Kajian mengenai tatanan sosial dan moral umat kembali menemukan relevansinya ketika merujuk pada Kitab Ihya karya Imam Ghozali. Di dalam kitab tersebut, terdapat sebuah pandangan mendalam mengenai mata rantai kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat. Pesan ini menyoroti bagaimana kondisi moral dan kebijakan para pemimpin serta pemuka agama memberikan dampak langsung kepada rakyat banyak.
Imam Ghozali menjelaskan secara umum bahwa rusaknya rakyat bermula dari rusaknya para penguasa. Lebih lanjut, kerusakan para penguasa tersebut tidak terlepas dari rusaknya para ulama. Hubungan sebab akibat ini menempatkan figur-figur pemegang otoritas dan ilmu agama pada posisi sentral dalam menjaga stabilitas moral sebuah peradaban.
Lebih lanjut dalam teks tersebut diuraikan sebuah pengandaian yang menegaskan peran penting para ulama dan penegak hukum. Disebutkan bahwa seandainya tidak ada para hakim yang buruk dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan para penguasa dapat diminimalisir. Pengurangan kerusakan itu terjadi karena para penguasa memiliki rasa takut terhadap pengingkaran, kritik, serta teguran yang disampaikan oleh para ulama.
Kritik dan teguran moral dari seorang yang berilmu dipandang sebagai benteng pertahanan terakhir terhadap kebijakan atau tindakan penguasa yang melenceng. Ketika fungsi kontrol sosial ini berjalan dengan baik, para penguasa tentu akan berpikir ulang sebelum melakukan tindakan yang merusak tatanan publik. Sebaliknya, ketika integritas pemuka agama mulai luntur, kontrol tersebut menjadi hilang.
Sebagai penguat atas pandangan tersebut, Imam Ghozali turut mencantumkan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. Sabda Rasulullah SAW menyatakan bahwa umat ini akan senantiasa berada dalam pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Syarat utama dari jaminan perlindungan tersebut adalah sikap para pembaca atau ulama yang tidak berkompromi dengan para penguasa.
Kompromi yang dimaksud dalam konteks sabda tersebut mengarah pada sikap tunduk atau berkolaborasi dengan kepentingan penguasa yang menyimpang dari nilai kebenaran. Ketika ulama mulai berkompromi demi kepentingan duniawi, maka perlindungan Allah bagi umat dikhawatirkan akan terangkat. Hal ini menunjukkan betapa berat dan mulianya tanggung jawab moral yang diemban oleh para pemilik ilmu.
Penjelasan yang bersumber langsung dari Kitab Ihya ini mengajak setiap pembaca untuk merenungkan kembali dinamika antara rakyat, penguasa, dan ulama. Hubungan ketiganya digambarkan sangat erat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kerusakan pada satu lini, terutama di tingkat elit dan pemuka agama, akan menjalar dengan cepat ke seluruh lapisan masyarakat.
Pesan ini tidak hanya berlaku pada masa lampau, melainkan tetap aktual untuk direfleksikan dalam berbagai situasi zaman. Kebutuhan akan adanya ulama yang lurus dan berani menyampaikan kebenaran menjadi hal yang krusial. Keteguhan sikap dalam menegakkan keadilan dan menolak kompromi buruk adalah kunci utama menjaga marwah umat.
Melalui ungkapan tersebut, Imam Ghozali memberikan peringatan keras sekaligus bimbingan etis bagi siapapun yang memegang tampuk kepemimpinan maupun keilmuan. Bahwa kekuasaan dan ilmu bukanlah sarana untuk mencari keuntungan pribadi atau sekadar menyenangkan pihak tertentu. Keduanya merupakan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Dengan memahami pesan ini secara utuh, umat diajak untuk senantiasa mendoakan dan mendukung para pemimpin serta ulama yang istiqamah di jalan kebenaran. Pengawasan moral secara bijak juga menjadi bagian dari upaya kolektif dalam mencegah kerusakan yang lebih luas. Pada akhirnya, pertolongan dan perlindungan Allah SWT hanya akan turun kepada umat yang tetap menjaga integritas dan nilai-nilai luhur ajaran-Nya.
Foto: Imam Khairul Annas · CC BY-SA 3.0 · Sumber gambar
Sumber: Instagram




