TERBARU
Quote

Gus Baha: Kenapa Kita Sulit Mencintai Allah SWT?

Gus Baha memberikan sentilan logika tajam tentang mengapa manusia mudah mencintai sesama manusia yang berjasa, tetapi sering lupa mencintai Allah.
6 dibaca0 dibagikan3 menit baca
Ilustrasi pengajian dan nasihat keislaman tentang kerendahan hati
Foto: Najwa Shihab · CC BY 3.0

Secara fitrah, hati manusia akan otomatis merasa segan, hormat, serta cinta kepada seseorang yang pernah memberikan pertolongan di masa-masa sulit. Respons batin semacam ini merupakan bagian dari watak dasar manusia dalam merespons kebaikan sesama. Namun, ulama ahli tafsir Al-Qur’an asal Rembang, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, memberikan sebuah sentilan logika yang sangat tajam.

Sentilan tersebut berkaitan dengan bagaimana manusia kerap salah menempatkan prioritas rasa cinta dan juga rasa syukur dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam sebuah pesan yang mendalam, beliau mengungkapkan sebuah realitas yang sering kali terabaikan oleh batin kita. Pesan tersebut berbunyi bahwa kita begitu mudah mencintai orang yang berjasa dalam hidup, tetapi mengapa tidak mudah mencintai Allah yang jasa-jasanya sangat besar.

Pesan ini sejatinya membongkar sebuah kelemahan yang cukup fatal dari kacamata spiritual manusia. Dalam keseharian, manusia begitu mudah merasa berterima kasih serta merasa berutang budi kepada pihak-pihak tertentu di sekitarnya. Kita merasa berhutang budi kepada atasan yang memberikan gaji, kepada dokter yang merawat saat jatuh sakit, ataupun kepada teman yang bersedia meminjamkan uang.

Namun, di balik semua kebaikan sesama manusia itu, kita sering kali menjadi buta dan lupa untuk mencintai Allah. Padahal, Allah SWT adalah pihak yang sejatinya menitipkan rezeki tersebut lewat perantara sang atasan. Allah pula yang memberikan keahlian kepada sang dokter serta menggerakkan hati seorang teman untuk datang menolong.

Jasa-jasa Allah kepada setiap hamba-Nya terwujud dalam bentuk yang sangat luas dan tidak pernah putus setiap detiknya. Mulai dari udara segar yang dihirup untuk bernapas, detak jantung yang tidak pernah mengambil libur, hingga kesehatan yang beroperasi tanpa henti. Semua fasilitas kehidupan ini diberikan secara cuma-cuma tanpa pernah Dia tagih bayarannya sedikit pun.

Kesadaran akan luasnya karunia dan jasa Sang Pencipta seharusnya mampu menumbuhkan rasa malu di dalam batin manusia. Terutama jika kita masih saja merasa berat untuk sekadar bersujud, memperbanyak syukur, serta menumbuhkan rasa cinta atau mahabbah kepada-Nya. Logika spiritual yang lurus seharusnya menempatkan kecintaan kepada Sang Pemilik Segala asalnya di posisi yang paling utama.

Renungan ini mengajak setiap individu untuk menata kembali cara pandang dalam beragama secara lebih jernih. Ketika mendapatkan pertolongan dari sesama manusia, pandangan mata hati seharusnya tidak berhenti pada sosok manusia tersebut. Manusia hanyalah perantara atau jalan kebaikan, sementara sumber segala kebaikan yang hakiki tetaplah berasal dari Allah SWT.

Refleksi mendalam ini menjadi pengingat penting agar kita tidak terjebak pada kecintaan yang bersifat parsial atau terputus dari Sang Maha Pemberi. Dengan memahami logika spiritual yang disampaikan oleh ulama asal Rembang tersebut, diharapkan kesadaran batin kita semakin terlatih. Kita bisa lebih peka mengenali campur tangan Sang Pencipta di balik setiap peristiwa kecil maupun besar dalam keseharian.

Pada akhirnya, pemahaman ini menuntut kita untuk mengevaluasi kembali prioritas hati dalam mencintai. Sudah sewajarnya jika cinta tertinggi diberikan kepada Zat yang telah memberikan kehidupan beserta seluruh kelengkapannya tanpa batas. Menyadari hal ini akan membawa ketenangan serta ketulusan yang lebih besar dalam menjalani ibadah dan kehidupan sehari-hari.

Foto: Najwa Shihab · CC BY 3.0 · Sumber gambar

Sumber: Instagram