Melibatkan Para Ulama, Ganjar Terapkan Gerakan Cinta Zakat Untuk Mengatasi Kemiskinan di Jawa Tengah

Melibatkan Para Ulama, Ganjar Terapkan Gerakan Cinta Zakat Untuk Mengatasi Kemiskinan di Jawa Tengah
Gambar: https://humas.jatengprov.go.id/

Oleh: Taufik Damas, (Jamaah Muhibbin Ning Atikoh Ganjar Nusantara)

Calon presiden, Ganjar Pranowo melakukan silaturahmi dengan para pengasuh pondok pesantren se-Sumatera Utara yang diselenggarakan di Pesantren Darularafah Raya, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (10/11/2023). Pada pertemuan tersebut Ganjar mengutarakan perihal pentingnya peran para tokoh agama dalam menyelesaikan berbagai masalah di masyarakat. Ganjar Pranowo dikenal sosok pemimpin yang sangat dekat dengan para ulama, bahkan Ia sering kali meminta pendapat para ulama sebagai pijakannya dalam mengambil kebijakan.

Seperti yang pernah disampaikan oleh Gus Yasin, putra KH. Maimoen Zubair, yang merupakan pasangan Ganjar Pranowo ketika menjadi Gubernur Jawa Tengah. “Selama saya mendampingi Mas Ganjar, saya benar-benar melihat bahwa beliau pemimpin yang dekat dengan ulama. Beliau sering mendengarkan masukan dari para ulama. Dan dengan saya, hubungannya sangat baik karena saling berbagi tugas,” ungkap Gus Yasin yang dikutip dari media iNews.id. Termasuk salah satu kebijakan Ganjar Pranowo yang melibatkan peran para ulama yaitu soal pengelolaan zakat. Atas kebijakan tersebut, angka kemiskinan di Jawa Tengah menjadi menurun drastis. “Suatu ketika saya jadi Gubernur Jawa Tengah, persoalan yang ada di masyarakat itu gampang diselesaikan, ketika tokoh agama berkumpul, bertemu dan berdialog seperti ini,” ucap Ganjar Pranowo dalam pertemuan silaturahmi dengan para pengasuh pondok pesantren se-Sumatera Utara.

Ganjar kemudian bercerita, suatu ketika mendapatkan aduan berbagai masalah dari masyarakat Jawa Tengah, ada yang terkait kebutuhan finansial, seperti belum bayar cicilan, terlilit hutang hingga biaya rumah sakit. Ganjar mengakui pada saat itu APBD Jawa Tengah terbatas, terutama pada saat pandemi Covid-19. Lalu Ganjar berdiskusi dengan para tokoh agama untuk mengembangkan zakat, infak, serta sedekah yang dilakukan oleh pegawai Pemprov Jateng. Waktu itu dari sekitar 40 ribu pegawai pemprov Jateng, zakat yang diperoleh hanya sekitar Rp 100 juta sampai Rp 200 juta, tentu hal ini masih belum maksimal.

Baca Juga  Dari Hasil Istikharah Serta Tawassul Kepada KH. Abdul Hamid Pasuruan, Ibu Nyai Hj. Kuni Zakiyah Idris Memberikan Dukungannya untuk Pasangan Ganjar-Mahfud MD

Akhirnya Ganjar Pranowo menggandeng para ulama untuk memberikan ceramah keagamaan tentang zakat. Tidak sampai dua bulan, semua pegawai Pemprov Jateng yang beragama Islam sepakat untuk membayar zakat. Hasilnya, pegawai Pemprov Jateng pada membayar zakat melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang terkumpul mencapai Rp 6 miliar per bulan. “Saya minta para ulama tiap hari keliling ke seluruh dinas, sebelum bekerja mereka kasih kultum, cukup dua bulan, pegawai menyatakan iya (bayar zakat). Dulu dari Rp 200 juta, Alhamdulillah, sekarang Rp 6 miliar. Kemudian sekarang bertambah besar,” ungkap Ganjar.

Zakat yang sudah dikumpulkan tersebut lalu disalurkan kepada masyarakat untuk mengatasi kemiskinan yang ekstrim dan untuk bantuan sosial. Sedangkan menurut ketua Baznas Jateng KH. Ahmad Darodji, potensi zakat di Jateng sangat strategis dalam upaya pengentas kemiskinan. Satu kabupaten/ kota rata-rata mampu mengumpulkan kurang lebih Rp 5 miliar per tahun. Apabila besaran tersebut dikumpulkan dari 35 kabupaten/ kota di Jateng dan ditambah dari Pemprov Jateng menjadi sebesar Rp 70 miliar – Rp 75 miliar per tahun.

Tingginya potensi zakat di Jateng, lanjut Darodji, tidak lepas dari peran Gubernur dan Wakil Gubernur, yaitu Ganjar Pranowo dan Gus Yasin, yang terus mendorong ASN dalam mengeluarkan zakat. Sehingga Baznas Jateng turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam penanggulangan kemiskinan di Jawa Tengah. Di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo dan Gus Yasin, Jawa Tengah menjadi role model dalam pengelolaan zakat. Program Gerakan Cinta Zakat ini dinilai sangat berhasil diterapkan di Jawa Tengah. Selain untuk mengentas kemiskinan, zakat para ASN juga dimanfaatkan secara produktif, di antaranya membangun sekolah, sertifikasi guru madrasah diniyah, serta rumah sakit.

Tinggalkan Balasan