Opini  

Bisakah Manusia Berpikir Tanpa Logika?

Bisakah Manusia Berpikir Tanpa Logika - dawuh guru
Gambar: Sindulin

Oleh: Zahrotul Kamilah

Al-Ghazâli pernah mengungkapkan dalam kitabnya yang berjudul “al-Mustashfâ min ‘Ilm al-Ushûl” mengenai pentingnya logika, yakni: “logika adalah pendahuluan bagi semua ilmu pengetahuan, oleh karenanya barang siapa tidak menguasainya, maka ilmunya tidak dapat dipercaya”. Ungkapan ini cukup masyhur dikalangan para ahli filsafat tentang peran logika dalam hal berpikir.

Aristoteles seorang bapak logika juga mengemukakan hal yang serupa dengan yang dikemukakan oleh al-Ghazali, ia mengatakan bahwasanya “logika benar-benar merupakan sebuah alat bagi seluruh ilmu pengetahuan”. Baginya tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak didasari dengan logika, karena pada hakikatnya sebuah ilmu pengetahuan tanpa logika tidak akan mencapai suatu kebenaran ilmiah.

Ada juga seorang ahli yang berpendapat bahwa logika merupakan suatu metode untuk meneliti atau mengidentifikasi ketepatan suatu kebenaran. Jadi, dalam pandangan ini logika tidak dipandang sebagai ilmu, melainkan dipandang sebagai sebuah metode untuk mencapai suatu kebenaran. Dengan begitu, logika membantu manusia dalam berpikir lurus, efisien, tepat dan juga teratur untuk mendapatkan kebenaran yang dituju dan menghindari kekeliruan.

Sebagaimana yang telah menjadi pemandangan lumrah di era globalisasi, maraknya orang yang berspekulasi atau berargumentasi serta menyimpulkan sesuatu tanpa mencerna lebih dalam mengenai data-data yang akan dijadikan ladang berargumen, sehingga dapat mengakibatkan kerugian bagi siapapun yang terlibat didalamnya. Hal tersebut juga telah menjadi suatu momok yang buruk di era globalisasi saat ini.

Penggunaan argumen dalam berbagai konteks haruslah didasari dengan kadar keilmuan dan logika, termasuk juga dalam hal filsafat, hukum, sains, politik dan banyak bidang lainnya, yang juga membutuhkan pemikiran secara logis dan relevan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam menyimpulkan suatu masalah pun diperlukan adanya sebuah identifikasi lebih mendalam mengenai sebuah masalah tersebut, apakah masalah tersebut adalah benar atau hanya omong kosong belaka.

Baca Juga  Makna Tersirat “Semua Adalah Guru” Menurut sebagian Santri di Indonesia

Dalam Islam, logika menjadi sebuah disiplin ilmu yang disebut dengan ilmu mantiq. Disiplin ilmu ini sangat membantu dalam berbagai hal yang berhubungan dengan cara manusia berpikir, dimana sistematika berpikir secara logis tersebut akan menghasilkan suatu pemikiran yang shahih (benar).

Menurut Ibn Khaldun, manthiq adalah sesuatu yang menjaga dan meluruskan naluri berpikir sehingga sesuai antara substansi dengan bentuknya. Kaidah-kaidah logika ilmu mantiq meliputi aturan-aturan berfikir yang terpatri dalam hati manusia untuk menjaga dari kesalahan dalam hal menyimpulkan sesuatu (istidlal), sesuai dengan fungsinya yang menjaga fikiran dari kesesatan.

Jika ditinjau dari salah satu tujuan utama ilmu mantiq yaitu, membantu setiap individu mengidentifikasi serta menghindari kesalahan logika dalam hal berpikir dan berpendapat, maka ilmu mantiq dapat disebut sebagai alat untuk memperoleh sebuah pemikiran yang logis. Hal itu meliputi berbagai pengetahuan, dan menghindari pemalsuan atau kesalahan dalam penalaran sebab-akibat.

