TERBARU
Quote

Gus Baha: Bahagia Paling Gampang Itu Lewat Guyon

Gus Baha mengingatkan bahwa kebahagiaan paling gampang dan murah adalah lewat guyon, bukan menunggu kaya atau punya barang mewah.
10 dibaca0 dibagikan3 menit baca
Ilustrasi kutipan dawuh ulama tentang kebahagiaan sederhana
Foto: Imam Nawawi; Hamzah Sahal · CC0

Sering kali kita mematok syarat yang terlalu tinggi untuk bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup sehari-hari. Kita kerap menunda senyuman sampai target besar tercapai, menunggu tabungan penuh, atau menanti bisa memiliki barang-barang mewah. Kebiasaan menaruh standar yang rumit ini membuat hari-hari terasa lebih berat dari yang seharusnya. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal yang sangat dekat dan sederhana di sekitar kita.

Dawuh Gus Baha seakan menyentil kebiasaan kita yang kerap menyusahkan diri sendiri dalam mencari ketenangan batin. Beliau mengingatkan bahwa wujud kebahagiaan yang paling sederhana, tulus, dan mudah didapat adalah melalui guyon atau bercanda. Ungkapan sederhana ini mengandung makna mendalam mengenai cara pandang kita dalam menjalani anugerah kehidupan. Ketika kita mampu menertawakan lelah dengan sewajarnya, hidup tidak lagi terasa sebagai beban yang menakutkan.

Melalui pesannya, Gus Baha menyampaikan bahwa kebahagiaan yang instan dan murah meriah sebenarnya selalu tersedia di dekat kita. Beliau bertutur bahwa kebahagiaan paling gampang itu ekspresinya ya guyon. Menunggu punya Alphard dulu tentu akan membuat hidup menjadi repot. Menunggu punya uang banyak terlebih dahulu juga pasti akan mendatangkan kerumitan tersendiri. Sebaliknya, jika hanya sekadar guyon, tentu sifatnya sangat murah dan mudah dijangkau oleh siapapun.

Pandangan tersebut mengajak setiap orang untuk merenungkan kembali arti penting sebuah kesederhanaan dalam hidup. Sering kali manusia terjebak dalam ambisi materi yang tidak ada habisnya demi meraih kepuasan semu. Padahal, harta melimpah seperti mobil mewah atau uang berlimpah bukanlah satu-satunya tiket untuk bisa tersenyum. Menunda bahagia hingga tercapainya kemapanan finansial justru menjebak diri dalam kelelahan mental yang berkepanjangan.

Jika kebahagiaan terus digantungkan pada kepemilikan harta yang berlimpah, maka perjalanan hidup ini akan terasa sangat berat. Setiap hari dipenuhi dengan kekhawatiran tentang apa yang belum tercapai dan apa yang belum dimiliki. Beban pikiran semacam ini pada akhirnya justru menjauhkan seseorang dari ketenangan batin yang dicari. Padahal, ketenangan jiwa bisa didapatkan secara gratis tanpa harus menunggu rekening menjadi gendut terlebih dahulu.

Sebaliknya, kemampuan untuk melihat sisi jenaka dari hal-hal kecil di sekitar kita adalah sebuah anugerah tersendiri. Mensyukuri kebersamaan dengan orang-orang terdekat serta bertukar canda ringan mampu mencairkan suasana yang penat. Melalui interaksi yang hangat tersebut, kita sebenarnya sudah mendapatkan kebahagiaan yang tidak ternilai harganya. Suasana cair yang tercipta dari gelak tawa mampu mengusir penat setelah seharian bergelut dengan rutinitas.

Kebahagiaan ternyata memang tidak perlu dibeli dengan harga mahal atau menunggu sampai diri kita menjadi kaya raya. Ia adalah sebuah keputusan sadar untuk senantiasa bersyukur dan melapangkan dada dalam menghadapi hari ini. Ketika hati sudah merasa lapang, hal-hal sederhana pun akan terasa sangat menyenangkan untuk dinikmati. Tidak ada lagi perasaan tertekan karena tuntutan standar hidup yang muluk-muluk dan melelahkan.

Pesan bijak ini sekaligus menjadi pengingat agar kita tidak lupa untuk meluangkan waktu tertawa bersama orang terdekat. Guyon terbukti bukan sekadar pelarian, melainkan cara yang murah, merdeka, dan menenangkan jiwa. Di tengah dunia yang menuntut keseriusan tinggi, kemampuan untuk tertawa lepas adalah bentuk kebebasan tersendiri. Jiwa yang tenang akan lebih mudah mensyukuri sekecil apa pun nikmat yang sedang diberikan.

Refleksi dari dawuh tersebut mengajarkan pentingnya menata ulang prioritas dalam mencari ketenangan hidup sehari-hari. Alih-alih mengejar kemewahan yang melelahkan, menikmati momen kekinian jauh lebih menenteramkan hati. Kebersamaan yang diwarnai canda tawa terbukti mampu meringankan beban pikiran yang menumpuk. Inilah bentuk kekayaan rohani yang bisa dirasakan oleh siapa saja tanpa pandang bulu.

Pada akhirnya, kesadaran ini mengembalikan kita pada hakikat hidup yang lebih membumi dan apa adanya. Bahagia itu dekat, tidak rumit, dan sepenuhnya berada dalam kendali diri untuk mau mensyukurinya. Mari terus merawat kewarasan dan kehangatan batin melalui interaksi yang tulus dan penuh canda. Sebab hidup yang bahagia dimulai dari kemampuan menertawakan kesulitan dengan senyuman yang ikhlas.

Foto: Imam Nawawi; Hamzah Sahal · CC0 · Sumber gambar

Sumber: Instagram