Oleh: Eni Mufidah

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya Prodi Aqidah dan Filsafat Islam

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Teologi Islam merupakan ilmu yang membahas tentang sesuatu  yang fundamental dalam pembangunan ke-Islaman. Karna teologi Islam sangat bersentuhan dengan aspek-aspek Aqidah atau pokok-pokok  ke-Imanan manusia. Teologi juga merupakan aspek  penting karena dapat berfungsi sebagai refleksi kritis bagi tindakan manusia.

Semangat tinggi cendekiawan Muslim dalam mempelajari Islam akhir-akhir ini sangat menggembirakan dan perlu disyukuri yang menandakan kebangkitan Islam merupakan suatu kenyataan. Namun perlu diingat bahwa kita tidak perlu mengadakan pembaruan pada islam, kaena islam sudah sempuna dengan sendirinya (Q.S. Al-Maidah : 3). Justru yang harus diperbaharui ialah sikap terhadap agama, yaitu kemalasan dan kekurangan pemahaman kita.

Banyak pemikir Islam kontemporer berusaha mencari penyelesaian atas realitas yang dihadapi masyarakat Islam dan salah satunya adalah Hassan Hanafi. Hassan hanafi ingin menciptakan teologi  Islam baru yang universal dan konperehensif. Teologi dalam pemikiran Hassan Hanafi tidak hanya membahas tentang masalah ke-Esaan Tuhan, akan tetapi juga membahas tentang keadaan sosial umat Islam di dunia.

Konsep Teologi Islam Hassan Hanafi

Menurut Hassan Hanafi Konsep teologi yang berkembang (teologi tradisional)  hanya digunakan untuk mempertahankan dogma-dogma yang bersifat teosentris daripada mendiskusikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan individu dan sosial manusia yang bersifat antroposentris. Teologi Islam pada abad pertama yang lebih disibukkan dengan persoalan-persoalan ghaib serta lebih banyak di  warnai oleh hal yang bersifat intelektual spekulatif sudah saatnya  ditelaah ulang. mereka harus mencoba menyelesaikan persoalan-persoalan umat  Islam secara luas pembebasan dari kolonialisme, kebebasan  menyampaikan pendapat, dan pemberdayaan kembali dari  keterbelakangan.[1]

Oleh karena itu Hassan hanafi ingin menciptakan teologi  Islam baru yang universal dan konperehensif. Hassan Hanafi berusaha mengembangkan pemikiran kritis dalam upaya  mengikis keterbelakangan pemikiran masyarakat Islam. Dalam menjelaskan teologi islam, Hassan Hanafi menggunakan metode dialektika, fenomenologi, dan  hermeneutika. Berikut ini adalah gagasan dari Hassan Hanafi.

Kiri Islam

Pada tahun 1981 di Mesir, Hassan Hanafi menerbitkan sebuah jurnal berkala, yakni  al-Yasar al Islami : Kitab al Nahdhah al Islamiyah (Kiri Islam : Beberapa Esai tentang Kebangkitan Islam). Jurnal tersbut merupakan kelanjutan dari al Urwah al Wutsqa dan al Manar yang membahas tentang usaha melawan kolonialisme dan keterbelakangan, menyerukan kebebasan dan keadilan sosial.

Istilah Kiri Islam ini berbicara tentang perjuangan kaum yang dikuasai, yang tertindas, yang miskin, lemah, dan menderita. Nama ini dimunculkan Hassan Hanafi secara spontan setelah melihat realitas umat Islam dalam kehidupan terpilih antara penguasa dan yang dikuasai, pemimpin dan rakyat, dan antara yang kaya dan yang miskin.

Kiri Islam lahir setelah terinspirasi atas kemenangan revolusi Islam di Iran pada tahun 1979. Selain itu ada faktor lainnya yang mempengaruhinya, yaitu adanya gerakan-gerakan Islam Modern dan lingkungan Islam-Arab, yang tidak berhasil dalam menyelesaikan  masalah keterbelakangan dan penindasan. Kegagalan tersebut menurut Hasan Hanafi disebabkan : [2]

  • Meskipun liberalisme secara retorik anti kolonial, namun nyatanya liberalisme tersebut merupakan produk kolonialisme Barat. Karena liberalisme didukung oleh kelas atas yang mengatur kekayaan nasional. Akibatnya, rakyat muslim menjadi korban eksploitasi ekonomi.
  • Marxisme yang berpretasi mewujudkan keadilan sosial dan menentang kolonialisme, ternyata tidak dengan pembebasan rakyat dan berkembangnya khazanah umat.
  • Kecenderungan revolusi nasional, sekarang telah melahirkan perubahan fundamental dalam struktur sosio-kultural dunia Islam-Arab, tetapi perubahan tersebut tidak dapat mempengaruhi kesadaran massa muslim.

Setelah melihat kecenderungan-kecenderungan dalam realita dunia Islam, maka tugas Kiri Islam menurut Hanafi adalah mengatasi kecenderungan-kecenderungan tersebut dan mewujudkan cita-cita yang meliputi revolusi rasional, yang didasarkan pada prinsip-prinsip revolusi sosialis melalui pengembangan khazanah intelektual dan berpijak pada kesadaran umat.

Proyek al Turats al Tajdid

Teologi Pembaruan Hassan Hanafi Menuju Umat Islam Yang Berkualitas - dawuh guru

Kiri Islam berpijak pada tiga pilar utama yang sekaligus sebagai isi pokok “Kiri Islam”.  Kiri Islam mempunyai proyek besar yaitu merekonstruksi dan memperbarui tradisi atau warisan, yang mana tertuang sebelumnya dalam karya berjudul “al-Turats wa al-Tajdid”  tahun 1980. Tiga pilar tersebut yakni : [3]

  • Sikap Diri terhadap Tradisi: Revitalisasi Khazanah Islam Klasik

Di sini Hassan Hanafi menekankan perlunya rasionalisme untuk merevitali-sasi khazanah klasik. Rasionalisme tersebut dilakukan sengan rekonstruksi teks dalam artian membangun kembali ilmu-ilmu tradisional seperti, filsafat, teologi, fiqh, tafsir, ilmu al-Qur’an, dan Hadits, dengan menganggap peninggalan tersebut sebagai sesuatu yang berubah-ubah dan bersifat historis. Sehingga dengan demikian umat Islam dapat memecahkan situasi dan masalah-masalah kekinian serta memperoleh kemajuan dan kesejahteraan.

  • Sikap Diri terhadap Barat: Menantang Peradaban Barat

Umat Islam pada awal abad ini menghadapi ancaman imperialisme ekonomi berupa korporasi multinasional dan imperialisme kebudayaan. Imperialisme kebudayaan tersebut dilakukan dengan cara menyerang kebudayaan dari dalam dan melepas afiliasi umat atas budayanya sendiri. Oleh karena itu, Kiri Islam hadir untuk menentang dan menggantikan kedudukan Barat dengan memperkuat umat Islam dari dalam dan melawan westernisasi (kebudayaan barat) yang ingin melenyapkan kebudayaan pribumi.

Langkah yang ditempuh Kiri Islam adalah dengan mendorong peradaban Barat dengan kekuatan militernya kembali pada batas-batas Barat dan menjadikan Barat sebagai tema studi khusus bagi non-Barat, bahkan dengan membangun ilmu baru bernama oksidentalisme untuk menandingi orientalisme.

  • Sikap Diri terhadap Realitas: Analisis atas Realitas Dunia Islam

Keberhasilan agenda gerakan sosial dan politik ataupun gerakan peradaban dan kebudayaan, sangat dipengaruhi oleh ketajaman analisa pemahaman terhadap realitas. Dalam menyikapi realitas, perlu dilakukan analisis terhadapnya dan diselesaikan dengan menggunakan metodologi fenomenologi.

Hanafi mengkritik pemahaman keagamaan masyarakat yang memahami realitas dari teks (seolah-olah teks dapat berbicara sendiri). Sehingga, Hanafi dengan rekonstruksi tafsirnya, hendak menjadikan agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dirinya sendiri.

Hassan Hanafi menyuguhkan alternatif teologi kontemporer dari teosentris ke antroposentris. Tujuannya adalah agar teologi tidak berhenti pada dogma-dogma ketuhanan yang vertikal, tetapi harus bisa diaktualisasikan secara horizontal. Pemikiran Hassan Hanafi ini berasal dari kondisi politik sosial khususnya Mesir dan Negara Arab pada umumnya, yang akhirnya mendorong ia untuk membuat proyek Thuros wal Tajdid dengan tiga proyek didalamnya. Dan kemudian ditambah dengan gerakan kiri islam yang menjadikan mesyarakat kelas bawah untuk bangkit melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme.

Daftar Bacaan

Helmi, Zul. (2019). Rekonstruksi Pemikiran Hassan Hanafi dalam Bidang Teologi Islam. Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Kegamaan.

Shimogaki, K. (1993). Antara Modernisme dan Posmdernisme Kiri Islam: Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi. Yogyakarta: LkiS.

Yusdani. (2002). Gerakan Pemikiran “Kiri Islam”. Al Mawarid Edisi VII, 84.

[1] Zul Helmi, Rekonstruksi Pemikiran Hassan Hanafi dalam Bidang Teologi Islam, Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Kegamaan, Vol.3 No.2 (Desember, 2019),  hal: 67.

[2] Yusdan,  Gerakan Pemikiran “Kiri Islam”,( Al Mawarid Edisi VII,2002),  hal: 84.

[3]  Shimogaki, K. Antara Modernisme dan Posmdernisme Kiri Islam: Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi. (Yogyakarta: LkiS, 1993), hal:  225.