Lewati ke konten utama
TERBARU

Tiga Fase Orang Menuntut Ilmu Menurut KH. Hasan Abdullah Sahal

Pelajari tiga fase orang menuntut ilmu mulai dari takabbur, tawadhu', hingga merasa tidak punya ilmu, seperti disampaikan KH. Hasan Abdullah Sahal.
9 dibaca0 dibagikan3 menit baca
Ilustrasi perjalanan menuntut ilmu dan kerendahan hati
QUOTE
“

Ada 3 fase orang menuntut ilmu: Takabbur, sombong karena baru tahu ilmu baru. Tawadhu', dia sadar ternyata yang tahu ilmu tersebut tidak hanya dia. Laa 'ilma lahu, ternyata ilmu itu sangat luas, sehingga seakan-akan dia tidak punya ilmu apa-apa.

Perjalanan dalam mencari dan mendalami ilmu pengetahuan sering kali melalui tahapan-tahapan psikologis tertentu. Seseorang yang baru mengenal suatu pengetahuan biasanya akan menghadapi situasi mental yang khas. Pemahaman awal ini kerap memicu respons yang belum matang dari diri yang bersangkutan.

Fase pertama yang kerap muncul adalah ketika seseorang merasa dirinya sudah mengetahui banyak hal. Kondisi ini digambarkan sebagai sikap takabbur, di mana ada rasa bangga yang berlebihan karena baru saja menguasai atau mengetahui sebuah ilmu baru. Perasaan semacam ini kerap membuat seseorang merasa lebih pintar dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya.

Meskipun kemunculan fase ini di awal proses belajar sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar terjadi, sikap tersebut menyimpan potensi bahaya. Jika seseorang berhenti dan terjebak pada titik ini tanpa melanjutkan proses belajar dengan benar, maka ilmu yang didapat justru bisa membawa pada kesombongan.

Oleh karena itu, proses menuntut ilmu tidak boleh berhenti pada satu titik kepuasan semu. Perjalanan yang terus berlanjut akan membawa seseorang keluar dari kungkungan ego pribadi menuju tingkat kesadaran yang lebih luas dan objektif.

Seiring dengan bertambahnya pengalaman dan luasnya bahan bacaan atau pelajaran yang ditemui, seseorang perlahan-lahan akan bergeser ke fase berikutnya. Pada tahap ini, kesombongan mulai runtuh digantikan oleh sikap tawadhu’ atau kerendahan hati.

Sikap tawadhu’ muncul ketika seseorang mulai menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki bukanlah sesuatu yang eksklusif hanya pada dirinya saja. Ia melihat dan menyadari bahwa ada banyak orang lain di luar sana yang juga mengetahui serta menguasai ilmu tersebut.

Kesadaran ini menjadi titik balik yang penting dalam pembentukan karakter seorang pencari ilmu. Rasa paling hebat yang sempat muncul di awal mulai terkikis oleh kenyataan bahwa dunia pengetahuan memiliki banyak pelaku dan penekun yang sama-sama berproses.

Namun, perjalanan memahami hakikat ilmu tidak berhenti sampai di situ saja. Ada satu puncak fase lanjutan yang jauh lebih dalam dan filosofis bagi siapa saja yang terus tekun menempuh jalan belajar.

IKLAN

Puncak dari perjalanan tersebut adalah ketika seseorang sampai pada titik kesadaran bahwa ilmu yang ada di alam semesta ini sangatlah luas. Luasnya pengetahuan membuat dirinya merasa seolah-olah tidak memiliki ilmu sama sekali.

Perasaan seakan tidak berilmu ini bukan berarti seseorang benar-benar bodoh, melainkan sebuah bentuk refleksi mendalam atas ketakterbatasan ilmu Tuhan. Semakin tinggi tingkat ilmu yang dicapai seseorang, seharusnya semakin membuat dirinya merasa kecil dan rendah hati di hadapan pengetahuan.

Nasihat mengenai tiga fase ini memberikan sudut pandang yang sangat mendalam tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap dalam proses belajar. Ilmu yang benar seharusnya membimbing pemiliknya menuju kebijaksanaan, bukan kepada keangkuhan diri.

Melalui pengingat ini, setiap orang diajak untuk merefleksikan kembali di posisi mana perjalanan belajar mereka saat ini berada. Apakah masih terjebak pada rasa bangga diri, sudah mulai melunak dalam kerendahan hati, atau justru semakin merasa bodoh karena tahu betapa luasnya ilmu.

Perjalanan menuntut ilmu adalah proses sepanjang hayat yang menuntut kelenturan hati dan kejernihan pikiran. Dengan memahami fase-fase ini, seseorang diharapkan mampu menjaga niat dan sikapnya tetap lurus hingga akhir hayat.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram