Lewati ke konten utama
TERBARU

Tiga Perkara Bahaya Dunia Menurut Mbah Maimoen Zubair

Mbah Maimoen Zubair mengingatkan tiga perkara berbahaya di dunia: menuruti hawa nafsu, pikiran buruk saat menganggur, dan hidup tanpa arah tujuan.
7 dibaca0 dibagikan5 menit baca
Ilustrasi buku-buku keislaman dan catatan nasihat bijak para ulama di atas meja kayu yang tenang.
QUOTE
“

Telung perkoro iki dadi bahayane dunyo. Siji, wong sing nuruti hawa nafsu. Loro, wong nganggur sing pikirane ora apik. Telu, wong sing ora nduwe karep.

Petikan nasihat berbahasa Jawa di atas disampaikan oleh ulama kharismatik, almarhum KH Maimoen Zubair, atau yang akrab disapa Mbah Moen. Dawuh yang ringkas namun sarat makna ini menyentuh aspek paling mendasar dari eksistensi manusia di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Melalui untaian kalimat yang sederhana, Mbah Moen memberikan sebuah peta navigasi spiritual yang sangat relevan untuk merenungi arah perjalanan hidup kita masing-masing.

Pada era modern yang penuh dengan distraksi seperti saat ini, tidak sedikit dari kita yang sering kali merasa bahwa hidup berjalan di tempat. Perasaan mudah gelisah, cemas, hingga terjebak dalam pusaran pemikiran berlebih atau overthinking seolah-olah telah menjadi bagian dari keseharian yang sulit dihindari. Fenomena ini kerap kali membuat kita merasa lelah secara mental tanpa benar-benar memahami apa yang menjadi penyebab utamanya.

Sering kali, dalam upaya mencari kedamaian, kita sibuk menuding faktor-faktor eksternal di luar diri kita sebagai kambing hitam atas segala ketidaktenangan yang dirasakan. Kita menyalahkan lingkungan, tuntutan zaman, atau tindakan orang lain yang dianggap merugikan. Padahal, jika kita bersedia menilik lebih dalam ke dalam batin, akar dari kehancuran dan hilangnya rasa damai itu justru kerap kali bermula dari kebiasaan buruk yang kita pelihara sendiri.

Melalui nasihat mendalam tersebut, Mbah Moen membongkar tiga akar masalah utama yang memiliki daya rusak luar biasa bagi kehidupan seseorang. Tiga perkara ini digambarkan sebagai bahaya dunia karena sifatnya yang merusak secara perlahan namun pasti. Ketika seseorang membiarkan dirinya terjerumus ke dalam salah satu atau bahkan ketiga hal ini, maka kedamaian hidupnya akan perlahan-lahan terkikis habis.

Perkara pertama yang disoroti oleh beliau adalah perilaku orang yang memperturutkan hawa nafsu secara berlebihan. Hawa nafsu pada dasarnya memiliki sifat yang tidak pernah mengenal kata puas dan selalu menuntut untuk dipenuhi tanpa batas. Ketika kita menjadikan keinginan pribadi sebagai panglima dalam setiap keputusan, kita sebenarnya sedang menjerumuskan diri ke dalam siklus pencarian yang melelahkan dan tanpa ujung.

Upaya tanpa henti untuk memuaskan ego dan keinginan duniawi ini pada akhirnya hanya akan menguras kedamaian batin kita. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan yang sejati, mereka yang hidupnya dikendalikan oleh nafsu justru akan terus didera rasa kurang, cemas, dan ketakutan akan kehilangan. Ketidakmampuan untuk mengendalikan diri inilah yang menjadi pintu gerbang pertama menuju penderitaan hidup yang berkepanjangan.

Selanjutnya, perkara kedua yang dinilai sangat berbahaya bagi dunia adalah keberadaan orang yang menganggur namun memiliki pikiran yang tidak baik. Waktu luang yang melimpah tanpa diisi oleh kegiatan yang produktif atau bernilai ibadah sering kali menjadi bumerang bagi kesehatan mental seseorang. Ketika fisik tidak memiliki kesibukan yang positif, maka pikiran akan dengan sangat mudah mengembara ke arah yang negatif.

Kondisi menganggur dalam konteks ini tidak melulu berarti tidak memiliki pekerjaan secara formal, melainkan juga merujuk pada situasi ketika seseorang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik. Pikiran yang kosong dari aktivitas kebajikan akan menjadi tempat yang sangat subur bagi tumbuhnya berbagai prasangka, kecurigaan, serta rencana-rencana yang tidak membawa manfaat. Hal ini memicu keresahan batin yang tidak berkesudahan.

Oleh karena itu, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas kebaikan merupakan salah satu benteng pertahanan terbaik agar pikiran kita tidak tercemar oleh hal-hal buruk. Ketika kita mendedikasikan waktu dan energi untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi sesama atau untuk meningkatkan kapasitas diri, secara otomatis ruang untuk berpikir negatif akan menyempit. Kebiasaan ini membantu kita menjaga kebersihan hati dan kejernihan pikiran dalam menghadapi realitas.

IKLAN

Perkara ketiga yang tidak kalah mengkhawatirkan menurut dawuh Mbah Moen adalah orang yang tidak memiliki kemauan atau tujuan hidup yang jelas. Dalam bahasa Jawa, konsep ini diistilahkan sebagai tidak memiliki karep. Hidup tanpa adanya cita-cita, visi, atau arah yang ingin dicapai akan membuat seorang manusia kehilangan pegangan dan kompas internalnya dalam mengarungi samudra kehidupan.

Tanpa adanya tujuan yang mantap, kita akan sangat mudah terombang-ambing oleh arus opini publik, tren sesaat, dan berbagai bentuk distraksi luar. Kita menjadi pribadi yang pasif, sekadar mengikuti ke mana pun angin bertiup tanpa pernah benar-benar memegang kendali atas kemudi hidup sendiri. Kondisi tanpa arah ini lambat laun akan melahirkan kejenuhan mendalam dan rasa tidak berharga dalam diri seseorang.

Nasihat yang disampaikan oleh Mbah Moen ini sejatinya berfungsi sebagai sebuah tamparan halus yang penuh kasih sayang untuk menyadarkan kita dari kelalaian. Dawuh tersebut mengingatkan setiap individu untuk selalu mawas diri dan secara aktif mengendalikan ego sebelum ego tersebut mengendalikan kita sepenuhnya. Beliau mengajak kita untuk melihat ke dalam diri dan mengevaluasi kembali bagaimana kita mengelola potensi yang kita miliki.

Dengan memahami ketiga bahaya dunia ini, kita diajak untuk merumuskan kembali prioritas hidup kita sehari-hari. Kita dituntut untuk lebih bijaksana dalam menyikapi keinginan, lebih disiplin dalam memanfaatkan setiap jengkal waktu luang, serta lebih berani dalam menetapkan visi hidup yang bermakna. Langkah-langkah kecil dalam mengendalikan diri ini akan membawa dampak yang sangat besar bagi ketenangan jiwa kita secara keseluruhan.

Dalam praktiknya, menjaga keseimbangan di antara ketiga aspek ini memang bukanlah perkara yang mudah, terutama di tengah godaan zaman yang kian kompleks. Namun, dengan terus mengingat pesan berharga dari para ulama seperti Mbah Moen, kita memiliki sauh yang kuat untuk tetap berpijak pada nilai-nilai kebaikan. Proses belajar yang konsisten dan kemauan untuk terus memperbaiki diri adalah kunci utama untuk menghindari ketiga jurang bahaya tersebut.

Sebagai bahan refleksi pribadi, ada baiknya kita merenungkan kembali perjalanan hidup yang telah kita lalui akhir-akhir ini. Dari ketiga perkara yang disebutkan—apakah itu terjebak dalam dominasi nafsu, pikiran negatif akibat kekosongan aktivitas, atau hilangnya arah dan tujuan hidup—manakah yang diam-diam paling sering menyerang dan membuat kondisi mental kita menurun? Mengenali titik lemah diri adalah langkah awal yang sangat krusial menuju pemulihan dan perbaikan diri.

Pada akhirnya, dawuh dari KH Maimoen Zubair ini tidak hanya sekadar menjadi deretan kalimat indah untuk dibaca, melainkan sebuah petunjuk praktis untuk diamalkan. Mengendalikan hawa nafsu, memenuhi waktu dengan aktivitas kebajikan agar pikiran tetap jernih, serta merumuskan tujuan hidup yang mulia adalah tiga pilar utama untuk meraih keselamatan di dunia maupun di akhirat. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk mengamalkan nasihat mulia ini dalam kehidupan sehari-hari.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram