Keadilan merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran Islam, termasuk dalam konteks hubungan keluarga. Nabi Muhammad SAW secara tegas mengingatkan para orang tua untuk senantiasa berlaku adil terhadap anak-anak mereka. Pesan ini termaktub dalam sebuah hadis yang menjadi pedoman penting bagi umat Muslim dalam mendidik dan memperlakukan buah hati.

Hadis tentang Keadilan Terhadap Anak

Hadis yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir ini berbunyi:

Scroll Untuk Lanjut Membaca

اِتَّقُوْا اللهَ وَاعْدِلُوْا فِي أَوْلَادِكُمْ

Artinya: “Bertaqwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu.”

Latar Belakang Turunnya Hadis (Asbabul Wurud)

Konteks atau asbabul wurud hadis ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai urgensi pesan tersebut. Diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir, ia mengisahkan pengalaman ayahnya yang datang kepada Rasulullah SAW.

“Ayahku telah datang kepada Rasulullah SAW. Ia berkata: ‘Aku telah memberi harta kepada anakku ini.’ Tanya Rasulullah SAW: ‘Apakah seluruh anakmu kauberi?’ berkata ayahku: ‘tidak.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda: ‘Kembalilah kamu, takutlah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu!'”

Nu’man melanjutkan, “akhirnya ayahku pulang dan Dia membatalkan pemberiannya itu.”

Implikasi Keadilan dalam Pengasuhan Anak

Kisah Nu’man bin Basyir ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keadilan dalam segala bentuk pemberian, baik materi maupun non-materi. Rasulullah SAW tidak hanya memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, tetapi juga secara spesifik mengaitkannya dengan perlakuan adil terhadap anak.

Keadilan yang dimaksud mencakup berbagai aspek, seperti pemberian kasih sayang, perhatian, pendidikan, hingga warisan atau hadiah. Memperlakukan anak secara tidak adil dapat menimbulkan rasa cemburu, iri hati, dan bahkan permusuhan di antara saudara. Hal ini berpotensi merusak ikatan persaudaraan dan keharmonisan dalam keluarga.

Para orang tua dianjurkan untuk memastikan bahwa setiap anak merasa dicintai, dihargai, dan mendapatkan hak yang setara sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Meskipun bentuk pemberian mungkin berbeda karena usia atau kebutuhan, esensi keadilan adalah memastikan tidak ada anak yang merasa dianakemaskan atau dianaktirikan.

Dengan menerapkan prinsip keadilan ini, orang tua tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga membangun fondasi keluarga yang kuat, penuh cinta, dan harmonis, serta mendidik anak-anak untuk menjadi pribadi yang adil di masa depan.