Lewati ke konten utama
TERBARU

Jangan Rendahkan Gurumu Saat Sukses: Nasihat Luhur KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus

KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus mengingatkan kita agar tidak mengabaikan jasa guru ketika sukses, sebab keberkahan ilmu lahir dari kerendahan hati.
7 dibaca0 dibagikan4 menit baca
Nasihat dari KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus mengenai pentingnya menghormati guru saat sudah sukses
QUOTE
“

Bila dikemudian hari sampean-sampean semua menjadi orang sukses dalam bidang apapun, jangan sampai menganggap rendah guru-guru sampean.

— KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus Kesuksesan kadang membuat seseorang lupa pada siapa yang perna

Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus sebagai sebuah pengingat yang sangat berharga bagi siapa saja yang tengah berjuang atau sudah berhasil merengkuh tangga kesuksesan. Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kesuksesan memang sering kali memiliki sisi lain yang dapat melalaikan hati manusia. Ketika seseorang telah berhasil mencapai titik tertinggi dalam karier, meraih jabatan yang dihormati, mengumpulkan harta benda yang melimpah, atau menikmati kehidupan yang jauh lebih baik, ada kecenderungan alami untuk melupakan proses panjang yang telah dilaluinya di masa lalu.

Sering kali, gemerlap pencapaian hari ini membuat mata batin kita tertutup dari kenyataan bahwa ada sosok-sosok luar biasa yang pernah bersusah payah membersamai langkah awal kita. Di sinilah letak pentingnya nasihat tersebut, agar kita senantiasa waspada terhadap penyakit hati yang bernama kesombongan. Menganggap rendah guru, sekecil apa pun bentuknya, merupakan sebuah kemunduran moral yang amat nyata bagi seorang penuntut ilmu yang telah berhasil mencapai tujuannya.

Ketika seseorang telah memiliki segalanya, baik itu berupa kedudukan yang tinggi di masyarakat, kepakaran dalam suatu bidang ilmu, maupun kemapanan finansial, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Ujian tersebut bukan lagi tentang bagaimana cara bertahan hidup atau meraih impian, melainkan bagaimana cara menjaga hati agar tetap membumi. Jangan sampai orang-orang yang dahulu dengan sabar mengajarkan kita hal-hal paling dasar, justru kini dipandang sebelah mata hanya karena mereka tidak memiliki pencapaian materi setinggi yang kita miliki saat ini.

Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa sosok guru mungkin tidak akan selalu hadir secara fisik dalam setiap babak perjalanan hidup kita setelah kita mencapai keberhasilan. Mereka sering kali tetap tinggal di ruang-ruang kelas yang sederhana, di surau-surau yang sepi, atau di sudut-sudut pesantren yang jauh dari hiruk-pikuk kemewahan dunia. Sementara itu, murid-muridnya telah melangkah jauh ke berbagai penjuru dunia, menikmati buah dari pohon pengetahuan yang dahulu bibitnya ditanam oleh tangan-tangan dingin para guru tersebut.

Namun, meskipun raga mereka tidak lagi mendampingi setiap langkah kita di masa kini, sesungguhnya warisan terbaik mereka selalu menyertai kita setiap saat. Warisan itu berupa ilmu yang bermanfaat, nasihat-nasihat bijak yang menuntun di kala buntu, serta doa-doa tulus yang dipanjatkan dalam keheningan malam. Semua hal tak kasatmata itulah yang sebenarnya menjadi bagian dari jalan rahasia yang mengantarkan kita hingga bisa berdiri tegak di titik kesuksesan seperti sekarang ini.

Setinggi apa pun pencapaian yang berhasil kita torehkan dalam sejarah hidup pribadi, kewajiban untuk mengingat mereka yang pernah mendidik kita tidak pernah gugur. Sangat penting bagi kita untuk selalu merunduk dan melihat kembali ke belakang, mengingat kembali saat-saat kita masih belum memahami apa-apa. Rasa hormat dan takzim kepada guru adalah cerminan dari kematangan jiwa seseorang, sebuah tanda bahwa kesuksesan yang diraihnya tidak diperoleh dengan cara instan melainkan melalui restu dari para pendidik.

IKLAN

Sebab, dalam sudut pandang spiritual, esensi dari sebuah ilmu yang berkah tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi kedudukan yang berhasil dicapai oleh seseorang di dunia ini. Ilmu yang berkah akan terlihat dengan sangat jelas dari bagaimana pemilik ilmu tersebut menjaga sikap batinnya agar tetap rendah hati. Seseorang yang memiliki ilmu yang bermanfaat akan selalu tahu cara berterima kasih dan menaruh hormat yang setinggi-tingginya kepada siapa saja yang telah membukakan pintu-pintu pengetahuan baginya.

Rasa tahu diri dan kemampuan untuk menghargai jasa orang lain adalah modal utama dalam menjaga agar keberhasilan yang kita raih tidak menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Kesuksesan tanpa disertai rasa takzim kepada guru hanya akan melahirkan kesombongan intelektual yang kering dari nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, menjaga hubungan batin dan selalu mendoakan kebaikan bagi para guru kita adalah sebuah keharusan yang harus terus dipelihara sepanjang hayat dikandung badan.

Di tengah kesibukan mengelola kesuksesan dan rutinitas hidup yang kian padat, luangkanlah waktu sejenak untuk merenungkan kembali perjalanan hidup kita masing-masing. Masihkah kita mengingat dengan jelas wajah-wajah tulus guru kita yang dahulu dengan sabar mengajari kita membaca, menulis, atau mengaji? Masihkah nama-nama mereka terselip dalam baris doa yang kita panjatkan setiap kali selesai beribadah, ataukah ingatan tentang mereka telah terkikis oleh ambisi-ambisi duniawi?

Pesan luhur dari KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus ini sejatinya adalah sebuah kompas moral yang akan menjaga arah hidup kita agar tidak tersesat di tengah jalan kesuksesan. Menghormati guru adalah jalan lurus menuju keberkahan hidup yang abadi, sebuah warisan nilai yang harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sukses, namun tetap memiliki hati yang lapang untuk selalu menghormati dan memuliakan guru-guru kita.

Foto: Instagram · Sumber gambar

Sumber: Instagram