Menu
Merawat Tradisi, Membangun Peradaban
Ads by Google

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal tentang Sandaran Hidup

  • Bagikan
Ilustrasi refleksi kemuliaan perempuan menurut pandangan Gus Kautsar

Kehidupan dunia sering kali membuat manusia terjebak dalam ukuran-ukuran material seperti jabatan, harta benda, serta kekuatan fisik. Banyak orang tanpa sadar mulai menggantungkan rasa aman dan harapan hidup mereka kepada sesama makhluk. Padahal, sebesar apa pun kedudukan atau kekuasaan seseorang di dunia, ia tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan. Manusia tidak akan pernah mampu memberikan perlindungan sejati kepada sesamanya tanpa izin Sang Pencipta.

Ads by Google

Sebuah nasihat mendalam pernah disampaikan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal untuk mengingatkan kembali hakikat kedudukan manusia di hadapan Sang Khalik. Pesan tersebut menyentuh aspek mental dan spiritual seorang mukmin agar tidak mudah goyah oleh status sosial orang lain. Untaian kalimat hikmah itu berbunyi: Kau besar, aku tak berlindung. Kau kaya, aku tak meminta. Kau kuat, aku tak gentar. Di kedudukan teratas hanya Allah. Di bawah hanya tanah.

Kalimat yang sarat makna ini menanamkan fondasi keberanian serta menjaga harga diri seorang mukmin yang sejati. Ketika seseorang memahami bahwa segala kebesaran dunia bersifat fana, ia tidak akan mudah merasa kecil hati di hadapan mereka yang berkuasa. Nasihat ini juga mengajarkan agar manusia tidak perlu menjilat atau merendahkan martabat demi mengejar kepentingan dunia semata.

Di tengah realitas sosial yang kerap mengagungkan status, manusia sering merasa terintimidasi oleh kekuatan atau kekayaan orang lain. Rasa gentar sering kali muncul ketika berhadapan dengan figur-figur yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Padahal, jika ditarik pada esensi tauhid, semua manusia pada akhirnya berada pada kedudukan yang setara di hadapan Allah.

Pesan dari KH. Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa tempat tertinggi mutlak hanya milik Allah semata. Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang pantas menduduki posisi tersebut atau disembah dan diandalkan secara berlebihan. Kesadaran ini akan membersihkan hati dari rasa takut yang tidak pada tempatnya terhadap sesama makhluk.

Selain itu, bagian akhir dari nasihat tersebut mengingatkan tentang asal usul dan tujuan akhir kehidupan manusia. Di bawah kekuasaan Allah yang Mahatinggi, seluruh manusia pada akhirnya berpijak dan kelak akan kembali ke tanah. Kesadaran bahwa diri ini berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah meruntuhkan segala bentuk kesombongan duniawi.

Ads by Google

Sikap tidak meminta kepada sesama manusia yang kaya bukan berarti menolak ikhtiar, melainkan menjaga hati agar tidak menggantungkan rezeki kepada selain-Nya. Kekayaan manusia bersifat titipan dan terbatas, sehingga meminta kepada pemilik kekayaan yang sejati adalah jalan keselamatan jiwa. Ketergantungan penuh kepada Allah adalah bentuk pengakuan atas kefakiran diri sebagai seorang hamba.

Demikian pula dengan sikap tidak berlindung kepada mereka yang berukuran besar atau memiliki pengaruh. Perlindungan duniawi bersifat semu dan sewaktu-waktu dapat runtuh seiring runtuhnya kekuasaan seseorang. Hanya Allah tempat berlindung yang paling aman dari segala bentuk ketakutan dan ancaman kehidupan.

Rasa gentar di hadapan orang kuat juga akan lenyap ketika seorang mukmin menyadari kekuatan Allah yang Mahadasyat. Kekuatan makhluk sehebat apa pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuasaan mutlak Sang Pencipta alam semesta. Hal ini melahirkan mental pejuang yang tangguh dan tidak mudah tunduk pada kebatilan.

Kemerdekaan jiwa manusia sesungguhnya lahir dari ketergantungan yang mutlak hanya kepada Allah. Ketika seseorang sudah tidak lagi bergantung pada pujian, harta, atau kekuasaan manusia, ia telah mencapai kebebasan batin yang sejati. Jiwanya tidak lagi dapat diperbudak oleh ambisi duniawi maupun intimidasi sosial.

Refleksi dari pesan ini sangat relevan untuk direnungkan dalam menjalani dinamika kehidupan sehari-hari. Godaan untuk mencari rasa aman palsu dari sesama makhluk selalu ada di setiap fase kehidupan manusia. Oleh karena itu, pengingat spiritual seperti ini penting untuk terus dihadirkan dalam kesadaran hati.

Menjaga hati agar tidak bergantung secara berlebihan pada manusia bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Diperlukan latihan batin yang konsisten serta keyakinan yang kuat terhadap takdir dan pemeliharaan Allah. Proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa menjadi kunci utama dalam merawat kemerdekaan hati.

Ads by Google

Setiap mukmin diajak untuk senantiasa mengevaluasi niat dan orientasi dalam setiap amal perbuatan. Apakah selama ini sandaran hati masih sering terbagi kepada manusia, atau sudah sepenuhnya tertuju kepada Allah. Koreksi diri ini akan mengembalikan arah pandang hidup pada jalur yang benar.

Pengingat dari KH. Hasan Abdullah Sahal ini sekaligus menjadi warisan hikmah yang memperkokoh bangunan akidah umat. Dengan memahami makna mendalam di balik kalimat tersebut, seorang Muslim dapat berjalan di muka bumi dengan penuh percaya diri. Harga diri terjaga, ketauhidan semakin mantap, dan jiwa pun merdeka dari ketergantungan kepada selain Allah.

Foto: Dawuh Guru · Ilustrasi Redaksi · Sumber gambar

Sumber: Instagram

  • Bagikan