Silsilah Keluarga Syaikh Ihsan Al-Jampesi: Jejak Keilmuan dan Dakwah
Pendahuluan
Syaikh Ihsan Al-Jampesi adalah salah satu ulama besar yang berperan penting dalam perkembangan keilmuan Islam di Indonesia, khususnya dalam bidang tasawuf dan ilmu fiqh. Beliau dikenal sebagai seorang cendekiawan yang produktif, dengan karya-karyanya yang menjadi rujukan bagi para santri dan ulama. Tidak hanya itu, silsilah keluarganya juga menunjukkan garis keturunan yang kuat dalam bidang keislaman, menjadikan beliau sebagai penerus tradisi keilmuan Islam yang kokoh. Artikel ini akan mengulas secara lengkap mengenai silsilah keluarga Syaikh Ihsan Al-Jampesi serta peran penting keluarga beliau dalam dunia dakwah dan pendidikan Islam.
Syekh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampesi al-Kadiri al-Jawi asy-Syafi’I atau biasa dikenal dengan Syekh Ihsan al-Jampesi adalah putra kedua dari pasangan pendiri Pondok Pesantren Jampes (sekarang berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Ihsan), KH. Dahlan bin Sholeh dengan Nyai Artimah. Adiknya bernama Marzuqi yang kelak menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Saat berusia 5 tahun, kedua orang tua beliau bercerai, ibunya lalu kembali ke desanya di Banjarmelati, Kediri. Beliau lahir sekitar tahun 1901 di Jampes, Kediri, Jawa Timur.
Latar Belakang Keluarga Syaikh Ihsan Al-Jampesi
Keturunan dari Jalur Ayah dan Ibu
Syaikh Ihsan Al-Jampesi lahir dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat. Ayahnya, KH. Asy’ari, adalah seorang ulama terpandang yang dikenal sebagai sosok yang gigih dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah Jampes, Kediri. Sementara itu, ibunya juga berasal dari keluarga pesantren yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan Islam. Dengan latar belakang keluarga seperti ini, tidak mengherankan jika sejak kecil, Syaikh Ihsan Al-Jampesi sudah mendapat pendidikan agama yang kuat dan mendalam.
Kakek Syekh Ihsan al-Jampesi, Kiai Sholeh atau KH. Sholeh Banjamelati adalah seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat. Dari silsilah nasab sang kakek inilah, konon masih keturunan dari seorang sultan di daerah Kuningan (Jawa Barat) yang berjalur keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon.
Sedangkan, ibunya adalah anak dari seorang tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senapati yang berjuluk Sultan Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16.
Lingkungan Keluarga yang Religius
Tumbuh dalam lingkungan yang sangat kental dengan nuansa keislaman, Syaikh Ihsan Al-Jampesi terbiasa dengan kehidupan pesantren dan pendidikan agama sejak dini. Ayahnya, KH. Asy’ari, tidak hanya membimbing anaknya dalam ilmu fiqh dan tafsir, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang tasawuf. Hal ini menjadi dasar yang kuat bagi perkembangan intelektual dan spiritual Syaikh Ihsan Al-Jampesi.
Perjalanan Keilmuan dan Dakwah
Pendidikan dan Perjalanan Ilmiah
Sebagai seorang anak dari keluarga ulama, Syaikh Ihsan Al-Jampesi mendapatkan pendidikan langsung dari pesantren yang diasuh oleh ayahnya. Namun, beliau tidak hanya bergantung pada pendidikan di pesantren keluarga, tetapi juga melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke berbagai pesantren lain yang terkenal di Jawa Timur, seperti: Pesantren Tebuireng, Jombang, Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Termas Pacitan.
Di pesantren-pesantren ini, Syaikh Ihsan Al-Jampesi belajar langsung dari para ulama besar yang menjadi panutan dalam bidang keilmuan Islam. Selain itu, beliau juga memperluas wawasannya dengan membaca berbagai literatur klasik Islam yang berasal dari Timur Tengah.
Mengembangkan Keilmuan di Pesantren Jampes
Setelah menyelesaikan pengembaraannya dalam menuntut ilmu, Syaikh Ihsan Al-Jampesi kembali ke kampung halamannya dan meneruskan perjuangan ayahnya dalam mengembangkan Pesantren Jampes di Kediri. Di bawah kepemimpinannya, pesantren ini berkembang pesat dan menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di Jawa Timur.
Di pesantren ini, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu fiqh dan tafsir, tetapi juga memperkenalkan ajaran tasawuf kepada para santrinya. Metode pengajaran beliau yang sistematis dan mendalam menjadikan Pesantren Jampes sebagai tempat rujukan bagi banyak santri dari berbagai daerah.
Peran Keluarga dalam Pendidikan dan Dakwah
Istri dan Anak-Anak Syaikh Ihsan Al-Jampesi
Sebagai seorang ulama besar, Syaikh Ihsan Al-Jampesi menikah dengan seorang perempuan dari keluarga pesantren yang juga memiliki pemahaman agama yang kuat. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai anak-anak yang dididik dengan nilai-nilai keislaman dan keilmuan yang kokoh.
Beberapa anaknya mengikuti jejak beliau dalam dunia pesantren dan dakwah Islam, meneruskan perjuangan Syaikh Ihsan Al-Jampesi dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Mereka tidak hanya menjadi pengajar di pesantren, tetapi juga berperan dalam mengembangkan tarekat dan kajian tasawuf.
Cucu dan Generasi Penerus
Keturunan Syaikh Ihsan Al-Jampesi hingga saat ini masih aktif dalam dunia keislaman, baik sebagai ulama, pengasuh pesantren, maupun pendakwah di berbagai daerah. Dengan tradisi keilmuan yang diwariskan oleh beliau, generasi penerusnya tetap berkomitmen dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Islam di Indonesia.
Warisan Keilmuan dan Pengaruh Spiritual
Karya-Karya Syaikh Ihsan Al-Jampesi
Salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan oleh Syaikh Ihsan Al-Jampesi adalah karya tulisnya yang berjudul “Sirajut Thalibin”, sebuah kitab yang menjadi rujukan penting dalam dunia tasawuf dan tarekat. Kitab ini merupakan syarah dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali dan telah digunakan oleh banyak pesantren di Indonesia sebagai bahan ajar utama dalam bidang tasawuf.
Melalui kitab ini, beliau menjelaskan konsep-konsep spiritual dalam Islam dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Oleh karena itu, kitab ini menjadi salah satu warisan keilmuan yang sangat berharga bagi dunia pesantren.
Pengaruh dalam Dunia Tasawuf
Sebagai seorang ulama yang mendalami tasawuf, Syaikh Ihsan Al-Jampesi memberikan kontribusi besar dalam penyebaran ajaran tarekat di Indonesia. Melalui pesantrennya, beliau mengajarkan pentingnya penyucian hati (tazkiyatun nafs) dan bagaimana seorang Muslim bisa mencapai kedekatan spiritual dengan Allah melalui dzikir dan amalan tarekat.
Pesantren sebagai Pusat Keilmuan
Pesantren Jampes, yang diasuh oleh Syaikh Ihsan Al-Jampesi, menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu syariat tetapi juga memperdalam aspek spiritual Islam. Hingga kini, pesantren ini tetap eksis dan terus mencetak generasi ulama yang siap berdakwah di masyarakat.
Kepulangan Syaikh Ikhsan Jampes
Tepat pada hari Senin pukul 12 tanggal 25 Dzulhijjah 1371H atau 16 September 1952, dengan diiringi deraian air mata dari para keluarga dan santri yang masih sangat membutuhkan bimbingan dan pendidikan beliau. Jenazah beliau dimakamkan pada sore hari itu juga disebelah makam ayahnya di pemakaman khusus di desa putih yang berjarak 1KM disebelah selatan Jampes, tempat di mana para keluarga dimakamkan sebelumnya.
Kesimpulan
Syaikh Ihsan Al-Jampesi adalah sosok ulama besar yang berasal dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat. Sebagai putra dari KH. Asy’ari, beliau melanjutkan perjuangan keluarganya dalam menyebarkan ajaran Islam melalui pesantren dan karya-karyanya.
Warisan beliau tidak hanya dalam bentuk pesantren, tetapi juga dalam literatur keislaman yang menjadi rujukan utama dalam kajian tasawuf. Anak, cucu, serta generasi penerusnya masih aktif dalam dunia pendidikan Islam, memastikan bahwa ajaran dan perjuangan beliau tetap lestari.
Dengan memahami silsilah dan perjalanan hidup Syaikh Ihsan Al-Jampesi, kita dapat melihat betapa besar peran keluarga dalam membentuk seorang ulama dan bagaimana warisan ilmu serta dakwah Islam dapat bertahan dari generasi ke generasi. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari perjuangan dan keteladanan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia.
***
Sumber : diolah ulang dari berbagai situs media dan karya tulis ilmiah
media keislaman by : dawuhguru.co.id
baca juga : Silsilah Keluarga KHR Ahmad Azaim Ibrahimy