Konsep kecemburuan atau ghirah memiliki posisi penting dalam ajaran Islam, tidak hanya sebagai sifat manusiawi tetapi juga sebagai atribut ilahi. Sebuah hadis populer mengisahkan respons Nabi Muhammad SAW terhadap pernyataan salah seorang sahabatnya, Sa’ad bin Ubadah, yang menunjukkan tingkat kecemburuan yang mendalam.

Menurut riwayat Al-Mughirah, Sa’ad bin Ubadah pernah menyatakan,

“Jika aku melihat seorang laki-laki berduaan dengan istrimu pasti akan kupukul laki-laki itu dengan pedang tanpa ampun.”
Pernyataan tegas Sa’ad ini kemudian disampaikan kepada Rasulullah SAW.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW memberikan tanggapan yang menggarisbawahi makna ghirah yang lebih luas dan mendalam. Beliau bersabda:

Hadis tentang Kecemburuan (Ghirah)

أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ وَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّيْ وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ اللهُ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Artinya: “Apakah kalian heran terhadap kecemburuan Sa’ad. Demi Allah aku lebih cemburu Daripadanya dan Allah lebih cemburu Dari pada aku. di antara cemburunya Allah adalah Dia telah mengharamkan perkara-perkara yang keji, baik yang lahir ataupun yang batin.”

Hadis ini menjelaskan bahwa kecemburuan, atau ghirah, tidak hanya dimiliki oleh manusia seperti Sa’ad dan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga merupakan sifat Allah SWT. Kecemburuan Allah inilah yang menjadi dasar pengharaman segala bentuk perbuatan keji (fawahisy), baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Pengharaman ini mencakup segala tindakan yang melanggar batas-batas moral dan etika dalam Islam, menegaskan pentingnya menjaga kehormatan diri dan keluarga serta menjauhi dosa-dosa besar.