Menyampaikan ilmu kepada orang lain merupakan sebuah tanggung jawab besar yang diemban oleh para pendidik. Dalam praktiknya, sering kali muncul kekhawatiran tersendiri di kalangan pengajar. Kekhawatiran tersebut biasanya berkaitan dengan apakah ilmu yang disampaikan akan benar-benar meresap. Selain itu, pemahaman para pendengar atau murid juga menjadi titik fokus utama dalam proses pembelajaran.
Untuk mengatasi keraguan batin tersebut, terdapat sebuah tuntunan spiritual yang dibagikan oleh Habib Umar Al Muthohar. Amalan ini berupa ijazah khusus yang ditujukan bagi para pendidik maupun siapa saja yang hendak menyampaikan ilmu. Tuntunan ini hadir sebagai bentuk ikhtiar batin agar proses transfer pengetahuan berjalan dengan lancar.
Ijazah sederhana yang diajarkan adalah membaca kalimat basmalah sebanyak tujuh kali. Tata cara pelaksanaannya dilakukan tanpa mengambil napas di tengah-tengah bacaan. Amalan ini diamalkan sesaat sebelum seseorang mulai mengajar atau menyampaikan materi kepada orang lain.
Tujuan utama dari pengamalan ini adalah agar ilmu yang diberikan tidak sekadar singgah di telinga. Lebih dari itu, ilmu tersebut diharapkan mampu meresap dengan baik ke dalam hati para pendengarnya. Dengan demikian, apa yang diajarkan dapat meninggalkan bekas pemahaman yang mendalam.
Nasihat berharga ini memberikan sudut pandang bahwa proses belajar mengajar tidak hanya sebatas aktivitas fisik. Kemampuan teknis di depan kelas memang penting, namun ada aspek lain yang tidak boleh dilupakan. Aspek tersebut adalah dimensi spiritual yang menyertai setiap langkah pengajar.
Melalui amalan membaca basmalah tanpa bernafas, seorang pendidik diajak untuk menyandarkan diri kepada Sang Pencipta. Usaha lahiriah berupa metode pengajaran yang baik perlu diimbangi dengan doa. Keberkahan ilmu merupakan hasil dari permohonan yang tulus kepada Allah SWT sebelum memulai tugas mulia.
Pesan ini menegaskan bahwa keberhasilan seorang guru tidak diukur dari seberapa canggih metode yang digunakan semata. Faktor keberkahan memegang peranan yang sangat krusial dalam keberhasilan menyerapnya suatu ilmu. Doa dan dzikir menjadi jembatan penghubung antara niat baik pengajar dan penerimaan murid.
Bagi para pendidik, amalan ini dapat dijadikan sebagai bagian dari rutinitas harian sebelum memasuki ruang kelas. Praktiknya yang ringkas memudahkan siapa saja untuk mengamalkannya tanpa mengurangi esensi dari persiapan mengajar itu sendiri. Kesiapan mental dan spiritual berjalan secara beriringan.
Refleksi dari ijazah ini mengajak setiap pengajar untuk terus mengevaluasi niat awal mereka dalam mengajar. Menyampaikan ilmu bukan sekadar menggugurkan kewajiban profesional semata. Ada amanah moral dan spiritual yang harus dijaga agar ilmu tersebut bermanfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, nasihat dari Habib Umar Al Muthohar ini menjadi pengingat yang sangat relevan. Ketenangan batin seorang pendidik akan terpancar melalui kesungguhannya dalam memohon keberkahan. Ikhtiar spiritual senantiasa melengkapi setiap ikhtiar lahiriah di dunia pendidikan.
Foto: Instagram · Sumber gambar
Sumber: Instagram





