Opini  

Ziarah Kubur Guru Mansur Menjadi Unsur Tradisi Budaya Betawi


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/dawuhgur/domains/dawuhguru.co.id/public_html/wp-content/themes/wpberita/template-parts/content-single.php on line 98

Oleh: Abdul Majid Ramdhani

Masyarakat betawi memang cenderung senang berziarah kubur. Mereka mengunjungi makam-makam para alim ulama, para wali, para habaib, yang dianggap mempunyai karomah. Mereka berziarah kubur pada bulan-bulan tertentu, seperti bulan Muharram, Rajab, Sya’ban, dan Syawal. Juga pada hari-hari tertentu, seperti hari Jum’at. Cara berziarah kubur dilakukan secara individu, atau rombongan, dan hal-hal yang dibaca adalah Surat Yasiin dan Tahlil, Rattib, Shalawat, dan berdoa sebagai tawasulan kepada si ahli kubur.

Kata “Tradisi” itu sendiri mempunyai banyak makna dipandang dari berbagai macam aspek ilmu kemasyarakatan. Salah satu dari makna tradisi adalah suatu kebiasaan yang turun temurun dalam sebuah masyarakat tertentu.

Sebagaimana tradisi Ngored dalam masyarakat Betawi, yang diartikan sebagai kegiatan berziarah kubur. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada waktu-waktu tertentu dan bertujuan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.

Guru Mansur di semasa hidupnya beliau telah menulis 19 kitab kitab berbahasa Arab di bidang keilmuan ilmu falak.

Semasa mudanya, Guru Mansur sudah sangat tertarik sekali dengan ilmu falak. Setelah menginjak usia remaja, pada usia 16 tahun, tepatnya pada tahun 1894 M, ia bersama ibunya pergi ke Makkah, Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji. Ia bermukim di Makkah selama empat tahun.

Selama bermukim di Makkah, ia berguru kepada sejumlah ulama, antara lain kepada Guru Muchtar, Guru Mujidin, Syekh Muhammad Hajath, Sayid Muhammad Hamid, Syekh Sa`id Jamami, Umar Al-Hadramy, Syekh Umar Sumbawa, dan Syekh Ali Al-Mukri.

Guru Mansur Jembatan Lima, Jakarta Pusat dikenal sebagai ahli falak yang mumpuni. Kepiawaiannya dalam menyebarkan ajaran Agama Islam khususnya Ilmu Falak, hal itulah yang menjadikan salah satu murid Guru Mansur dari Betawi ; Mu`allim Rojiun Pekojan, KH Firdaus (mendalami ilmu falak darinya dan kemudian diangkat menjadi mantu), Syekh KH Muhadjirin Amsar Ad-Dary (ahli falak dari Bekasi), Mu`allim Rasyid (KH Abdul Rasyid, Tugu Selatan, Jakarta Utara), Muallim KH M. Syafi`i Hadzami, dan KH. Abdul Khoir (Krendang, Jakarta Barat).

Baca Juga  Gus Iqdam: Jangan Pernah Merasa Rendah Diri

Mansur kelahiran Kampung Sawah Jembatan Lima, Jakarta pada 1878 adalah putra dari pasangan KH Abdul Hamid dan Hj. Rofiah. Sebagai anak ulama, sejak kecil Guru Mansur dididik ketat ilmu agama. Kemudian beliau nyantri kepada saudaranya (Kiai Mahbub bin Abdul Hamid) dan kakak misannya yang bernama (Kiai Thabrani bin Abdul Mughni.) Tercatat pula pernah juga nyantri kepada Syekh Mujtaba Mester (Guru Taba) dan Sayyid Usman seorang Mufti Betawi ternama.

Guru Mansur wafat pada Hari Jum’at, 2 Safar 1387 H bertepatan dengan tanggal 12 Mei 1967. Beliau dimakamkan di area kompleks Masjid Al-Mansur, Masjid yang berusia ratusan tahun itu menjadi saksi tentang bagaimana keberanian Guru Mansur untuk menunjukkan cinta tanah airnya dengan mengibarkan bendera Merah Putih yang di kala itu pengibaran bendera Merah Putih dilarang oleh pihak pemerintah Belanda.

31 Maret 2022. (Abdul Majid Ramdhani, penulis lulusan Program Studi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) STAI INDONESIA JAKARTA.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *