Oleh: Aulia Azhara

Tanah surga, katanya.
Tapi belakangan, yang sering muncul justru berita tentang tanah yang diperebutkan, digusur, dijual, atau ditinggalkan. Sawah yang berubah papan proyek. Hutan yang tinggal nama. Laut yang makin jauh dari nelayan yang lahir di sekitarnya. Surga yang kita banggakan itu terasa seperti sesuatu yang perlahan menjauh, bukan karena diambil orang lain, melainkan karena kita sendiri tak lagi tahu cara menjaganya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kalimat itu, jika dibaca pelan-pelan, sebenarnya bukan sekadar sanjungan. Ia adalah amanah. Tanah surga bukan berarti tanah tanpa luka, tapi tanah yang menuntut tanggung jawab lebih besar. Dan di situlah masalahnya bermula: kita senang dengan sebutan surgawi, tapi sering lupa dengan konsekuensi etisnya.

Dalam banyak buku yang membahas bangsa-bangsa besar, ada satu pola yang berulang: kehancuran jarang datang karena kekurangan sumber daya. Ia datang karena manusia kehilangan relasi batin dengan tanah tempat ia berpijak. Ketika tanah hanya dipahami sebagai angka, sertifikat, atau komoditas, maka konflik tinggal menunggu waktu.

Fenomena hari ini memperlihatkan itu dengan jelas. Kita hidup di negeri yang kaya, tapi terus merasa terancam. Kita bangga dengan alam, tapi cepat sekali lelah membelanya. Kita menyanyikan puisi tentang ibu pertiwi, namun sering tak sabar mendengar keluhan ibu itu sendiri.

“Tanah kita tanah surga” lalu berubah makna. Bukan lagi ruang hidup bersama, melainkan slogan yang diulang saat upacara, sementara di luar pagar, kenyataan berjalan ke arah lain.

Yang menyedihkan, banyak pertengkaran hari ini bukan terjadi karena orang asing datang merampas, tetapi karena sesama anak negeri saling meniadakan. Petani berhadapan dengan perusahaan. Warga berhadapan dengan kebijakan. Alam berhadapan dengan ambisi. Semua merasa benar, semua membawa alasan, tapi tanah selalu menjadi pihak yang paling sunyi.

Dalam literatur lama—baik sastra, filsafat, maupun teks-teks keagamaan—tanah tidak pernah digambarkan sebagai benda mati. Ia disebut ibu, asal, tempat kembali. Ia menerima segalanya: darah, keringat, doa, bahkan dosa. Tapi hari ini, kita memperlakukannya seperti barang yang bisa diganti, dipindah, atau dilupakan.

Mungkin masalahnya bukan pada tanahnya, melainkan pada cara kita memaknainya. Surga bukan tempat tanpa konflik, tapi tempat di mana manusia tahu batas. Tahu kapan harus berhenti. Tahu bahwa tidak semua yang bisa diambil memang pantas diambil.

Ketika orang-orang dulu menyebut tanah ini surga, barangkali yang mereka maksud bukan kelimpahan semata, tapi keseimbangan. Harmoni antara manusia dan alam, antara kebutuhan dan kesadaran. Dan keseimbangan itu tidak datang dari slogan, melainkan dari laku sehari-hari yang pelan, konsisten, dan sering kali tidak heroik.

Menjawab fenomena hari ini, kita mungkin perlu berhenti sejenak dari kalimat besar, lalu kembali ke pertanyaan sederhana: masihkah kita merasa berhutang pada tanah ini? Atau kita sudah menganggapnya sekadar latar belakang hidup yang bisa diganti kapan saja?

Jika tanah ini benar-benar surga, maka ia layak diperlakukan dengan adab. Dan jika kita terus kehilangan adab itu, jangan heran jika surga terasa makin asing, meski kita masih berdiri di atasnya.