Gus Baha menyampaikan pandangan yang mendalam mengenai bagaimana cara Kanjeng Nabi Muhammad menjalani kehidupannya sebagai seorang rasul. Penjelasan ini memberikan pemahaman baru bagi umat Islam dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT secara sederhana. Kiai Haji Ahmad Bahauddin Nursalim menekankan bahwa tuntunan agama sebenarnya tidak memberatkan umatnya jika dipahami dengan benar.
Dalam berbagai kesempatan pengajiannya, ulama asal Rembang tersebut sering kali menguraikan kisah-kisah teladan dengan gaya bahasa yang membumi. Kali ini, fokus bahasan mengenai sifat Kanjeng Nabi yang dinilai sangat realistis. Sikap realistis tersebut tercermin dalam keseharian beliau yang menjalani ibadah tanpa membebani diri di luar batas kemampuannya sebagai manusia biasa.
Umat Islam kerap kali merasa harus mencapai derajat spiritual yang tinggi seperti para nabi terdahulu agar merasa dekat dengan Sang Pencipta. Namun, pandangan tersebut diluruskan melalui pemahaman yang disampaikan oleh Gus Baha. Beliau mengingatkan agar umat tidak perlu memaksakan diri untuk memiliki keistimewaan mukjizat yang berada di luar kapasitas manusia.
Salah satu contoh yang sering ditarik dalam perbandingan spiritual adalah kisah Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan luar biasa. Nabi Sulaiman dikaruniai kemampuan mukjizat yang sangat spesifik, seperti dapat terbang dan memahami bahasa makhluk lain. Keistimewaan tersebut merupakan bentuk anugerah khusus yang diberikan Allah SWT kepada nabi tertentu.
Oleh karena itu, Gus Baha menegaskan bahwa umat tidak usah berpikir untuk bisa terbang seperti Nabi Sulaiman dalam menjalankan laku spiritual. Keinginan semacam itu justru sering kali menjauhkan seseorang dari hakikat ibadah yang sesungguhnya. Manusia cukup menjalani apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Pola beribadah yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi sangatlah jelas dan mudah diaplikasikan oleh siapa saja tanpa terkecuali. Nabi Muhammad SAW menunaikan ibadah salat, melakukan sujud, serta menikmati setiap proses penghambaan tersebut dengan penuh ketenangan. Hubungan batin antara seorang hamba dan Tuhannya digambarkan sebagai sesuatu yang sangat indah.
Keindahan hubungan dengan Tuhan tidak diukur dari seberapa besar mukjizat atau pencapaian supranatural yang dimiliki seseorang. Melainkan, kedekatan itu terjalin melalui ketulusan dalam melaksanakan kewajiban ibadah yang utama. Salat dan sujud merupakan sarana komunikasi paling dekat yang bisa diakses oleh setiap umat Islam.
Melalui tindakan bersujud di hadapan Allah SWT, segala kerumitan hidup seolah menemukan jalan keluarnya. Gus Baha menyatakan dengan tegas bahwa sujud saja sudah menjadi solusi bagi berbagai macam persoalan yang dihadapi manusia. Pernyataan ini sekaligus memberikan ketenangan mental bagi orang-orang yang sering merasa cemas.
Sujud mengajarkan arti kepasrahan total kepada Sang Maha Kuasa setelah seseorang berikhtiar semampunya. Dengan merendahkan diri, manusia menyadari bahwa posisinya adalah hamba yang membutuhkan pertolongan-Nya. Kesadaran ini menumbuhkan rasa damai di dalam hati tanpa harus memikirkan hal-hal yang bersifat muluk-muluk.
Pendekatan beragama yang diajarkan oleh Gus Baha ini mengajak masyarakat untuk kembali pada esensi ajaran Islam yang moderat. Beribadah tidak perlu dijadikan beban berat yang melelahkan fisik dan mental. Cukup jalankan apa yang telah diperintahkan dengan rasa nikmat dan syukur yang mendalam.
Keseharian Nabi Muhammad SAW membuktikan bahwa kesederhanaan dalam beribadah justru memancarkan kemuliaan yang agung. Beliau tidak pernah mempersulit diri dalam urusan ibadah kepada Allah SWT. Keteladanan inilah yang semestinya dijadikan pegangan hidup oleh umat Islam di era modern saat ini.
Sikap realistis dalam beragama juga menghindarkan seseorang dari sifat sombong atau merasa paling suci. Ketika seseorang fokus pada salat dan sujudnya, perhatiannya tercurah sepenuhnya kepada Allah SWT semata. Tidak ada ruang untuk memamerkan pencapaian spiritual kepada sesama manusia.
Pesan yang disampaikan oleh Gus Baha ini sekaligus menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa bersyukur atas tuntunan yang telah diberikan. Ajaran Islam dirancang agar sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki keterbatasan. Dengan demikian, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kedekatan dengan Sang Pencipta.
Pada akhirnya, pemahaman mengenai sifat realistis Kanjeng Nabi ini mengembalikan orientasi ibadah kepada tempat yang benar. Salat dan sujud bukan sekadar rutinitas harian, melainkan sebuah bentuk kenikmatan batin yang menenangkan jiwa. Umat Islam diajak untuk menikmati setiap detik hubungan yang indah dengan Tuhan melalui cara-cara yang telah diajarkan.
Sumber: Instagram







