاعَةَ بِمَعْصِيَةٍ مَا أَحْسَنَ اْلحَسَنَةَ بَعْدَ السَّيِّئَةِ تَمْحُوْهَا وَأَحْسَنُ مِنْهَا بَعْدَ الْحَسَنَةِ تَتْلُوْهَا
Artinya: “Sebaliknya, jika amal ibadah itu tidak diterima oleh Allah ta’âlâ, maka amal tersebut diiringi dengan kemaksiatan. Betapa baik amal ibadah yang dilakukan setelah perbuatan maksiat sehingga menghapus dosa maksiat. Lebih baik lagi jika amal ibadah tersebut diikuti oleh ibadah berikutnya.”
Istiqamah, menurut Ustadz Faizin, bukan berarti harus melakukan ibadah sebanyak di bulan Ramadhan, melainkan bagaimana konsistensi dalam ketaatan dapat terus dijaga, meskipun dalam jumlah yang kecil. Allah SWT menyukai amal yang dilakukan terus-menerus, walau sedikit, sebagai bukti keikhlasan dalam beribadah.
Tantangan Pasca-Ramadhan dan Janji Allah
Setelah Ramadhan, tantangan untuk menjaga istiqamah justru semakin besar. Suasana yang mendukung ibadah, seperti masjid yang ramai dan lantunan Al-Qur’an yang terdengar di mana-mana, kini kembali seperti biasa. “Di sinilah letak ujian yang sebenarnya,” kata Ustadz Faizin.
Ia mengajak jamaah untuk merenungkan apakah shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an setiap hari, menjaga lisan dari ghibah, dan bersedekah masih tetap dilakukan. Jika jawabannya adalah “ya”, maka itu adalah tanda kebaikan. Namun, jika kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai Ramadhan, maka itu menjadi bahan muhasabah diri.
Istiqamah adalah kunci keselamatan. Allah SWT menjanjikan ketenangan hidup bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam QS Fushshilat ayat 30:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Menjaga Semangat Ramadhan
Ustadz Faizin menekankan pentingnya menjaga amalan yang telah dilakukan selama Ramadhan, tidak harus banyak, tetapi harus konsisten. Ini termasuk menjaga shalat lima waktu, melanjutkan membaca Al-Qur’an meskipun hanya beberapa ayat setiap hari, membiasakan bersedekah, serta memperbanyak dzikir dan doa.
Selain itu, ia juga menganjurkan untuk menyempurnakan ibadah dengan melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Amalan ini menjadi salah satu bentuk bukti keinginan untuk terus melanjutkan semangat Ramadhan dalam kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa puasa Ramadhan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).
Sebagai penutup, Ustadz Faizin mengajak umat Muslim untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan yang berkelanjutan, bukan sekadar rutinitas tahunan. “Jangan sampai kita menjadi hamba yang rajin beribadah hanya di bulan Ramadhan, tetapi lalai di bulan-bulan lainnya,” pungkasnya.