Seperti halnya mengenai maraknya berita-berita hoaks yang beredar di sosial media. Setiap penyebaran berita di sosial media tak luput dari penalaran sebab-akibat, hal tersebut memunculkan sebuah pemikiran dari setiap individu, kemudian dari pemikiran tersebut memunculkan pola berpikir yang berbeda. Sehingga dari pola berpikir yang berbeda tersebut menimbulkan banyak asumsi yang berbeda pula.

Banyaknya berita-berita yang tersebar luas secara bebas dapat menimbulkan asumsi yang berbeda dari setiap individu. Selain itu, hal tersebut juga dapat menyebabkan perdebatan diantara asumsi yang bermunculan mengenai kebenaran berita tersebut. Jika seorang individu menyebarkan sebuah berita tanpa didasari dengan logika, maka tidak menutup kemungkinan berita yang disebar tersebut adalah berita hoaks, sebab kebenarannya butuh pembuktian yang nyata, agar berita tersebut dapat dikatakan berita yang akurat dan dapat diyakini kebenarannya.

Baca Juga  Masjid Jendral Sudirman: Majelis Masyarakat Filsafat

Fenomena di atas menjadi salah satu bukti pentingnya korelasi antara logika ilmu mantiq dengan pola berpikir manusia secara logis. Penerapan ilmu logika (mantiq) dalam penyebaran berita di media sosial dapat membantu mencegah penyebaran informasi hoaks yang dapat merugikan masyarakat dan menciptakan ketidakpastian. Dengan penekanan pada kecerdasan logis, seseorang dapat lebih bertanggung jawab dalam menyimpulkan suatu berita dan menyebarkannya.

Dalam Al-Quran juga terdapat banyak ayat yang menyerukan manusia untuk berpikir secara logis, menggunakan akal dan logika. Salah satunya adalah dalam Surah Al-Anfal (8): 22, yang berbunyi:

إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلْبُكْمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Artinya: Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun.

Ayat ini, memang tidak secara langsung menyebutkan tentang seruan “berpikir logis,” namun didalamnya menekankan pentingnya berpikir dengan jernih, Maksud dari berpikir dengan jernih ialah berpikir secara logis menggunakan logika ilmu mantiq. Menurut penafsiran dari Syekh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Al-Wajiz, ia menafsirkan bahwasanya:

“Sesungguhnya binatang atau makhluk yang paling buruk di sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli dari mendengarkan kebenaran. Juga mereka yang tidak mampu mengatakan kebenaran, mereka yang tidak mau berfikir dan tidak mau memahami apa yang bermanfaat dan mana yang buruk baginya”.

Dari beberapa pemaparan di atas, dapat ditemukan sebuah kesimpulan yang dapat menjawab pertanyaan yang tertera pada judul artikel ini. Bahwasanya seseorang tak cukup hanya dengan mengandalkan akal sehat saja dalam hal berpikir, melainkan perlu adanya sebuah peran logika dan keilmuan yang cukup dalam menentukan suatu hal atau menyimpulkan sebuah masalah yang terjadi dalam kehidupan.

Baca Juga  Hidup Sederhana yang Pandai Bersyukur

Dengan berpikir secara logis dapat mendukung setiap perencanaan yang disusun oleh seseorang dalam menentukan beberapa hal penting dalam hidupnya, semakin bagus kualitas berpikir seseorang, maka akan semakin bagus pula kualitas hidupnya di masa kini maupun di masa yang akan datang. Karena pada umumnya, seseorang yang berpikir menggunakan logika akan terlihat lebih tenang dan cakap dalam menghadapi sebuah permasalahan dan tidak serta merta menyimpulkan sesuatu dengan sebelah mata. Terlepas dari berbagai perbedaan pendapat terkait logika, yang pasti dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia akan membutuhkan peran logika sebagai alat untuk mencerna suatu data yang ada. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan