Opini  

Etika dan Birokratisasi Santri di Era Digitalisasi


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Abdul Majid Ramdhani

Meng-Upgrade pola anti-radikalisme melalui gebrakan-gebrakan tentang modernisasi di era digitalisasi mesti dibarengi dengan inovasi teknologi yang berkesesuaian dengan kode etik berdakwah.

Kemajemukan agama di Indonesia, Al-Qur’an telah menggariskan, dakwah yang ideal dengan menggunakan hikmah kebijaksanaan dan kearifan termasuk dengan ilmu pengetahuan, dengan pendekatan kemanusiaan itu sendiri. Karena dakwah itu untuk manusia.

“Di ranah sosial media kita jaga agama kita, kita jaga agama mereka.”

Lantas, kerukunan antar umat beragama akhir-akhir ini kok seperti menghadapi tantangan?. Adakah ini merupakan implikasi dari kejumudan pemikiran dalam tradisi intelektual pesantren. Bagaimana jika dibandingkan dengan gerakan intelektual di luar pesantren?.

Lalu bagaimana, penerapan ushul fiqh dalam kehidupan bermasyarakat oleh para ulama tampaknya tidak ada perkembangannya di era literasi digitalisasi masa kini?. Pertanyaan-pertanyaan itu masih belum saya temukan korelasinya di era milenial yang merupakan keberlanjutan dari era global tentu menimbulkan tantangan-tantangan baru yang membuat para pakar menawarkan gagasan serta pemikiran dari kaum intelektual.

Berbicara mengenai peradaban Islam tentu merupakan sebuah topik yang menarik dalam khazanah pemikiran Islam, apalagi dalam lingkup nasional maupun internasional. Dalam perkembangannya, semakin maju teknologinya, maka dunia semakin menjadi modern, maka permasalahan kaum urban pun semakin kompleks.

Banyak kita lihat fenomena yang diluar sana, termasuk di media sosial yang mengatasnamakan tindakannya itu dibawah naungan Islam. Namun, hal ini perlu diwaspadai karena banyak kelompok yang mengatasnamakan dirinya Islam akan tetapi sesungguhnya apa yang dilakukan justru merusak citra Islam itu sendiri dimata orang lain atau publik.

Dengan mengembangkan gerakan kultural khas ‘kaum sarungan’ (orang-orang pesantren) yang menitikberatkan pada gerakan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai cara demi memperkuat persatuan Ukhuwah Islamiyah.

Menjaga kerukunan antar umat beragama itu dianjurkan dalam Islam. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (QS Al Hujuraat:31).

Birokratisasi Santri di tengah lingkungan Muslim urban pada dewasa kini serta sengit-nya pertarungan ideologi dan narasi yang kian mendominasi platformplatform telah membuka jalur baru bagi perjuangan umat Islam, khususnya generasi milenial dalam berperan di era kemajuan peradaban global.

Kita semua telah ditinggali khazanah warisan yang luar biasa penting, terkait dengan pembaharuan pemikiran Islam dari para ulama pendahulu kita. Kemudian paradigma “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah.” (Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.) dapat diaplikasikan ke dalam ruang-ruang pemikiran dan pergerakan para kaum muda NU millenial. Karena sudah momentumnya ‘kaum sarungan’  merumuskan peradaban kebangsaan Indonesia dari sudut pandang pesantren. Faktanya, hingga kini masih banyak tradisi-tradisi pesantren yang terawat baik dalam memelihara kesinambungan semangat kebangsaan kita. “Santri haruslah berani berperan bukan baperan.”

Hal ini pula (mungkin) menjadi landasan beliau “Gus Yaqut” (Ketua Umum PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas), Mas Menteri Agama kita dalam menunjukkan sikap terbukanya terhadap kemajuan teknologi, beliau mendukung penuh “membangun” Kantor virtual metaverse salah satu komitmen Ansor yang terus bergerak tanpa batas, pada Senin, (25/4).

Saat acara puncak peringatan Harlah ke-88 GP Ansor yang bertema “Berkhidmat Tanpa Batas.” GP Ansor merintis Kantor Ormas Pemuda di Metaverse Kantor virtual metaverse salah satu komitmen Ansor. Gerakan Pemuda (GP) Ansor tak henti membuat terobosan berorganisasi lewat pemanfaatan kemajuan teknologi terkini. GP Ansor resmi membuka kantor kepengurusan secara virtual. Peluncuran kantor virtual ini digelar pada tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-88 GP Ansor yang berlangsung di Kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Sabtu Malam, (24/4).

“Dengan Ansorverse (Ansor Metaverse) maka model berorganisasi Ansor akan lebih efisiensi dan tentu konsolidasi, juga pengkaderan dapat lebih optimal dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat di era yang serba virtual ini dan diharapkan seluruh kader Ansor responsif dengan dinamika zaman.” tandas Ketua Umum PP GP Ansor, Gus Yaqut sapaan akrabnya.

“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 5787).

 

Tangerang Selatan, 25 April 2022.

Abdul Majid Ramdhani, lahir di Jakarta, 05 Mei 1989. Penulis merupakan lulusan Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok dan melanjutkan mondoknya di Pesantren Al-qur’an Syihabudin Bin Ma’mun, Caringin Banten. Bagi diri penulis, “Menulis itu bisa menjadikanmu optimis, romantis & humanis”.

Baca Juga  Kita Tidak Akan Pernah Mencintai Indonesia dengan Tulus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *