Opini  

Seputar Teori Filsafat Sejarah Spekulatif


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Ahmad Khoirur Rozi

(Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya)

Sebelum lebih lanjut membahas tentang tema artikel ini, terlebih dulu perlu ditegaskan bahwa filsafat sejarah merujuk pada aspek teoritis sejarah dalam dua penafsiran. Kedua penafsiran tersebut yaitu filsafat sejarah kritis dengan filsafat sejarah spekulatif. Pada artikel kali ini saya mengulas tentang Teori filsafat sejarah spekulatif. Lebih lanjut, teori ini berspekulasi mengenai kemungkinan akhir teologis terhadap perkembangannya yaitu, mempersoalkan apakah terdapat prinsip-prinsip desain, tujuan atau target atau finalitas dalam sejarah manusia.

Menurut (F.R Ankersmit, 1984) filsafat sejarah ialah suatu bagian dari filsafat yang mempunyai keterkaitan dengan  pertimbangan ataupun percobaan untuk mengatur suatu sistem pengetahuan yang rasional yang memadai sesuai untuk mempelajari dunia maupun untuk mendalami diri sendiri. Jadi dapat dikatakan menurut Ankersmit teori sejarah dengan filsafat sejarah ini tidak ada batasan kajian dalam kajiannya. Filsafat sejarah itu sangat berhubungan dengan teori sejarah dengan kata lain filsafat sejarah ini mempelajari teori-teori sejarah. Kemudian Ankersmit juga mengemukakan agar istilah teori-teori sejarah ini dijadikan dalam satu istilah yaitu Filsafat Sejarah. Maka pendapat Ankersmit mengenai teori sejarah merupakan isi konsep-konsep ataupun teori-teori sejarah yang dikaji dalam filsafat sejarah.

Selanjutnya pengertian filsafat sejarah spekulatif merupakan pertimbangan filsafat mengenai tabiat-tabiat ataupun sifat-sifat proses sejarah. Seperti yang sudah sedikit dijelaskan di awal, dalam perenungan filsafat sejarah spekulatif ini terdapat tiga perihal: yang pertama itu irama atau pola seperti apa yang terjadi dalam sejarah? Yang kedua adalah apakah motor yang menggerakkan proses sejarah? dan yang ketiga apakah sasaran akhir yang dituju dalam proses sejarah?

Nah, irama atau pola yang terjadi dalam proses sejarah ini ialah adanya pengetahuan, teori dan apriori. Dalam sistem spekulatif diketahui ada dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan aposteriori yang dialami dahulu baru mengerti atau bisa dikatakan sebuah pengetahuan yang didapat setelah pengalaman, kemudian apriori itu sebalikmya yaitu datang dahulu sebelum dialami atau didapat dari sebelum sebuah pengalaman namun pengetahuan tersebut ada.

Baca Juga  Pesantren, Rumah yang Ramah bagi Disabilitas

Selanjutnya menjawab pertanyaan apakah motor yang menggerakkan proses sejarah. Nah jadi para filsuf memikirkan bahwa terdapat hal-hal yang selalu pasti mendorong terjadinya gerak sejarah tersebut. Terkadang pandangan mengenai gerak ini bergantung pada masyarakat tempat dimana mereka berada. Yang pertama bagi masyarakat primitif gerak sejarah diatributkan pada kekuatan-kekuatan alam sesuai dengan kepercayaan mereka yaitu dinamisme dan animisme. Yang kedua dalam kebudayaan politisme kekuatan-kekuatan ini mengalami antropomorfisme menjadi dewa dewi yang memiliki kehendak seperti manusia.

Yang ketiga dalam budaya monoteis maka kekuasaan Tuhan yang tak terbatas menjadi agensi utama. Yang keempat takdir merupakan atraksi lain, ia menjadi determinan yang menunjukkan ketidak berdayaan manusia. Lalu yang kelima manusia itu menjadi makhluk dengan kehendak bebas dapat menjalankan gerak sejarah itu sendiri. Dan keenam Karl Marx memperkenalkan gerak sejarah dilakukan oleh manusia itu ditentukan kepentingannya akan materi suatu historical, materialisme, atau materialisme historis.

Selanjutnya adapun Aliran pandangan filsafat sejarah, jadi dalam berbagai filsafat sejarah spekulatif dapat dirangkumkan terdapat lah tiga macam pendapat arah gerak sejarah antara lain:

  1. Gerak Sejarah Siklus Merupakan gerak sejarah yang berulang yang pada akhirnya itu tidak memiliki tujuan tertentu.
  2. Gerak Sejarah Linier Yaitu sejarah bergerak dari titik awal dan kemudian berlanjut kepada tujuan dan tidak dapat kembali lagi. Salah satu contohnya adalah filsafat sejarah.
  3. Gerak Sejarah Spiral yaitu prasejarah mengalami gerak naik-turun atau suatu kemunduran tapi tidak tapi tidak pernah kembali pada titik semula.

Metafisis dalam Sistem-sistem Spekulatif

Seputar Teori Filsafat Sejarah Spekulatif - dawuh guru

Sering dikatakan bahwa filsafat sejarah bersifat metafisis. Adapun metafisika adalah cabang filsafat yang hadir untuk menjawab persoalan-persoalan mengenai hakikat atau esensi dalam hal pernyataan. Ciri khas dalam sebuah pernyataan metafisis ialah tidak dapat dipergoki bahwa pernyataan itu benar, meskipun sepertinya tidak masuk akal. Contohnya kalimat metafisis yang banyak dikenal yaitu manusia pada umumnya egois. Kedengarannya ini sepintas memang benar. Namun jika kita mengingat kembali bahwa manusia rela berkorban untuk sesamanya. Sering kali orang tua berkorban bagi anaknya, orang tua akan berkorban waktu, tenaga dan uang untuk anaknya. Namun di sisi lain ada reaksi seseorang metafisikus terhadap keberatan-keberatan dalam pernyataan tadi. Bahwa rupanya orang itu bertindak berlawanan dengan kepentingan diri karena pada kenyataannya menjadikan orang lain sebagai kepentingan diri sendiri. Orang tua yang mengabadikan diri bagi anaknya sebenarnya orang tua mengharapkan pamrih pada anak sendiri.

Baca Juga  Hari Santri 2022, Menjaga Martabat Kemanusiaan

Hukum Evolusi Bagi Proses Sejarah

Seputar Teori Filsafat Sejarah Spekulatif - dawuh guru

Dalam karya yang terkenal On the Origin of Species: 1859, Darwin menerangkan bagaimana kehidupan di bumi berevolusi dan bagaimana terus menerus dikembangkan. Jenis-jenis hewan baru para filsuf sejarah spekulatif berpendapat bahwa selaras dengan teori-teori Darwin dapat disusun semacam hukum evolusi bagi sejarah terhadap jalan pikiran ini dapat diajukan keberatan sebagai sebagai berikut: Teori Darwin tidak termasuk sebuah hukum evolusi tetapi suatu pengertian tentang sebuah proses yang langka yang hanya satu kali terjadi. Kita hanya mengenal satu proses evolusi dan untuk proses itu tidak bisa disusun oleh hukum-hukum. Karena hukum-hukum selalu berkaitan dengan bermacam proses yang dapat disamakan satu dengan yang lain. Yang dapat dirumuskan ialah hukum-hukum bagian-bagian proses evolusi itu seperti hukum bahwa jenis hewan yang paling berhasil menyesuaikan pada perusahaan-perusahaan secara relatif paling kuat berkembang biak tetapi hukum-hukum yang berlaku bagi bagian-bagian evolusi tidak dapat menghasilkan suatu proses evolusi karena tidak dapat menghasilkan suatu hukum bagi proses evolusi dalam keseluruhannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *