Oleh: Mohammad Fauzan Baihaqi

Sejarah Hidup Abd Karim al-Jili

Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jilli, lahir pada 1365 M di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di selatan Kasfia dan meninggal pada 1417 M. Dia dulunya adalah seorang sufi terkenal dari Bagdad. Dia belajar tasawuf di bawah bimbingan Abdul Qadir Al-Jailani, pendiri dan kepala tarekat Qadiriyya yang terkenal. Tidak hanya itu, ia juga berguru kepada Syekh Syarafuddin Isma’il bin Ibrahim Al-Jabarti di Zabid (Yaman) pada tahun 1393-1403 M.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Abdul Karim al-Jili pernah menjadi seorang sufi terkenal di Baghdad. Ia memperoleh gelar tertinggi di maqam sufi, khususnya Qutb al-Din. al-Jili diyakini lahir di Baghdad. Hal ini terutama didasarkan pada pengakuannya sendiri yang menyebutkan bahwa ia adalah keturunan dari cucu Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Menurut kesepakatan para peneliti, al-Jili lahir pada tahun 767 H di awal bulan Muharram.

Al-Jili muda adalah seorang pria atau wanita yang sangat puas melakukan pengembaraan spiritual dari satu daerah ke daerah lain. Ketika dia berusia 20 tahun dia memulai pengembaraannya ke Kushi (India). Di Kusyi ia pertama kali berkenalan dengan ajaran selain Islam, khususnya agama Hindu lengkap dengan ritualnya, namun di Kusyi ia tidak bertahan lama. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya ke Persia, tempat ia belajar bahasa Persia dan menulis buku yang berjudul Jannat al-Ma’arif wa Ghayat al-Murid wa al-Ma’arif.

Dalam 12 bulan 796 H. ketika ia berusia 29 tahun, ia kemudian berhijrah dari Persia ke Zâbid (Yaman). Di kota metropolitan ini ia menemukan seorang pelatih spiritual yang cocok untuk dirinya sendiri, yang kemudian sangat mempengaruhi caranya bertanya di bidang tasawuf. Dia dulu adalah Syekh Syarif al-Din ibn Ismail al-Jabarti, lebih dikenal sebagai al-Jabarti, seorang sufi yang sangat terkenal pada masanya.

Setelah tiga tahun tinggal bersama guru dan teman-temannya di Zabid. Pada tahun 799 H. Ia melanjutkan pengembaraannya ke tanah suci Mekkah. Di sini ia bergabung dengan tim sufi yang mempraktikkan tarekat mereka di sekitar Baitullah. Di kalangan para sufi saat itu berkembang pendapat bahwa Ism Allah al-A’zham adalah Huwal, al-Jili merasakan kejanggalan pendapat yang berkembang luas, ia kemudian meluruskan pendapat tersebut dengan penjelasan yang dulu dapat diterima oleh para sufi. Menurutnya, Huwal adalah dhamir ghalib (kata ganti ketiga) sebagai identitas mulia Dzat Ilahi. Ism Allah al-A’zham mengungkapkan artinya jika Anda dapat menyaksikan Allah dengan mata hati dalam setiap situasi. Sejak saat itu kredibilitasnya sebagai seorang sufi mulai dikenal oleh kalangan sufi di Mekkah.

Pemikiran Al-Jili Insan Kamil (Manusia Sempurna)

Dia mengenali insan kamil ini dalam dua pengertian: (1) dalam ungkapan pengertian pengetahuan tentang manusia terbaik; (2) terkait dengan identifikasi yang mengidealkan solidaritas nama-nama dan sifat-sifat Allah ke dalam esensi atau esensi dirinya. Menurutnya, manusia bisa mencapai kesempurnaan kemanusiaannya melalui latihan non sekuler dan pendakian mistis. Latihan ini dimulai dengan renungan nama-nama dan sifat-sifat allah. Kemudian dia masuk ke dalam lingkungan sifat-sifat allah tempat dia mulai melangkah ke fase sifat-sifat ini dan sifat-sifat yang bermanfaat kekuatan yang luar biasa. Selanjutnya, ia melintasi tempat nama dan atribut allah, masuk ke dalam esensi mutlak menjadi manusia allah atau insan kamil. Kemudian, matanya akan muncul sebagai mata dewa, frasanya akan menjadi kata-kata dewa, dan keberadaannya akan muncul sebagai kehidupan dewa. Semua ini sepenuhnya didasarkan pada asumsi bahwa semua keberadaan hanya memiliki satu realitas, esensi murni yang merupakan makhluk absolut yang tidak dapat dijelaskan dan dicapai melalui semua pemikiran manusia fana.

Sumber Pemikiran

Sebagaimana layaknya seorang muslim, al-Jili biasanya mendasarkan pandangannya pada al-Qur’an dan al-Hadits, baik sekaligus maupun tidak langsung. Namun, landasan pandangannya terhadap al-Qur’an dan al-Hadits secara tidak langsung tampak lebih dominan. Al-Jili kemungkinan besar akan menyusun teks-teks tercetak dengan pendekatan yang cukup besar, dalam pengalamannya ketika menafsirkan ayat tersebut sekarang tidak melalui makna harafiah, melainkan mencari makna terdalam dari ayat tersebut. Makna dari ayat-ayat yang ia tampilkan secara hati-hati dikaitkan dengan kecenderungan dan gagasan fundamentalnya dan ini terus-menerus memengaruhi pemahamannya terhadap teks.

Landasan ketakjuban al-Jili terhadap Al-Qur’an dan al-Hadits dari semua pandangannya terhadap pemikiran al-Insan al-Kamil ditunjukkan dalam sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa ilmu apapun yang sekarang tidak didasarkan sepenuhnya pada al- -Kitab dan al-Sunnah itu sesat. Namun menurut al-Jili, kebanyakan manusia dalam membaca kitab-kitab tasawuf tidak lagi memahami hubungannya dengan sumber shahih (al-Qur’an dan al-Hadits), karena sempitnya persepsi dan pengetahuan mereka. sehingga terjadi persepsi yang salah tentang berbagai konsepsi yang ada dalam al-Qur’an. pemikiran tasawuf.

Jika al-Qur’an dan al-Sunnah menjadi landasan atau landasan pemikiran al-Jili, maka takwil, perjalanan religi dan al-Saqafah al-Sa’idah merupakan strategi dan sumber pemikiran al-Jili dalam merumuskan dan memproduksi  konsepsinya.