“Selama panjenengan yang muda-muda siap ngaji dengan yang sepuh-sepuh,insyaallah indonesia akan makmur”Gus Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar – Ploso Kediri
Indonesia adalah negeri dengan kekayaan budaya dan tradisi yang luar biasa. Salah satu kekuatan terbesar bangsa ini adalah semangat gotong royong dan kebersamaan. Dalam konteks ini, pernyataan diatas mengandung makna mendalam tentang pentingnya sinergi antara generasi muda dan generasi tua dalam membangun bangsa.
Ngaji, dalam pengertian yang lebih luas, bukan hanya berarti belajar membaca Al-Quran, tetapi juga belajar dan mengambil hikmah dari pengalaman hidup. Generasi muda yang bersedia belajar dari generasi tua akan mendapatkan banyak ilmu dan kebijaksanaan yang tak ternilai. Mereka akan memahami nilai-nilai luhur, sejarah, dan tradisi yang menjadi fondasi bangsa. Sebaliknya, generasi tua yang bersedia membimbing dan berbagi pengetahuan dengan generasi muda akan memastikan bahwa warisan budaya dan nilai-nilai moral terjaga dengan baik.
Proses belajar antara generasi muda dan sepuh ini merupakan salah satu bentuk nyata dari transfer pengetahuan. Dalam masyarakat tradisional, ilmu dan pengalaman sering kali diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Generasi muda yang siap mendengar dan belajar dari generasi tua akan mendapatkan banyak pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan dari buku atau media modern. Mereka akan belajar tentang cara hidup, etika, dan moral yang telah terbukti menjaga harmoni dalam masyarakat selama berabad-abad.
Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia, pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” Dalam konteks ini, generasi tua adalah para pahlawan yang telah berjuang dan bekerja keras untuk membangun negeri ini. Menghormati mereka berarti siap mendengar dan belajar dari mereka. Mengambil hikmah dari pengalaman dan kebijaksanaan mereka adalah bentuk penghormatan yang nyata.
Generasi muda memiliki semangat dan energi yang melimpah. Mereka sering kali penuh dengan ide-ide baru dan inovatif. Namun, tanpa bimbingan dan arahan dari generasi tua, semangat ini bisa menjadi tidak terarah. Generasi tua memiliki pengalaman dan kebijaksanaan yang bisa memberikan panduan bagi generasi muda. Kombinasi antara semangat muda dan kebijaksanaan tua inilah yang dapat menciptakan kemakmuran bagi bangsa.
Selain itu, penting bagi generasi muda untuk memahami konteks sejarah dan budaya bangsa. Dengan memahami masa lalu, mereka bisa mengambil pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik. Generasi tua memiliki cerita dan pengalaman yang dapat menjadi sumber inspirasi dan pelajaran berharga. Belajar dari sejarah membantu kita menghindari kesalahan yang sama dan mengambil keputusan yang lebih bijak di masa depan.

Presiden Indonesia ketiga, B.J. Habibie, pernah menyatakan, “Tanpa disertai iman dan takwa, maka ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membawa malapetaka bagi umat manusia.” Ini menunjukkan betapa pentingnya nilai-nilai moral dan spiritual dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi tua, dengan pengalaman hidup dan kebijaksanaan mereka, dapat membantu menanamkan nilai-nilai ini dalam generasi muda, sehingga perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk kebaikan dan kemakmuran bangsa.
Proses ngaji atau belajar dari yang sepuh-sepuh juga memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat. Interaksi yang baik antara generasi muda dan tua menciptakan rasa saling menghormati dan menghargai. Ini membantu menciptakan masyarakat yang harmonis dan solid. Ketika generasi muda dan tua saling berinteraksi dengan baik, mereka akan lebih mudah bekerja sama dalam membangun bangsa. Gotong royong, yang merupakan salah satu nilai dasar dalam masyarakat Indonesia, akan terwujud dengan lebih baik.
Selain itu, generasi muda yang siap belajar dari generasi tua akan lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai adat dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Ini penting untuk menjaga identitas budaya bangsa di tengah arus globalisasi. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi bangsa yang maju dalam teknologi dan ekonomi, tetapi juga tetap teguh dalam nilai-nilai budaya dan moral yang luhur.
Kemakmuran suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari kualitas moral dan spiritual masyarakatnya. Generasi muda yang dibimbing oleh generasi tua akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas dan inovatif, tetapi juga memiliki integritas dan nilai-nilai moral yang kuat. Ini adalah modal utama untuk membangun bangsa yang maju dan sejahtera.
Ketika generasi muda siap ngaji dengan yang sepuh-sepuh, mereka akan belajar tentang pentingnya kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong. Nilai-nilai ini adalah fondasi dari masyarakat yang makmur dan sejahtera. Generasi tua, dengan segala pengalaman hidup mereka, memiliki banyak pelajaran berharga yang dapat mereka bagikan kepada generasi muda. Ketika generasi muda menghargai dan menerapkan nilai-nilai ini, mereka akan lebih mudah menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan.
Selain itu, proses belajar ini juga memperkuat rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Generasi muda yang memahami sejarah dan nilai-nilai luhur bangsa akan lebih cinta dan bangga terhadap negaranya. Mereka akan lebih termotivasi untuk bekerja keras dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Artinya, di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Generasi tua dapat menjadi teladan dan pemberi semangat bagi generasi muda, sedangkan generasi muda dapat menjadi penerus yang membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Pada akhirnya, kemakmuran bangsa bukanlah hasil dari kerja keras satu generasi saja, tetapi hasil dari kerja sama dan sinergi antara berbagai generasi. Ketika generasi muda siap belajar dari generasi tua, mereka tidak hanya mendapatkan ilmu dan kebijaksanaan, tetapi juga membangun ikatan yang kuat dalam masyarakat. Ini adalah fondasi yang kokoh untuk membangun bangsa yang makmur dan sejahtera.
Dalam konteks modern, penting juga untuk memanfaatkan teknologi dan media sosial sebagai alat untuk memperkuat komunikasi dan interaksi antara generasi. Generasi muda yang akrab dengan teknologi dapat membantu generasi tua untuk memahami dan memanfaatkan teknologi, sementara generasi tua dapat berbagi pengalaman dan kebijaksanaan mereka melalui platform digital. Ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dan memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat.
Dalam kesimpulannya, pernyataan “Selama panjenengan yang muda-muda siap ngaji dengan yang sepuh-sepuh, insyaallah Indonesia akan makmur” mengandung pesan yang sangat relevan dan penting bagi kita semua. Sinergi antara generasi muda dan tua adalah kunci untuk mencapai kemakmuran bangsa. Dengan belajar dari generasi tua, generasi muda tidak hanya mendapatkan ilmu dan kebijaksanaan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai moral dan budaya yang menjadi fondasi bangsa. Ketika generasi muda dan tua saling berinteraksi dan bekerja sama dengan baik, kita akan mampu membangun Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera.
