Sebuah hadis yang dikenal dengan sebutan “Rezeki Seorang Mukmin” kerap menjadi perbincangan di kalangan umat Islam, terutama terkait makna dan keabsahannya. Hadis ini menyatakan, “Allah enggan memberi rezeki seorang hambanya yang beriman kecuali Dari arah yang tidak terduga.”
Konteks munculnya hadis ini, atau yang dikenal sebagai Asbabul Wurud, bermula ketika Abu Bakar, Umar, dan Ali berkumpul untuk membicarakan suatu hal. Ali kemudian mengusulkan untuk menanyakan perihal tersebut kepada Rasulullah SAW. Setibanya di hadapan Beliau, Ali menyampaikan, “Ya Rasulullah SAW, kami datang kepadamu untuk menanyakan sesuatu.”
Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Jika kalian ingin bertanya, silakan saja dan akan aku terangkan kepada kalian tentang maksud kedatangan kalian sendiri. Bukankah kalian datang untuk menanyakan rezeki, Dari mana dan bagaimana datangnya?” Para sahabat membenarkan pertanyaan Rasulullah SAW tersebut. Maka, Beliau bersabda, “Allah enggan memberi rezeki seorang hambanya yang beriman kecuali Dari arah yang tidak terduga.”
Al-‘Askari juga meriwayatkan hadis serupa dengan sedikit perbedaan lafaz, yaitu, “Allah enggan memberikan rezekinya kepada orang yang beriman kecuali Dari arah yang tidak mereka duga.”
Perdebatan Keabsahan Hadis di Kalangan Ulama
Meskipun populer, hadis “Rezeki Seorang Mukmin” ini menghadapi perdebatan serius mengenai status keabsahannya di kalangan ulama hadis. Beberapa ulama terkemuka menyatakan hadis ini sebagai dha’if (lemah).
Al-Munawi, Ibnu Hibban, dan Al-‘Iraqi termasuk di antara ulama yang menggolongkan hadis ini sebagai dha’if. Bahkan, Ibnu Al Jauzi melangkah lebih jauh dengan menilainya sebagai maudhu’ (palsu) atau hadis yang dibuat-buat.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya diterima. Penyusun kitab “Kasyful Iltibas” membantah kepalsuan hadis ini. Menurutnya, substansi masalah rezeki dari arah tak terduga juga termaktub dalam Al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah At-Thalaq ayat 3: “Barang siapa bertaqwa kepada Allah, Dia akan menunjukkan jalan keluar kepadanya dan akan memberikan rezeki kepadanya Dari arah yang tidak terduga.”
Argumentasi ini menunjukkan bahwa meskipun sanad hadis diperdebatkan, makna inti yang terkandung di dalamnya memiliki dukungan dari ayat suci Al-Quran, sehingga relevansinya tetap menjadi pembahasan penting dalam kajian keislaman.

