Dalam ajaran Islam, setiap aktivitas sehari-hari memiliki nilai ibadah dan anjuran untuk mendatangkan keberkahan, termasuk dalam hal makan. Salah satu praktik yang dianjurkan adalah makan secara berjama’ah atau bersama-sama, yang diyakini membawa berkah dan mempererat tali silaturahmi.
Keutamaan Makan Berjama’ah dalam Islam
Anjuran untuk makan berjama’ah ini tertuang dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang keutamaan berkumpul saat menyantap hidangan. Hadis tersebut berbunyi:
اِجْتَمَعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ يُبَارَكُ لَكُمْ فِيْهِ
Hadis ini memiliki arti: “Berjama’ahlah kalian diwaktu makan, sebutlah asma Allah, niscaya diberirya kalian barkah.” Pesan ini secara jelas menekankan pentingnya kebersamaan dan mengingat nama Allah SWT saat makan untuk memperoleh keberkahan.
Asbabul Wurud: Latar Belakang Hadis Makan Berjama’ah
Latar belakang atau asbabul wurud dari hadis tentang makan berjama’ah ini diriwayatkan oleh Abu Daud. Kisah ini bermula ketika para sahabat Rasulullah SAW mengeluhkan kondisi mereka yang sering merasa tidak kenyang meskipun telah makan. Mereka menyampaikan keluhan tersebut kepada Nabi Muhammad SAW:
Menurut keterangan Abu Daud, sahabat-sahabat Rasulullah SAW mengeluh: “Ya Rasulullah SAW sesungguhnya kami makan dan tidak pernah kenyang.”Tanya Rasulullah SAW: “Boleh jadi kalian makan berpisah-pisah?.”Jawab mereka: “Ya.”kemudian Beliau bersabda: “Berjama’ahlah? dan seterusnya.”
Dari dialog tersebut, Rasulullah SAW kemudian memberikan petunjuk agar mereka makan secara berjama’ah. Ini menunjukkan bahwa kebersamaan dalam makan bukan hanya sekadar tradisi, melainkan sebuah anjuran yang memiliki hikmah mendalam untuk mendatangkan rasa cukup dan keberkahan dari Allah SWT.
