Kadang kita merasa hidup ini seperti dikendalikan oleh keputusan atasan. Saat ada pekerjaan, hati terasa lega. Tapi ketika pekerjaan berhenti, kecemasan datang bertubi-tubi. Kita merasa masa depan berada di tangan orang lain. Padahal, apakah benar nasib kita sepenuhnya ditentukan manusia?
Masalahnya, tanpa disadari, kita terlalu bergantung pada atasan dan pimpinan. Kita menunggu instruksi, menunggu proyek, menunggu peluang diberikan, seolah hidup kita hanya bergerak jika orang lain mengizinkan. Pelan-pelan, keberanian hilang. Kita takut melangkah sendiri. Kita lupa bahwa Allah selalu membuka jalan bagi orang yang mau mendekat kepada-Nya. Allah berfirman, “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2). Jadi sebenarnya, jalan hidup kita tidak pernah hanya satu pintu.
Akar masalah ini sering kali bukan sekadar soal penghasilan, melainkan soal keyakinan. Kita lebih percaya pada jabatan, perusahaan, atau figur manusia, dibanding kepada Allah yang sesungguhnya memberi rezeki. Padahal Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58). Manusia hanyalah perantara. Pintu rezeki bisa datang dari mana saja, selama kita tetap berada di jalan yang halal dan diridai.
Karena itu, langkah pertama adalah menebalkan iman. Iman membuat hati tenang: kita bekerja sungguh-sungguh, tetapi tidak panik pada hasil, sebab kita yakin Allah mengatur segalanya. “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Dengan iman, kita belajar bahwa yang kita lakukan adalah ikhtiar; sementara hasil selalu dalam genggaman Allah.
Setelah hati menguat, tiba saatnya mengenali potensi diri. Setiap orang membawa karunia yang berbeda. Jika Allah memberi kemampuan, berarti ada amanah untuk mengembangkannya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Maka, bertanyalah pada diri: apa yang bisa kukerjakan, apa yang bisa kupelajari, dan bagaimana caranya memberi manfaat.
Namun potensi saja tidak cukup. Kita perlu meningkatkan keterampilan. Dunia berubah cepat, dan mereka yang berhenti belajar akan tertinggal. Menuntut ilmu bukan kewajiban yang kaku; justru itulah jalan kemuliaan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Dengan ilmu, cara berpikir menjadi lebih matang, peluang terbuka lebih luas, dan rezeki dicari dengan cara yang lebih terhormat.
Semua itu membutuhkan proses. Tidak ada hasil besar yang datang seketika. Perubahan terjadi perlahan, tapi konsisten. Nabi bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedikit demi sedikit, kita akan melihat hidup bergerak ke arah yang lebih baik.
Wallahu A’lam.
Ali Adhim,
Green Mutiara Java Regency PN 24, Minggu 4 Januari 2026.

