Lewati ke konten utama
TERBARU

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim tentang Bingung Masa Depan

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim mengingatkan agar kebingungan masa depan tidak membuat anak muda lupa bersyukur dan bersujud.
11 dibaca0 dibagikan3 menit baca
Ilustrasi pengingat tentang masa muda dan sujud
QUOTE
“

Anak muda itu tidak apa-apa sesekali bingung soal masa depan, itu manusiawi. Tapi jangan sampai kebingungan itu membuat kita lupa bersyukur dan lupa sujud. Selama kita masih bisa salat, dunia dan isinya itu sebenarnya kecil.

Masa muda seringkali diidentikkan dengan berbagai pertanyaan besar mengenai arah hidup, karier, hingga masalah jodoh. Fase ini wajar memunculkan rasa cemas serta kebimbangan dalam diri setiap pencari jati diri. Kebingungan menghadapi masa depan merupakan bagian dari perjalanan hidup yang manusiawi dan dialami banyak orang.

Namun, respons seseorang dalam menghadapi masa depan yang belum pasti menjadi penentu ketenangan batin mereka. KH. Ahmad Bahauddin Nursalim memberikan pandangan menyejukkan terkait dinamika perasaan anak muda yang tengah berada di fase pencarian tersebut. Beliau menegaskan bahwa merasa bingung adalah hal yang wajar dan tidak perlu terlalu dicemaskan secara berlebihan.

Pesan utama dari nasihat tersebut adalah agar rasa bingung tidak sampai mengalihkan perhatian seseorang dari hal yang esensial. Kebingungan tidak boleh membuat seseorang lantas melupakan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Selain itu, yang terpenting adalah agar rasa cemas tersebut tidak membuat seseorang melupakan sujud kepada Sang Pencipta.

Ibadah salat diposisikan sebagai jangkar ketenangan di tengah gelombang kecemasan dunia yang kerap melanda jiwa muda. Selama seseorang masih diberikan kesempatan untuk mendirikan salat, persoalan dunia dan segala isinya sebenarnya tampak kecil. Hubungan vertikal dengan Sang Pencipta melalui sujud menjadi sarana paling efektif untuk meredakan ketegangan jiwa.

Sujud tidak hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi juga ruang terbaik untuk mengadukan segala kegelisahan hati. Ketika seseorang dihadapkan pada ketidakpastian hari esok, tempat mengadu yang paling tepat adalah di atas sajadah. Mengeluhkan beban hidup kepada Allah SWT akan mengembalikan perspektif bahwa masalah dunia bersifat sementara.

Nasihat bijak ini sekaligus menjadi pengingat berharga bagi siapa saja yang sedang merasa kehilangan arah tujuan hidup. Kedekatan hati dengan Sang Pencipta akan melahirkan ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi apa pun. Ketiadaan kepastian tentang masa depan bukanlah alasan untuk berhenti mendekatkan diri kepada-Nya.

Anak muda yang senantiasa menjaga kedekatan spiritualnya diyakini lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan. Ketenangan yang lahir dari sujud mampu menjernihkan pikiran dalam mengambil setiap keputusan penting. Dengan demikian, langkah kaki dalam menata masa depan menjadi lebih mantap dan terarah.

Kesadaran untuk tetap bersyukur di tengah kebimbangan akan membuka pintu-pintu ketenangan batin yang lain. Rasa cukup atas apa yang dimiliki saat ini menghindarkan seseorang dari ambisi duniawi yang melelahkan. Bersyukur juga menjadi bentuk pengakuan atas kebesaran Allah SWT dalam mengatur takdir setiap hamba.

Oleh karena itu, tidak perlu merasa tertekan secara berlebihan ketika bayang-bayang masa depan tampak kabur. Menjalani proses hari ini dengan sebaik-baiknya diiringi ibadah yang istiqomah adalah kunci utamanya. Fokus pada kewajiban saat ini jauh lebih bermanfaat daripada mengkhawatirkan hal yang belum terjadi.

Pada akhirnya, pesan dari KH. Ahmad Bahauddin Nursalim mengajak kita untuk senantiasa mengembalikan segala urusan kepada Sang Pemilik Kehidupan. Dunia dengan segala kerumitannya akan terasa ringan di hadapan hamba yang senantiasa bersujud. Ketenangan sejati hanya akan didapat oleh hati yang tidak pernah lupa bersyukur dan bersujud.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram